March 2019

#5TahunWB #5TahunWB: Photo Quotes Contest #7TahunWB #HappyBlogging #Menu7uhWBLebihBaik #MubesWB 4 Tahun Ultah WB 7 Tahun Warung Blogger 79 Tahun Sinar Mas untuk Indonesia 90an Access Trade Advertorial Afiliasi Anak ANDA SEORANG INTERNET TROLL? Anniversary aplikasi musik artikel WB Ayah Bahasa Bangkit dari Kehilangan Orang Tua Bedah Buku belanja online Bermain Kata Kunci Bintang 14 Hari blibli Blog competition Bloger di Masa Depan Blogging Budaya Buku Cara Bergabung Catatan Ringan Cerpen Charity Cheria Halal Holiday competition Copy Paste Crowdo Digital Millennium Copyright Act DMCA EBI Emak Gaoel Vlog Competition Ensiklopedia Eva Sri Rahayu Event WB EYD Facebook WB Fakta dan Mitos Fashion & Beauty Festival Prestasi Indonesia UKP-PIP Pancasila Inspirasi Maju Filosofi finansial Gadget Generasi 90an Gerakan PKK Google Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis di Blog Hari Bloger Nasional Hari Blogger Nasional Hiburan Hikmah Hobi hotel murah di Bali hubungan Imbuhan Indonesiaku Info info lomba InfoWB Inspirasi Involve Asia istri Jakarta Kangen Band Karya Kata Depan di KBBI ke Kelas Bahasa Keluarga Kesehatan keuangan Kiat Menulis Postingan Blog Kompetisi Blog 5 Tahun Warung Blogger Kompetisi Blog 6 Tahun Warung Blogger kompetisi blog langit musik Kompetisi Blog LangitMusik Konsistensi Kontes WB Kopdar Mini Suka-suka Kopdar WB KOPI SUSU WB Kuliner Langit Musik Blog Competition #MusiknyaHidupKamu Langit Musik: Musiknya Hidup Kamu Liburan life Lifestyle Logo Logo Baru Lokasi Lomba Lomba Blog Menu7uh Warung Blogger Lomba Menulis Manfaat Olahraga yang Menakjubkan Media Menulis Motivasi Musik & Film new langit musik Novel Novel Indonesia Oase Olahraga Olahraga & Kesehatan Parade Para Monster Parenting Peduli Kata Kunci Pendidikan pengumuman pemenang Permainan Rakyat Pojok Pojok WB POJOK WB IDOL Positif Self Talk Ramadan relationship Reportase Resensi Buku Resolusi Retweet Review review produk rumah tangga saleduck Sastra Sastra & Seni self help SEO Shell Shell Eco-Marathon Sosial & Budaya suami Subjektif tahun baru Teknologi teman Tidur Tips Belanja Hemat Ala Blogger Tips Blog Tips dan Trik Tips Media Sosial Tomyam kelapa Saung Ibu Trade Expo Indonesia 2017 Travelio Travelling tulisan pilihan Tutorial Blog Twitter Twitter WB Ultah WB Ultah WB ke-6 urun artikel Utees.me Vlog Competition Warga WB Warna Warung Blogger Wisata Writing Writing Competition Zaman Sekarang Telat Untuk Jadi Blogger


            Dalam sebuah hubungan di kehidupan ada rasa suka, benci, sayang, ataupun cinta, begitulah cara kita untuk menjalani hidup untuk meluapkan emosi dan perasaan yang ada. Pernahkah kalian merasa jika teman kalian itu yang sangat menggangu? mungkin sebagian orang pasti pernah berada pada posisi ini, aku juga mengalaminya bahkan hal ini terlalu sering terjadi hingga membuat aku terbiasa. Terbiasa untuk menerima semua hal itu, karena inti dari sebuah pertemanan bukan sebab “aku nyaman bersamamu” tetapi “kita bisa nyaman bersama dan saling mengerti”.

            Pertemanan yang indah itu akan tercipta disaat waktu bersama yang kita habiskan sudah tidak terasa lagi, disaat aku membutuhkan kamu selalu ada, disaat aku gundah dan resah kamu hadir untuk membuat hati ini kuat lagi. Akan tetapi, semua itu hanya harapan dan tidak semua hal itu sesuai dengan bayanganku, aku dan kamu itu berbeda. Hidup kita memiliki  batasan, dimana aku memiliki kesibukan sendiri dan kamu juga sama. Walaupun kesibukan tidak menjadi masalah besar tapi ada jarak dimana aku sadar kamu adalah teman yang sangat menyebalkan. 

            Teman ialah sebutan kecil yang hampir aku sendiri tidak bisa mendefinisikannya, bagaimana menjadi seorang teman yang baik atau menjadi seorang teman yang jahat? Semua kembali dengan anggapan serta pendapat cara kita memberikan sudut pandang seorang teman. Sudut pandang aku terhadap orang sekitar juga berbeda, banyak jenis teman yang sering aku temui seperti ini:


  • Teman sejak kecil: orang yang selalu hadir pada kehidupan kalian, dari dulu hingga sekarang meskipun hanya tegur sapa misal sebagai tetangga, mungkin dia adalah orang yang paling tahu kamu.
  • Teman berjangka: sangat sering dijumpai,contohnya pertemanan yang berawal dan berakhir saat kelulusan sekolah. Ketika memilih sekolah dengan tujuan yang berbeda maka kalian akan berpisah dan mencari teman baru 
  • Teman curhat: jika aku mendifinisikan hal ini, dialah sahabat yang bisa kita percaya. Semua isi hati bisa kita curahkan untuk meluapkan emosi disaat hati ini lemah. Hadirnya sahabat itu mungkin akan jarang ditemui karena untuk menjadi seorang sahabat tidak mudah guys! Waktu untuk menemukan seorang sahabat juga tidak sebentar, aku sendiri menyadari bahwa temanku itu sebagai sahabat setelah 7 tahun lamanya berteman.
  • Teman tak biasa: sampai ke point dimana tujuan aku bercerita hal diatas, untuk menunjukkan bahwa teman tak biasa itu ada. Ingat! bukan teman yang tak kasat mata atau berada pada dunia lain. Jika kalian berpikir hal demikian maka aku gagal membuat kalian terbawa suasana.
Dokumen Pribadi

 Akan tetapi, aku punya pengalaman yang memang tidak biasa atau tidak wajar. Aku memiliki teman khayalan sejak kecil yang sangat terasa nyata untukku. Bahkan  keluargaku sudah menganggap 'biasa' bila secara kebetulan melihat aku berbicara sendiri atau bertingkah aneh sendirian. Hal ini terjadi karena sudah tebiasa, kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya disaat aku mulai remaja, meskipun ada hal yang tidak bisa aku ceritakan mengenai teman tak kasat mata ini tapi aku memiliki opini bahwa mereka itu ada, dan kita hidup berdampingan untuk saling menghargai.

Teman tak biasa itu akan datang disaat kamu merasa kehilangan akan sesuatu hal yang paling berharga dan memberikan nilai positive untuk selalu mendukung demi kebaikan kita. Tidak semua hal ini benar terkadang, ada saat dimana aku merasa terganggu. Bukan karena tidak suka, tapi aku merasa bosan dengan siklus pertemanan, menyadari bahwa ada pertemuan akan ada perpisahan. Aku ingin dimana sebuah pertemanan itu nyata dan tidak akan pernah berhenti meskipun waktu telah habis pada masanya.

Bolehkah aku merasa rindu dengan pertemanan ya murni? “Jangan rindu, berat. Kamu enggak akan kuat, biar Eny saja” seperti kata Dilan 1990. *eh

Tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang, tapi jangan pernah berikan senyuman manismu itu dengan orang lain selain aku^^

Tabik,

---------------

Catatan:
Artikel ini ditulis oleh Eny Kadinda Aprilya seorang bloger asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang pernah bercita-cita sebagai arsitek. Sekarang ini Eny, begitu ia biasa disapa, sering menulis tentang make-up dan fashion di blog Enychan.com. Tahun ini, bersama teman-teman female bloger Banjarmasin, Eny menerbitkan antologi tentang pengalaman ngeblog yang berjudul Banjar Female Blogger Series. Kamu bisa menyapa Eny di twitternya @Enyaprilya atau melihat aktivitasnya di akun instagram @Enyadinda.
 


Seorang teman, katakanlah saja begitu, menulis sesuatu yang tidak biasa. Jika di semua waktu senggangnya ia biasa menulis konten-konten yang menggelitik, di waktu tersebut ia menulis tentang sebuah hubungan. Hal yang sebenarnya tidak ia kuasai betul.

Katanya,

Makin tua, makin sadar bahwa relationship itu bukan saling menerima kekurangan tapi saling menerima kebahagiaan masing-masing. 
Bahagia, walau positif, tetap sebuah ego. Saya membayangkan nanti, saya yang bahagianya ini kalau banyak jalan-jalan, akan berjodoh dengan dia yang bahagianya berdiam diri di rumah saja bahkan di hari libur. 
Atau saya yang ngopi indocafe sachet airnya kebanyakan saja sudah cukup bahagia, harus tinggal satu atap dengan dia yang standar bahagia ngopinya kalau nyeduh kopi harus digiling, diroasting, diaduk 18 kali dengan sendok 45 derajat menghadap timur laut, dituang pelan-pelan dan gak pakai gula sama sekali. 
Menerima kekurangan adalah keniscayaan tidak ada tempat baginya selain penerimaan. Tetapi menerima kebahagiaan masing-masing supaya menjadi kebahagiaan bersama tanpa harus mengubah saya menjadi dirinya atau mengubah dirinya menjadi dia yang kesaya-sayaan adalah sebuah anugerah tak terperi
 Feb, 2019 Yosfiqar Iqbal. 

Kamu boleh mengabaikan tulisannya yang lain dan cukup fokus pada kalimat yang saya tandai tebal. Entah berapa banyak kopi yang ia minum, entah berapa kilometer perjalanan yang ia tempuh, entah berapa sakit yang ia rasakan sebelumnya untuk menulis dua-tiga paragraf itu. Satu yang pasti: saya tidak bisa tidak setuju.

Saya tersentil. Apa saya sudah bisa melakukannya?

Di usia yang semakin menua, kita tidak bisa terus-terusan terlena dengan omong kosong ‘aku siap menerima kekuranganmu apa adanya’. Itu hanya kalimat abege sok tahu yang ingin dianggap bijak di depan pasangannya. Karena, bagaimanapun kekurangan, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, adalah sebuah asesoris pelengkap yang mau tidak mau kita terima ketika kita memilih seseorang untuk berkomitmen hidup bersama sampai usia yang entah. Saat kamu berpikiran dewasa, kamu tidak bisa memilihnya dengan syarat ia harus meninggalkan semua kekurangan yang kamu tidak suka. Jika kamu melakukannya, sederhana: kamu tidak mencintainya dan tidak pernah benar-benar siap memilihnya. Karena cinta dan sayang adalah satu kesatuan kuat antara kelebihan dan kekurangan. Cukup bijaksana, kan? Tapi ‘aku siap menerima semua bahagiamu tanpa harus memaksamu masuk ke bahagiaku’ berada satu tingkat di atas itu semua.

Sumber gambar: Heartlyhouse.org

Kita garis bawahi dulu sebentar. Hal yang kita anggap sebagai kekurangan dari pasangan kita, boleh jadi adalah hal yang membuatnya bahagia. Atau sebaliknya, hal yang ia anggap menjadi suatu kekurangan dari kita boleh jadi itulah yang membuat kita bahagia. Misalnya, saya ketika bersepeda motor merasa harus untuk selalu kebut-kebutan. Dan, iya, saya cukup bahagia melakukannya. Paling tidak, di waktu yang sebentar saya merasa sebagai penguasa jalanan. Tapi, untuknya, itu hal yang menyebalkan. Ia menganggap ‘kebut-kebutan’ adalah kekurangan yang harus segera ia musnahkan. Ya, konstelasi kekurangan-kebahagiaan seperti itulah yang kita garisbawahi yang, sayangnya, bukan yang akan kita bahas.

Masing-masing dari kita, untuk segala hal yang positif, memiliki cara yang berbeda untuk berbahagia. Kembali saya tandai tebal satu frasa: cara yang berbeda. Hal inilah yang kemudian akan menentukan selapang apa kita bisa saling menerima rasa bahagia masing-masing persona di sebuah ikatan hubungan. Hal yang kemudian akan menjaga kualitas dari sebuah hubungan.

Kita buat sedikit contoh. Baik saya atau dia memiliki satu keinginan yang sama: makan nasi pecel. Kami bersepakat makan nasi pecel romantis sambil menonton Teletubbies di siang hari yang gerimis. Tentu saja jika keingingan itu terwujud akan ada kepuasan batin yang, tentu saja, membuat kami bahagia. Yang berbeda, nasi pecel yang saya inginkan adalah nasi pecel dari hasil masakannya sendiri. Sedangkan, ia menginginkan saya untuk keluar sebentar membeli nasi pecel di depan gerbang komplek. Kenapa nasi pecel? Karena, ya, bahagia kami sederhana.

Lalu, bagaimana berikutnya? Bagaimana seharusnya? Mudah. Mengalah saja salah satu. Toh, sama-sama nasi pecel, kan? 

Tapi di dalam sebuah hubungan tidak pernah sesederhana itu. Ketika salah satu mengalah, berarti ada satu yang berkorban untuk merelakan bahagianya. Ketika salah satu mengalah, berarti ada satu yang merasa harus untuk meraih bahagiannya. Dan, tentu saja hal itu dapat mengkhianati sumpah ‘aku siap menerima semua bahagiamu tanpa harus memaksamu masuk ke bahagiaku’.

Bagaimana saya mengatasinya? Ada, tentu saja. Tapi ingat, masing-masing kita memiliki cara yang berbeda untuk berbahagia. Untuk kasus di atas, cara saya menuju bahagia mungkin berbeda dengan yang mungkin akan kamu lakukan. Jadi, ya silakan pikirkan sendiri bagaimana caranya.

Nasi pecel adalah salah satu contoh kecil yang mungkin terjadi di hubungan kehidupan yang semakin menua. Contoh lain? Kita sama-sama suka menonton film, membaca buku atau mendengar musik, tapi selera kita tidak sama. Kita sama-sama suka berwisata tapi tujuan dan tempat favorit kita berbeda. Yang paling mengerikan dan mungkin menyebalkan, kita sama-sama memiliki keyakinan yang kuat kepada Tuhan tapi Tuhan kita tidak sama.

Sumber gambar: beinglol.com

Saya atau kamu bisa saja menuliskan contoh-contoh yang lain. Tapi, tulisan ini akan setebal lapisan bumi jika harus dituliskan semuanya. Maka sebaiknya kita sepakati satu hal: perkara saling merima bahagia tidaklah pernah menjadi perkara yang mudah. Dan bukan perkara yang bisa dipaksa untuk dianggap mudah.

Apa saya sudah bisa melakukannya? Entahlah. Boleh jadi, ya. Boleh jadi, tidak.

Kamu boleh cemburu ketika saya mengatakan: “Saya amat sangat bahagia bisa hidup dan membersamainya”. Tapi apakah saya bahagia di setiap semua bahagianya? Apakah ia bahagia di setiap semua bahagia saya?

Kalimat ‘aku bahagia melihat kamu bahagia’ bisa menyelesaikan semua itu. Tapi, sekali lagi, dalam sebuah hubungan tidak pernah sesederhana itu. Maka, bisa menerima kebahagiaan masing-masing supaya menjadi kebahagiaan bersama tanpa harus mengubah saya menjadi dirinya atau mengubah dirinya menjadi dia yang kesaya-sayaan adalah sebuah anugerah tak terperi.

Bagaimana caranya? Saya tidak tahu.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.