Articles by "Parenting"

#5TahunWB #5TahunWB: Photo Quotes Contest #7TahunWB #8TahunWB #HappyBlogging #Menu7uhWBLebihBaik #MubesWB 4 Tahun Ultah WB 7 Tahun Warung Blogger 79 Tahun Sinar Mas untuk Indonesia 90an Access Trade Advertorial Afiliasi Anak ANDA SEORANG INTERNET TROLL? Anniversary aplikasi musik artikel WB Ayah Bahasa Bangkit dari Kehilangan Orang Tua Bedah Buku belanja online Bermain Kata Kunci Bintang 14 Hari blibli Blog competition Bloger di Masa Depan Blogging Budaya Buku Cara Bergabung Catatan Ringan Cerpen Charity Cheria Halal Holiday competition Copy Paste Crowdo Digital Millennium Copyright Act DMCA EBI Emak Gaoel Vlog Competition Ensiklopedia Eva Sri Rahayu Event WB EYD Facebook WB Fakta dan Mitos Fashion & Beauty Festival Prestasi Indonesia UKP-PIP Pancasila Inspirasi Maju Filosofi finansial Gadget Generasi 90an Gerakan PKK Google Google Question Hub Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis di Blog Hari Bloger Nasional Hari Blogger Nasional Hiburan Hikmah Hobi hotel murah di Bali hubungan Imbuhan Indonesiaku Info info lomba InfoWB Inspirasi Involve Asia istri Jakarta Kangen Band Karya Kata Depan di KBBI ke Kelas Bahasa Keluarga Kesehatan keuangan Kiat Menulis Postingan Blog Kompetisi Blog 5 Tahun Warung Blogger Kompetisi Blog 6 Tahun Warung Blogger kompetisi blog langit musik Kompetisi Blog LangitMusik Konsistensi Kontes WB Kopdar Mini Suka-suka Kopdar WB KOPI SUSU WB Kuliner Langit Musik Blog Competition #MusiknyaHidupKamu Langit Musik: Musiknya Hidup Kamu Liburan life Lifestyle Logo Logo Baru Lokasi Lomba Lomba Blog Menu7uh Warung Blogger Lomba Menulis Manfaat Olahraga yang Menakjubkan Media Menulis Motivasi Musik & Film new langit musik Novel Novel Indonesia Oase Olahraga Olahraga & Kesehatan Parade Para Monster Parenting Peduli Kata Kunci Pendidikan pengumuman pemenang Permainan Rakyat Pojok Pojok WB POJOK WB IDOL Positif Self Talk Ramadan relationship Reportase Resensi Buku Resolusi Retweet Review review produk rumah tangga saleduck Sastra Sastra & Seni self help SEO Shell Shell Eco-Marathon Sosial & Budaya suami Subjektif tahun baru Teknologi teman Tidur Tips Belanja Hemat Ala Blogger Tips Blog Tips dan Trik Tips Media Sosial Tomyam kelapa Saung Ibu Trade Expo Indonesia 2017 Travelio Travelling tulisan pilihan Tutorial Blog Twitter Twitter WB Ultah WB Ultah WB ke-6 urun artikel Utees.me Vlog Competition Warga WB Warna Warung Blogger Wisata Writing Writing Competition Zaman Sekarang Telat Untuk Jadi Blogger
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Hari ini tampak sama saja bagi Keisya, ia menjalankan rutinitasnya sebagai anak TK seperti biasa. Tidak ada yang spesial dan hebat. Tetapi bagi ayahnya, hari ini adalah hari yang spesial yang sangat ia tunggu, yakni cuti bekerja. Ya, tentu saja baginya bersama Keisya hari ini adalah spesial. Sayangnya, karena selama ini ayah Keisya sangat sibuk, baginya ayahnya ini ada dan tiada. Ada namun tidak terasa kehadirannya.

Hal ini, tentu saja membuat ayah Keisya sangat sedih. Mendapatkan ijin cuti saja baginya bukanlah hal yang mudah. Padahal, ayah Keisya pun tidak sibuk-sibuk amat, kok. Ia hanya seorang PNS dan kantornya pun tidak jauh dari apartemennya, hanya tinggal menyebrang jalan raya. Namun entah kenapa, ayah Keisya gagal merebut hati Keisya, putri semata wayangnya sehingga kehadirannya tidak lagi di anggap spesial.

Apakah kisah seperti ini sedang anda alami? Apa yang salah dari sang Ayah, padahal sang Ayah sudah pasti ingin sekali merasa di istimewakan oleh sang anak kesayangan. Padahal sang ayah telah meluangkan waktu khusus sebagai tanda cinta, tapi tidak berhasil merebut hati sang anak yang lebih dekat dengan sang ibu.

Seorang ibu, yang entah bagaimana memang seperti sudah dari sononya memiliki kedekatan batin dengan anak meskipun sibuk juga, tentu saja karena kontak batin mereka lebih kental paska 9 bulan dalam kandungan dan masa menyusui yang intim. Dan biasanya juga, Ibu selalu punya lebih banyak waktu bersama anak ketimbang Ayah. Lalu bagaimana merebut hati anak yang usianya masih dalam fase memilih-milih manakah orang yang dirasa sangat mencintainya.

Kali ini, saya akan sedikit berbagi tips untuk merebut hati anak, meskipun Ayah sangat sibuk dan punya waktu sangat sedikit bersama sang anak. 

Sumber gambar: Pixabay.com

 1. Jangan jadikan Ibu sebagai wonder woman
Saking sibuknya Ayah, biasanya lahirlah wanita-wanita mandiri yang bisa melakukan segala hal sendiri ketika suami tidak ada di rumah. Tapi untuk merebut hati anak, jangan jadikan istri anda sebagai wonder woman. Meskipun ia mampu mandiri, buatlah dalam beberapa hal yang terkait dengan anak, biar ayah yang tetap melakukannya sendiri.

Contoh, memperbaiki mainan. Bisa saja seorang Ibu pun pandai memperbaiki mainan, atau mungkin memperbaiki hal sepele di sepeda. Tapi seandainya bisa pun, ada baiknya biar Ayah yang melakukannya. “nanti tunggu ayah memperbaikinya, ya” katakan saja begitu pada anak, dan sementara minta anak bermain yang lain. Tentu saja kemudian anak akan dengan gembira menanti sang ayah memiliki waktu untuknya. Saat itu selesai, tentu anak akan menganggap ayahnya sebagai Hero yang telah ia nantikan. Hal yang sama bisa di terapkan juga untuk aktivitas lain, misalnya membuatkan layangan, bermain bola, atau memandikan hewan kesayangannya. Meskipun Ibu juga bisa melakukannya, biarkan untuk kali ini Ayah menjadi spesial hero bagi anak.

2. Kuasai hal-hal detil
Hal yang menyebalkan atau membosankan bagi anak adalah ketika sang ayah tidak tau banyak hal tentangnya, atau ayah melupakan hal-hal yang sudah ia ceritakan. Meskipun ini wajar karena ayah sangatlah sibuk bekerja, tapi anda bisa berjuang sedikit untuk merebut hati putra-putri anda. Ayah bisa mendapatkan banyak info melalui orang yang banyak bersamanya sepanjang hari dan mengingatnya dengan serius meskipun menurut orang dewasa itu hanyalah hal-hal sepele. Memang butuh waktu/usaha lebih, tapi itu tidak sulit kok.

Misalnya, anak akan takjub ketika ayah tau banyak tentang sahabat anaknya, padahal ayah mengetahuinya dengan bertanya kepada Ibu atau bertanya kepada gurunya. Anak juga akan surprise ketika ayah tiba-tiba bisa mengepang rambutnya dan memasangkan pita, padahal ayah sampai begadang hanya untuk belajar kepada ibu, demi bisa menguncir rambut anaknya. Anak akan sangat bahagia ketika ayahnya tau dengan cepat kegiatan sekolah anaknya hari ini. meskipun untuk itu ayah harus selalu memantau group WA orangtua murid di sekolah anaknya di sela-sela meeting di kantornya.

Hal-hal detil begini, agak ribet, tapi bisa dilakukan dengan mudah jika ayah berusaha sedikit lebih dari yang biasanya. Tapi lihat saja hasilnya, anak akan sangat merasa di perhatikan oleh ayah.

3. Jadikan waktu sangat berkualitas
Tentu saja, tidak selalu waktu yang banyak. Melainkan kualitasnya yang diutamakan. Apa gunanya kalian menemani anak dihari pentingnya jika saat itu ayah sibuk dengan handphonenya. Apa gunanya ayah meluangkan waktu menemani anak jika ayah tidak tau apa mainan kesukaan anaknya. Jadi tidak selalu soal intensitas tapi juga soal seberapa berkualitas waktu yang ayah berikan untuk putra putrinya. 

Misalnya ayah punya waktu hanya hari minggu, jangan habiskan untuk hangout bareng teman-teman. Bertemulah dengan teman-teman dihari lain sepulang kantor atau jika hari minggu pastikan ayah sudah lebih dahulu bersama anak baru kemudian meluangkan waktu untuk bersama teman-teman ayah.

Atau ketika waktu ayah hanya sedikit untuk bersama, karena ayah bekerja di luar kota. Gunakan waktu yang sedikit itu janga untuk membawakan anak mainan, melainkan gunakan waktu untuk membeli mainan bersama. Gunakan untuk menjadi apapun yang ayah bisa untuk anak di waktu yang singkat itu. Jadi pendengar yang baik, teman baiknya, tempatnya meminta untuk beli eskrim termasuk menjadi sahabat dalam melakukan hal-hal yang gokil. Mungkin sesekali ayah mengajak anak memasak untuk memberi kejutan pada ibu, lupakan gadget, lupakan pekerjaan dan teman-teman. fokuslah hanya kepada anak untuk menebus waktu yang hilang ketika ayah bekerja.

4. Katakan cinta
Iya, seperti acara remaja di televisi untuk menyatakan cinta kepada seseorang yang dicintai, begitu juga dengan anak-anak. Justru anak-anak butuh lebih banyak pernyataan cinta untuk meyakinkan diri bahwa ia memang dicintai dan diistimewakan. Maka ayah, jangan pernah bosan dan Lelah mengatakan I love you, atau Ayah sayang kamu, ayah bangga padamu, dan pernyataan lain yang memperkuat keyakinan anak bahwa ayah sangat mencintainya. Ucapan yang sering di ucapkan ini nantinya akan tertanam dalam pikirannya sehingga ketika ayah tidak bersamanya pun ia tahu bahwa ayah sangat mencintainya dan dia adalah anak yang istimewa.

Misalnya ketika akan berpisah, sebelum ke kantor, atau sebelum anak terlelap tidur, ucapkanlah selalu jika ayah mencintainya. Begitu pula jika ia berhasil melakukan sesuatu, selalu katakana ayah bangga/kagum padamu nak. Pernyataan-pernyataan cinta inilah yang bisa tertanam dialam bawah sadar anak, bahwa ayah selalu mencintainya.

Nah itu tadi 4 cara yang mungkin bisa dicoba untuk merebut hati anak ketika ayah sibuk dengan tugas kantor. Setiap kondisi rumah tangga tentu saja berbeda, ayah lah yang paling tau yang mana yang bisa diterapkan dalam kondisi kesibukan ayah saat ini. Mengenai tingkat keberhasilan, itu semua bergantung pada usaha ayah dalam merebut hati anak. Ingat selalu bukan, bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Ayah pasti bisa mendapatkan tempat spesial dihati anak.

-----------------

Catatan:

Artikel ini ditulis oleh Ruli Retno, seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak. Ia biasa menulis di ruliretno.com. Tulisannya seputar tentang lifestyle dan travelling. Namun seiring berjalannya waktu, setelah menikah dan memiliki anak. Konten tulisannya bertambah dengan seputar keluarga dan parenting. Ingin mengenal Ruli lebih dekat? Kamu bisa menyapanya langsung di akun twitter @RuliRetno.

Ini adalah #urunartikel dari Warga Warung Blogger. Kamu juga bisa mengirimkan tulisan kamu, informasi selengkapnya tentang urun artikel bisa kamu baca pada tautan Urun Artikel Warung Blogger. Kami tunggu, ya!


[Urun Artikel] Bangkit dari Kehilangan Orang Tua
Orang tua adalah salah satu sumber kebahagiaan kita yang Tuhan berikan di dunia ini. Bersyukur adalah cara menjawab atas anugerah itu. Tapi bagaimana jika kita tak punya cukup waktu untuk banyak waktu untuk membahagiakan mereka?.

Jika orang tua kita masih ada, melihat mereka, memeluk mereka, bercengkrama dengan mereka, mungkin akan menjadi hal yang biasa saja. Tapi, semua akan terasa berbeda jika mereka sudah tiada. 

Kehilangan mereka akan membuat kita jatuh, terpuruk, dan meninggalkan luka mendalam. Bahkan kita akan merasakan kesendirian, seperti dunia ini pergi meninggalkan kita. Mungkin akan ada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, entah itu kita mati rasa atau rasa iri jika melihat yang lain dengan keluarganya.

Tapi apa mungkin kita akan terus seperti itu? Tersudutkan akan takdir yang sudah Tuhan gariskan? Merasa diri ini kecil akan skenario Tuhan yang Maha Indah? Atau merasa bersyukur karena garis kehidupan ini sungguh dinamis? Apa pun itu, di balik kejadian besar akan ada hikmah yang besar pula. Namun, sebelum menyadari itu, bagaimana cara untuk bangkit dari kehilangan orang tua kita?.

Banyak cara yang akan menjadi sarana pengalihan rasa sedih kita, entah ke arah positif ataupun negatif. Itu semua tergantung diri kita sendiri dan termasuk dari lingkungan kita. 
Pertama, percayalah bahwa ini semua memang sudah takdir Tuhan. Ini memang kalimat yang klasik, tapi percayalah jika memang pernah merasakan kehilangan macam ini, itu adalah jawaban atas semua. Ketika, menolak tidak bisa, meronta tiada berguna, memaki hidup adalah sia-sia. Jawaban paling bijak adalah menerima. Sulit memang, bukan perkara mudah tapi bukan hal yang sulit. Karena, menerima dengan ikhlas adalah sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata dan tidak bisa dijelaskan kepada khalayak umum kecuali memang pernah merasakannya.

Kedua, cari Tuhan. Karena, hidup ini berasal dari-Nya, dimulai dari-Nya maka akan kembali kepada-Nya pula. Kadangkala, kita hanya mencari Tuhan saat dalam keterpurukan namun sempat lupa ketika di masa kebahagiaan. Tapi, Tuhan adalah jawaban. Ketika, di dalam masa-masa sulit, manusia yang bercerita ke manusia akan merasa tenang sesaat. Kalaupun merasa tenang itu berasal dari Tuhan. Jadi, mengapa kita tidak langsung bercerita, bercengkrama kepada Dia yang memberikan rasa?.

Ketiga, carilah lingkungan positif. Seringkali masa-masa sulit seperti kehilangan orang tua membuat kita menjadi hilang akal, merasa diri sendirian, merasa kecil. Sehingga kita akan mencari orang-orang yang punya masalah yang sama atau tingkat rasa kesedihan yang sama. Hal itu silakan dilakukan tapi jangan sampai keluar dari norma-norma kehidupan. Ada orang yang lari ke arah negatif misalkan obat-obatan terlarang ataupun minuman keras. Hal itu wajib kita hindari, karena di masa sulit itu rentan akan pengaruh negatif yang mudah sekali masuk.

Keempat, merelakan. Butuh waktu yang panjang untuk merelakan mereka yang kita cinta. Namun, memang rasa sakit jangan di lawan. Biarkan mengalir bagai air, karena nantinya rasa itu akan sembuh dengan sendirinya.

Kelima, ibadah. Perbaiki ibadah kita. Bukankah kita ingin berkumpul kembali dengan orang tua kita? Maka dari itu, perbaiki ibadah kita, doakan mereka setelah ibadah kita, karena hal itu yang membahagiakan mereka sekarang.

Semoga pengalaman ini membangun dan dapat memberi inspirasi untuk teman-teman. Jangan pernah merasa sendiri, jangan terus berkutat di kesedihan, karena Tuhan tidak mungkin menciptakan badai jika tidak disertai dengan pelangi setelahnya.

Artikel Rara Febtarina



Kalau anak sakit, orang yang paling gampang panik pastilah Ibunya. Menurutku sepanjang kepanikan itu dihubungkan dengan kewaspadaan justru banyak gunanya. Jadi bukan panik yang membuat 'mati gaya', tapi justru panik yang 'wajib' untuk membawa bahagia.


Seperti kejadian lebih dari seminggu yang lalu saat Sulungku demam, aku sempat dituduh 'panik', hanya gara-gara aku membawanya ke UGD sebuah RS. Lalu bagaimana aku tak panik, sebab demamnya tak turun dalam 3 hari, bahkan sudah masuk hari keempat. Jadi walaupun aku dokter, aku kan tak punya laboratorium sehingga tak bisa memeriksa kadar trombositnya. Sedangkan trombosit yang saat ini bisa kupercaya untuk memastikan apakah demam biasa atau DBD.
Masih jelas dalam ingatan, saat September 2011 lalu, anak sepupuku meninggal. Sebut saja namanya Putra. Benar memang sudah ajalnya. Tapi keterlambatan membawanya ke RS jadi sesalan yang tak semestinya terjadi. Ceritanya, Tanteku mau berangkat haji, kami sekeluarga datang ke rumahnya. Di sana ada cucunya (anak sepupuku) yang berumur 5 tahun sakit. Demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Lemah nian, sampai hanya mampu tiduran, tak ikut bermain dengan sepupu lainnya. Aku sarankan untuk cek trombosit. Tapi kata sepupuku sudah ditangani SpA, disebutnya nama dokter anak ternama itu. Dan oleh beliau diberi obat saja. Tak ada pesan untuk kontrol atau cek darah. Aku waspada, agak ngotot saat menyarankannya 'wajib' kontrol bila panasnya belum juga turun besok pagi. Sepupu dan Tanteku manggut.

Kelanjutan kisahnya bisa ditebak, besok harinya Putra turun panasnya, jadi tak dibawa kontrol.  Hanya lemasnya yang masih nyata. Obat masih diteruskan. Ternyata malamnya Putra mimisan. Langsung dilarikan ke RS masuk ICU. Hanya beberapa jam di ICU, Putra tak sadar, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Bertahan sesaat sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Terbayang aku pada iklan sebuah obat penurun panas, bahwa demam pada DBD sangatlah khas, seperti pelana kuda katanya, pada hari kelima akan turun seolah sembuh.

Kejadian ini sudah sering kita dengar. Dulu saat aku stase di bagian Anak, bulan Januari - Februari adalah saat wabah DBD yang begitu mencekam, kami sampai hafal, hingga sangat menghindari bulan itu untuk stase di Anak. Dulu memang 2 bulan tersebut adalah puncak musim hujan. Berbeda dengan sekarang, saat musim sudah tak lagi terbaca dengan baik. Aku adalah salah satu yang beruntung masuk stase Anak pada masa DBD sedang mewabah. Yang aku ingat ada satu peristiwa yang menambah kewaspadaanku pada si - DBD.

Ada seorang ibu datang ke RS tengah malam, anaknya 4,5 tahun demam tinggi sejak 2 hari yang lalu. Dokter yang menangani memberi obat dan menyarankannya untuk minum air putih lebih banyak lagi. Ibu tersebut ngotot minta cek darah, sebab ini masuk hari ke tiga dan di lingkungan rumahnya sudah banyak yang kena DBD. Dengan setengah bersungut dokter tersebut membuatkan blanko cek darah khas untuk curiga DBD. Hasilnya trombosit anak 283 ribu, atau sekitar itu. Mereka disarankan pulang. Karena bagian Anak kala itu sedang sangat padat. Sampai ke lorong-lorong.

Selang sehari berikutnya Ibu tersebut datang lagi, karena anaknya masih demam dan makin lemas. Hasil trombositnya 120 ribu, langsung dirawat inap. Nilai trombosit normal 200 ribu. Kejadian ini terekam betul dalam benakku yang masih mahasiswa saat itu, yang aku garis bawahi jadi Ibu memang harus proaktif. Waspada saat anak demam, jangan hanya pasrah menunggu panasnya turun dengan obat-obatan, Ibu harus siaga. Segera ambil tindakan bila demamnya tak turun dalam 3 hari walau tak ada perintah dari dokter. jangan takut dibilang panik, jangan malu disebut parno.

Maka sampai saat ini, aku selalu mengingatkan diriku bila anak demam, apalagi disertai lemas, hal yang 'wajib' kita lakukan adalah:

  1. Sebisanya periksa dengan termometer, pakai yang digital sekarang juga sudah banyak. Angkanya  bisa langsung dibaca. Mudah, praktis dan harganyapun terjangkau.

  2. Beri makan seperti biasa. Ini agak sulit, kita saja kalau sakit biasanya tak nafsu makan. Tapi harus tetap dibujuk. Ganti dengan makanan yang diinginkannya. Misal tak mau nasi boleh makan roti isi daging ayam, roti isi coklat atau bubur kacang hijau.

  3. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Air putih, teh atau susu. Boleh juga air syrup, tapi sebaiknya jangan yang rasanya asam.

  4. Bila panasnya dibawah 40 derajat sebenarnya belum butuh obat penurun panas tapi bila anak ada riwayat kejang demam atau Ibu memilih untuk diberikan silakan sesuai dengan dosis dan aturan dari dokter. Bila belum sempat ke dokter belilah Syrup Paracetamol yang sekarang banyak dijual bebas, baca aturan pakainya dan ikuti. Insya Allah efek sampingnya aman terkendali. Kompres di dahi. Bagian badan yang lain sebenarnya boleh saja, misalnya ketiak, leher atau kaki tapi biasanya anak menolak. Gunakan air biasa atau air hangat, tak perlu pakai air es. Pada anak-anakku, saat demam biasanya aku tetap mandikan dengan air hangat.

  5. Bila demam tidak turun setelah lebih dari 3 hari, segera lakukan pemeriksaan darah. Atau kontrol lagi ke dokter tempat awal anak dibawa berobat, ingatkan si dokter untuk cek darah, mungkin si dokter lupa.

  6.  Hasil trombosit yang meragukan misal, 198 ribu, lihat kondisi anak. Bila anak kuat dan mau banyak minum silakan rawat di rumah saja. Tapi pastikan kondisinya setiap saat. Bila anak makin lemas jangan menunggu pagi tiba, larikan ke RS.

  7. Bila positif DBD, apalagi trobosit sudah turun.

  8. Bila dilingkungan rumah kita banyak yang sudah kena DBD maka usulkan fogging ke Puskesmas terdekat atau bisa lewat RT

Waspada DBD akan menguntungkan buat kita, keluarga dan lingkungan. Biar saja terkesan panik daripada ada penyesalan dikemudian hari. Seperti yang kualami kemarin, tak apalah dibilang panik yang penting Sulungku mendapat kepastian bukan DBD, trombositnya masih > 200 ribu, maka akupun tenang. Perawatan selanjutnya lebih leluasa kulakukan di rumah. Apalagi selang sehari kemudian Sulungku membaik, keceriaan tampak mulai terpancar dari wajahnya yang masih pucat.

Jadi demam pada anak, janganlah dianggap sepele. Apalagi bila disertai pusing berat dan badan lemas. Sebab pada demam yang bukan DBD biasanya si-anak masih mau bermain dan energik, seperti tidak sedang sakit. Yang penting kita sudah berusaha dengan maksimal, hasilnya serahkan pada-Nya saja. Umur, jodoh dan rizky semuanya sudah diatur Sang Pemilik Hidup dan Mati, tapi sebagai makhluk termulia kita 'wajib' melakukan usaha terbaik.



Tidak perlu malu untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, walaupun sudah sekolah setinggi mungkin, ilmu itu akan tetap terpakai sampai kapanpun. Tulisan ini bukan untuk menyinggung ibu pekerja, karena saya tahu pasti mereka pun pasti memperhatikan anak-anaknya seperti halnya ibu rumah tangga. Bahkan ibu pekerja itu hebat juga loh karena mereka bisa membagi waktu antara pekerjaan dan anak. Menjadi ibu rumah tangga maupun ibu pekerja merupakan pilihan masing-masing dan harus bisa dipertanggung jawabkan.

Disaat saya memasukkan anak ke Playgroup atau Taman Bermain, ada salah seorang teman bilang sebaiknya tidak perlu dimasukkan kesekolah kalau umur 3 tahun, cukup bermain-main dirumah. Beliau bilang Ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.


Saya setuju dengan kalimat diatas, tapi kebutuhan setiap anak juga berbeda bukan, semuanya tidak bisa disamakan. Beberapa orang tua tentu mempunyai pendapatnya masing-masing mengapa harus memasukkan anaknya ke playgroup. Salah satu alasan agar si anak bisa bergaul atau bersosialisasi dengan teman sebayanya yang mungkin saja hal itu sulit dilakukan dirumah karena tidak ada teman sebaya. Hal ini hanya orang tua saja yang bisa menentukan perlu atau tidak seorang anak masuk sekolah diusia dini. 

Setelah sekolahpun peran orang tua sangat penting disamping peran guru disekolah. Saya teringat di SD yang akan Pascal masuki nanti menerapkan Segitiga Emas, dimana Pihak sekolah dalam hal ini guru ,orang tua serta murid harus bisa bekerja sama satu sama lain karena saling keterikatan. Disekolah anak belajar dengan guru sedangkan dirumah orangtua harus membantu anak.

gambar diambil dari sini

Tidak hanya hal belajar saja segitiga emas ini bisa diterapkan, tapi bisa diterapkan juga dihal lainnya. Misalnya orang tua mempunyai uneg-uneg atau saran untuk sekolah sebaiknya bisa diutarakan demi kemajuan bersama. Begitu pula dengan pihak sekolah yang harus bisa menerima dan menjembatani antara keingan orang tua murid dan pihak sekolah. Disini saya berfikir adanya POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) penting juga. Jadi sekolah dan orang tua bisa seiring sejalan dalam memajukan pendidikan serta akhlak anak-anak. Intinya adalah adanya komunikasi didalam wadah POMG ini sehingga tidak ada proses belajar mengajar bisa lancar.

Tulisan ini sekedar sharing saja, mohon maaf jika ada kesalahan dan mohon masukkan yang lain jika berkenan.





Seorang ibu punya dua anak cewek yang satu sudah SMA dan satu masih SD. Setting nya lagi di ruangan belajar ada mbak, adek dan ibu yang membantu mereka belajar di dalam satu ruangan.



Adek : “Mbak, penggaris nya mana?” agak bentak minta ke mbak nya.

Ibu : “Adek, kalau mau minta sesuatu harus bilang ‘Minta Tolong’ di inget lho yaa dek” menjelaskan dengan penuh kesabaran.

Adek : “Ooohhh.... gitu yaa Buk, harus minta tolong dulu yaa” muka sambil manyun.

Ibu : “Coba ulangi tadi minta ke mbak gimana?" dengan sabar Ibu memberi tahu adek.

Adek : “Mbak, minta tolong ambil kan penggaris merah koodok yang di sebelah nya mbak yaa” dengan wajah penuh senyum.

Mbak : “Iyaa adek ku sayang, gitu dong bicara nya kan bagus” sambil memberikan penggaris ke adek.

Ibu : “Adek hebat sudah bisa bicara yang benar, kalau sudah pakai penggaris nya dikembalikan yaa Dek dan harus bilang ‘Terima Kasih’ lho yaa Dek” penuh kesabaran bilang keanak nya.

Adek : “Kenapa seh Buk harus bilang ‘minta tolong‘ dan ‘terima kasih’? “ wajah penuh pertanyaan.

Ibu : “Adek cantik kalau bicara sama orang dengan benar dan sopan kan enak didengar nya, kalau bicara nya jeleg bagus tidak Dek?”

Adek : “Ndak bagus Buk, oohh... jadi harus bicara yang sopan dan benar yaa buk, yaa udah deh adek mau coba. Mbak ku yang cantik terima kasih yaa penggaris nya udah dipinjemin ke adek” sambil muka senyum genit.

Mbak : “hehehehe...adek ku genit deh, iyaa sayang sama-sama adek ku yang centil” wajah gemes sambil nyubit pipi adeknya.

***
Dari cuplikan cerita diatas itu hanya untuk mengingatkan saja, sudah berterima kasih kah saat di beri sesuatu oleh siapa pun? Atau sudah kah berucap minta tolong saat meminta bantuan seseorang?

Bedeway untuk Niar sendiri mau bilang “terima kasih banyak buat admin webe  sudah di undang menjadi kontributor di Warung Blogger, blogger baru yang lagi belajar untuk menulis sesuatu yang bermanfaat, semuga berkenan buat yang siapapun” :D

NB :  Seorang anak lebih baik di beri tahu sejak dini tentang kebaikan supaya menjadi anak yang baik saat sudah beranjak dewasa. Cemuunngguutt  :D

Sumber gbr: rizalbkurniawan.blogspot.com

Dituliskan oleh : Niar Ningrum

 

Kecerdasan anak dapat kita lihat dalam kehidupannya keseharian dalam pergaulannya bersama teman dan lingkungannya. Dengan pola tingkah  keluguannya, yang selalu didasari rasa keingintahuan yang tinggi, terkadang selalu membuat prilaku anak melakukan hal-hal yang selalu saja mencoba segala sesuatunya dengan apa yang dilihat mata kepalanya langsung.
Seperti yang terlihat dalam photo sebelah kanan ini, seorang anak dengan santainya mengambil buah dengan gala, tanpa harus menaiki pohonnya. Inilah yang bisa dikatakan cerdas, namun dia belum tentu tahu dampak dari perilaku yang dia lakukan untuk kehidupan disekelilingnya.
 
Lihat photo disebelah kiri, setelah berhasil memetik buah melalui gala, anak tersebut dengan senyumn melihat hasil dari pekerjaannya. Disanalah rasa senang terpancar di mukannya. di tidak memperdulikan besar dan kecilnya hasil dari perburuan buahnya pada saat ini. Namun, yang dia rasakan adalah sebuah keberhasilan.
Dari sebuah cerita kehidupan anak ini dapat menggambarkan bahwa, pada diri setiap manusia memilki kecerdasan dalam menyikapi permasalahan dan tantangan yang di dalam kehidupan ini. Namun, dengan menggunakan kecerdasan dan cara sederhana, dia melakukan hal ini secara sederhana untuk memperoleh hasil. Bukan hanya pusing untuk selalu berdebat untuk sebuah hasilnya yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya.
Artikel ini ditulis sebagai nasihat kebiakan untuk kita semua, tanpa bermaksud menyinggung pihak lain. Karena kita sebagai manusia selalu di tuntut untuk selalu dapat menggunakan kecerdasan dalam memberikan manfaat yang positif dalam kehidupan di bumi ini. Salam,
Indra Kusuma Sejati
Ejawantah's Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.