Singkong, Talas dan Pecel
Ada satu idiom makan dari orang Indonesia yang kadang bikin tergelak. " Kalau tak makan nasi disebut belum makan. Walau sudah menyantap lima potong singkong rebus plus selusin combro tidak disebut sudah makan. Makan berarti menyantap nasi berikut lauk-pauknya"

Tidak tahu asal-usulnya yang jelas kita adalah bangsa yang tergila-gila pada nasi. Ribuan menu lezat yang dihasilakan dapur senusantara dan tetap digali keragamanannya sampai sekarang hanya bertujuan untuk makan nasi. Rendang Padang yang diakui sebagai makanan terlezat nomor tiga di dunia tak ada arti tanpa nasi. Bahkan tak ada pesta yang berlangsung tanpa kehadiran nasi. Begitu anak-anak membutuhkan makanan padat, maka nasi adalah pilihan pertama untuk diperkenalkan.

Bahkan yang disebut lumbung pangan disini berarti simpanan atau stock beras atau padi. Kesejahteraan kita ditandai  oleh ketercukupan produksi beras. Coba deh sesekali Bulog iseng, bikin pengumuman bahwa persediaan beras hanya cukup untuk sebulan. Berani taruhan Indonesia pasti langsung chaos, mengalahkan keributan soal kenaikan BBM seperti sekarang.

Padahal  nasi hanya sebagai sumber karbohidrat. Memberi tenaga tanpa terlalu banyak vitamin lain. Cuma entah kenapa beras ditinggikan statusnya sedemikian rupa sehingga kalau tak makan nasinya kita merasa jadi orang miskin. Coba baca gimana pahitnya kisah para pemakan tiwul dalam potret acara makan bangsa kita. Begitu pula yang memakan nasi jagung, mereka adalah petani gurem, gagal panen, atau mereka yang tak sanggup membeli beras.

Banyak kekeliruan dalam bangsa kita. Entah ini bodoh atau pintar saya serahkan kepada yang menilai. Tapi coba bayangkan orang Papua yang  ribuan tahun diajarkan nenek moyang  makan sagu sekarang beralih ke beras. Ribuan hektar lahan Papua yang cocok ditanami sagu beralih fungsi jadi sawah. Mending kalau hasil bagus. Sekarang kita sering mendengar disana sering  krisis pangan. Krisis pangan berarti langkanya beras untuk dibuat nasi.

Jadi kawans, mengapa harus nasi?

Posisi sebagai negara dua musim membuat Indonesia ini begitu kaya oleh berbagai sumber makanan.  Kita tak mesti makan nasi baru disebut sudah makan. Singkong, ubi rambat, dan talas bisa tumbuh hampir diseluruh tanah air. Mengapa tidak mencoba ketiga umbia-umbian ini  sebagai pengganti nasi? Saya sudah coba beberapa kali. Singkong dan talas rebus enak lho dimakan dengan pecel plus tempe goreng.Enak pula dikuahi lodeh dan sayur asem. Coba deh!

Disamping itu diabetes adalah salah satu penyakit yang dipicu oleh makanan kaya karbohidrat seperti nasi dan tepung terigu. Angka penderita diabetes di Indonesia bertambah saja dari tahun ke tahun. Agar terhindar dari penyakit tersebut ada baiknya kita mulai mengurangi makan nasi. Diganti makanan lain seperti umbi-umbian dan sayur mayur.

Pengalihan pola makan disamping mengurangi beban devisa dengan tidak perlu impor beras, keragaman makanan adalah satu cara menghidupkan kembali semangat bertani bangsa Indonesia.

Bagaimana pendapat teman-teman sekalian? Pernah mengganti nasi dengan tiwul, jagung, singkong, talas atau dengan sumber makanan lain?

Post a Comment

  1. Alhamdulillah saya sering makan ubi, singkong :D

    ReplyDelete
  2. tapi memang iya sih, kayanya kalau makan yg lain gampang laper lagi, :D bisa jadi sugesti sih.. salam kenal sama webe and follow :)

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah di desa saya dudah mulai diberdayakan singkong untuk makanan pokok..

    ReplyDelete
  4. wah, keren. Bunda Evi slalu memberikan perspektif baru :D
    umbi-umbian memang terlihat sepele dan banyak di Indonesia, tapi di kota-kota besar jarang (ada tapi sedikit) ditemukan singkong yang melimpah..

    ReplyDelete
  5. Singkong keju singkong keju... 500 rupiahan anget2 sapa mau beli, di kasih ess nangka ajib tuh bunda evi :D

    ReplyDelete
  6. hehehe...aye biasenye cuma makan mie rebus buat peganti nasi.

    ReplyDelete
  7. makan singkong, ketela rambat, jagung, sering. tapi teteeeeeeeeep, judulnya cuman ngemil :p

    ReplyDelete
  8. karena selama ini makan nasi terus malah jadikangen deh sama singkong, kadang sengaja beli gethuk di pasar...

    emang sih belinya buat ngobatin kangen aja bukan sebagai makanan pokok

    ReplyDelete
  9. Sesekali dicoba makan dengan sayur Mas, gak cuma sebagai snack, tapi jadi makanan pokok :)

    ReplyDelete
  10. Itu pasti sugesti Mbak NF..Yang bikin gampang lapar karena karbohidrat cepat jadi gula dalam tubuh. Tapi kalau karbo dicampur makanan berserat dan berprotein, kenyang lebih lama, karena tubuh perlu waktu memecahnya jadi kalori or energi. Jadi kalaupun makan singkong, atau talas atau ubi, sepanjang di makan dengan sayur berserat atau berportein, fungsinya sama dengan nasi :)

    ReplyDelete
  11. Waduh senang membacanya Mas Dadan. Hebat tuh! Kampungnya dimana sih Mas?

    Biar kita gak teriak kehabisan beras terus, atau harganya meroket, mari ramai-ramai memanfaatkan sejumput tanah di halaman untuk ditanami singkong..Lumyan tambahan dan menghemat pengeluaran keluarga :)

    ReplyDelete
  12. Karena di kota lahan untuk menanamnya juga tak ada Mas Ari. Mau tak mau kota masih mengandalkan impor umbi2an dari desa..Umbi2an, karena mengandung kalori tinggi, paling tepat untuk mengganti nasi Mas :)

    ReplyDelete
  13. Singkong keju pakai es nangka? Sedap! Harga gopek boleh cuba hahaha...

    ReplyDelete
  14. Mie itu terbuat dari terigu. Sementara 80% terigu kita masih impor. Jadi kalau makan mie, belum berpihak pada sistem pertanian lokal bro :)

    ReplyDelete
  15. Iya Mbak, disini kesalahan kita..Meletakan umbi2an tersebut sebagai makanan selingan, bukan pokok :)

    ReplyDelete
  16. Iya mas, pola makan kita sekarang kan cuma meneruskan pola makan yang diwariskan kepada kita. Kalau nenek moyang kita menganggap singkong sebagai makanan selingan, kita juga beranggapan demikian. Namun generasi Mas Huda yang lebih muda bisa melakukan seseuatu, membelokan kebiasaan, lalu membuatnya jadi biasa. Seperti sesekali meletakan singkong sebagai makanan pokok, gak melulu nasi :)

    ReplyDelete
  17. dari judul emang udah bisa terjawab sih. Gak makan nasi jelas gak bikin orang mati. lain halnya kalau gak makan org gak akan mati hehehhee..!
    nice article

    ReplyDelete
  18. alhamdulillah, saya sanggup kok gak makan nasi. Yang penting makan. Karedok ada tanpa lontong pun, santap. Soto bening campur soun+toge, ya dimakan. Sayuran campur thousand island ya dihajar :D apa aja. yang penting makan hehehe ...

    ReplyDelete
  19. ada yg bilang belum nendang kalau belum makan nasi :) saya bisa tidak makan nasi tapi disore harus makan nasi kalau gak lemes hehehe

    ReplyDelete
  20. udah prnh nyoba mengganti nasi dg makanan lain,tp ga ngefek, tetap lapar ....dan ahirnya dobel2 makannya dan akhirnya berdampak bagi tubuh dan akhirnya melotot sang suami dan terakhir ga muat lagi baju2nya hihihi

    ReplyDelete
  21. Saya masih senang makan nasi mbak, tapi kalau makan malam suka juga makan kentang godok sama omelet saja.
    Waktu di Denhaag juga nyari warung nasi, untungnya ada nasi goreng dan nasi kuning walaupun harganya 4 Euro-sak ciprit.
    Salam

    ReplyDelete
  22. saya termasuk yang lebih memilih nasi ketimbang menu lainnya saat menghadiri undangan pesta. Memang tak makan nasi tak serta merta membuat kita mati, tapi perut ini terlanjur akrab dengan nasi. :)

    ReplyDelete
  23. Tapi emang ada sebagian orang kalau gak makan orang pasti mati lho Bung :)

    ReplyDelete
  24. Nah kayak gini yang bagus Mbak Nique..Makanan yg bervariasi juga baik bagi kesehatan. Ngapainlah ngotot makan nasi, kalau makanan lain juga mengenyangkan dan sehat bagi tubuh :)

    ReplyDelete
  25. Walau sore masih butuh nasi, namun sudah langkah yang baik kalau di jam makan lainnya, tak menyantap nasi Jeng Lid :)

    ReplyDelete
  26. Hahaha..Ini cara makan orang Indonesia ya Mbak...Semoga kapan2 tanpa nasi lebih tahan agar tak ngemil ya...

    ReplyDelete
  27. Kalau harga nasi segitu mahal, mending emang cari pecel ya Pakde..Sayang saja Denhaag..jarang produksi pecel hahahaha...

    ReplyDelete
  28. Yang beginian di maklumi Mas..Kan kita cuma meneruskan kebisaan nenek moyang saja. Cuman kalau kepesta makan nasi, keburu kenyang dong. Padahal di pesta biasanya banyak jenis hidangan yg bisa kita cicipi. Dikit-dikit lama-lama jadi bukit :)

    ReplyDelete
  29. sulit memang Vi utk mengganti kebiasaan yg sudah turun temurun sekian abad ........
    namun, pd akhirnya toh banyak orang sekarang yg berpindah kelain hati setelah tau, kenyang itu gak melulu krn nasi, nikmat sehat lebih membahagiakan drpd hanya sekedar menuruti selera
    salam

    ReplyDelete
  30. setujuuuu banget.

    walo sy blm sepenuhnya bebas dr ketergantungan nasi.. tp sy sdh sedikit mengurangi. misal klo mlm sy n suami sudah jarang mkn nasi. kami mengganti dg sayur, buah atau umbi2an. itung2 sekalian diet.hihi

    klo anak sy lg g mau mkn sy jg mengganti nasi dg kentang, ubi atau singkong. kebetulan anak doyan bgt sm umbi2an. hehe

    ReplyDelete


Powered by Blogger.