October 2014

#5TahunWB #5TahunWB: Photo Quotes Contest #7TahunWB #HappyBlogging #Menu7uhWBLebihBaik #MubesWB 4 Tahun Ultah WB 7 Tahun Warung Blogger 79 Tahun Sinar Mas untuk Indonesia 90an Access Trade Advertorial Afiliasi Anak ANDA SEORANG INTERNET TROLL? Anniversary aplikasi musik artikel WB Ayah Bangkit dari Kehilangan Orang Tua Bedah Buku belanja online Bermain Kata Kunci Bintang 14 Hari blibli Blog competition Bloger di Masa Depan Blogging Budaya Cara Bergabung Catatan Ringan Cerpen Charity Cheria Halal Holiday competition Copy Paste Crowdo Digital Millennium Copyright Act DMCA EBI Emak Gaoel Vlog Competition Ensiklopedia Eva Sri Rahayu Event WB EYD Facebook WB Fakta dan Mitos Fashion & Beauty Festival Prestasi Indonesia UKP-PIP Pancasila Inspirasi Maju Filosofi finansial Gadget Generasi 90an Gerakan PKK Google Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis di Blog Hari Bloger Nasional Hari Blogger Nasional Hiburan Hikmah Hobi hotel murah di Bali Indonesiaku Info info lomba InfoWB Inspirasi Involve Asia istri Kangen Band Karya Kata Depan di ke Kelas Bahasa Keluarga Kesehatan keuangan Kiat Menulis Postingan Blog Kompetisi Blog 5 Tahun Warung Blogger Kompetisi Blog 6 Tahun Warung Blogger kompetisi blog langit musik Kompetisi Blog LangitMusik Konsistensi Kontes WB Kopdar Mini Suka-suka Kopdar WB KOPI SUSU WB Kuliner Langit Musik Blog Competition #MusiknyaHidupKamu Langit Musik: Musiknya Hidup Kamu Lifestyle Logo Logo Baru Lokasi Lomba Lomba Blog Menu7uh Warung Blogger Lomba Menulis Manfaat Olahraga yang Menakjubkan Media Menulis Motivasi Musik & Film new langit musik Novel Novel Indonesia Oase Olahraga Olahraga & Kesehatan Parade Para Monster Parenting Peduli Kata Kunci Pendidikan pengumuman pemenang Permainan Rakyat Pojok Pojok WB POJOK WB IDOL Positif Self Talk Ramadan Reportase Resensi Buku Retweet Review review produk rumah tangga saleduck Sastra Sastra & Seni SEO Shell Shell Eco-Marathon Sosial & Budaya suami Subjektif Teknologi Tidur Tips Belanja Hemat Ala Blogger Tips Blog Tips dan Trik Tips Media Sosial Tomyam kelapa Saung Ibu Trade Expo Indonesia 2017 Travelio Travelling tulisan pilihan Tutorial Blog Twitter Twitter WB Ultah WB Ultah WB ke-6 urun artikel Utees.me Vlog Competition Warga WB Warna Warung Blogger Wisata Writing Writing Competition Zaman Sekarang Telat Untuk Jadi Blogger

Keluarga. Seberapa vitalkah peran mereka?

Tentu, mereka begitu bermakna bagi kita. Ibaratnya, sejauh apapun kita merantau, pasti selalu ada hasrat untuk pulang ke pelukan keluarga. Jadi meski pun hasil jerih payah kita dinikmati mereka, sensasinya itu puas dan membahagiakan.

Sedari kecil mereka tahu segala tentang kita, memberi didikan pertama, menjadi pelindung dan membentuk siapa diri kita sekarang. Saat di puncak, mereka yang pertama tersenyum. Sebaliknya ketika terpuruk, mereka yang pertama mengulurkan bantuan.

Duhai hangatnya! Bagaimana dengan keadaan keluarga yang malah sebaliknya?

Ya, kehangatan suatu keluarga bisa berubah jadi begitu dingin. Tak ada komunikasi dan rasa peduli. Atau, kehangatan keluarga juga bisa berubah jadi panas. Kerap bersitegang dan saling cekik prinsip.

Ketika keluarga sudah tak jadi ‘tempat pulang yang nyaman’... ketika keluarga selalu mendetak kan kecemasan... ketika keluarga ‘tak bisa diajak bicara’... ketika keluarga ‘begitu dekat namun terasa jauh’... ketika keluarga seakan ‘tak ada’... ketika itu, keluarga kita tengah dilanda broken home.

Broken home adalah gambaran suatu keluarga yang tidak harmonis, rukun dan sejahtera. Akibatnya, masing-masing pihak (anak, ibu dan ayah) merasa tidak dihargai perannya, merasa tidak diperhatikan, dan merasa kurang kucuran kasih sayang dari keluarga.

Broken Home Mengintai Keluarga Kita
Broken Home - Source: LINK


Lalu, apa yang menyebabkan broken home ‘menyambangi’ keluarga kita?

Penyebabnya bisa sangat banyak dan kompleks, namun beberapa diantaranya yaitu:

  1. Orang tua tidak mampu mengatur waktu. Pagi-pagi buta pergi, lalu pulang ketika larut malam. Akibatnya, kualitas waktu antara dirinya dengan anak sulit tercipta.
  2. Orang tua merasa hasil jerih payahnya sudah cukup untuk membahagiakan anak. Padahal orang tua semestinya ingat, anak butuh limpahan kasih sayang bukan sekadar uang.
  3. Orang tua enggan disalahkan atau introspeksi. Hal ini kadang membuat anak frustasi untuk diskusi, bahwa sebenarnya selama ini ‘ada yang tidak beres’ dengan keluarga. Kalau orang tua ‘dikritik’, biasanya mereka akan bilang ‘papa/mama bekerja untuk kebaikan kamu!’. Kalau sampai lepas kontrol emosi, bisa-bisa anak tak akan berani berinteraksi lagi.
  4. Orang tua tidak bertingkah dewasa. Misalnya saja orang tua malah cekcok atau parahnya ‘main tangan’ di hadapan anak. Pasti pemandangan itu akan jadi memori buruk dan mengendapkan trauma tersendiri.
  5. Orang tua tidak bertanggung jawab. Ya, akhir-akhir ini banyak peran ‘orang tua’ yang justeru diwakilkan pada orang lain. Seperti pengasuhan, zaman sekarang anak-anak kecil akan lebih akrab dengan baby sitter-nya ketimbang ibunya. Atau, banyak pula para ayah yang tega meninggalkan istri dan buah hatinya. Mereka melepas tanggung jawab begitu saja.
  6. Terjadi perceraian. Jadi walau anak menunjukkan kalau dia ‘tak apa-apa’ atas perceraian orang tuanya, sebenarnya hati kecilnya menggeleng. Pasti perceraian orang tua membuat sang anak terpukul. Karena itu, semestinya anak diajak diskusi kenapa perpisahan itu malah dijadikan pilihan. Setidaknya, hal tersebut bisa mengurangi beban hatinya.
  7. Ketidaktahuan orang tua kalau keadaan rumah memengaruhi kehidupan anak. Faktor ini sering menimpa pada orang tua yang belum sadar, kalau keadaan rumah bisa membawa efek bagi tumbuh kembang dan masa depan anak. Mereka merasa wajar-wajar saja ketika menghadirkan konflik antara ibu-bapak ke depan anak.
  8. Jauh dari Allah Swt. Bagaimanapun, orang yang jauh dari amalan religi cukup sulit mengendalikan diri dan mendapatkan keberkahan.
  9. Komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak. Hal ini sudah tak dianggap enteng lagi. Kita mesti berhati-hati kalau seharian antara anak dan orang tua tidak bertemu atau tidak berkomunikasi. Pastikan anak selalu bercerita tentang apapun. Se-sepele apapun kisah mereka, orang tua sepatutnya menjadi pendengar yang baik. Dengan demikian, anak akan merasa nyaman mengutarakan apa yang ia lihat, pikir dan rasa.
  10. Orang tua dan anak lebih ‘terbuka’ pada gadget. Penyebab yang satu ini termasuk yang paling banyak kita temui, di mana anak dan orang tua sama-sama lebih suka curhat lewat ponsel atau laptop mereka. Semuanya mencurahkan uneg-uneg atau cerita sehari-hari hanya di media sosial. Bahkan ketika mereka duduk berhadapan untuk makan, bukannya saling bercengkrama malah bisa-bisa saling sibuk memijit-mijit ponsel. Duh!

Mungkin hal-hal lain yang memicu datangnya broken home ke keluarga kita bisa begitu banyak. Tapi yang jelas, kita mesti mewaspadai semua faktor yang menyebabkan kehangatan keluarga jadi luntur.

Nah, bagi yang keluarganya baik-baik saja, jagalah. Terus bagi produk broken home di manapun berada, kita (dikau dan daku) senasib. Cerita kita penuh konflik. So, mari perbaiki agar endingnya hepi. ^_^

***
Tulisan kiriman: Dee Ann Rose
Twitter: @Dee_Ann_Rose
Editor: Petrus Andre


Cinta memang bisa membuat perasaan melayang hingga ke atas awan tapi cinta juga bisa membuat galau tingkat akut. Psst, tapi cinta yang “halal” walaupun sempat membuat galau, endingnya tetap saja manis karena kegalauan di dalamnya adalah perjalanan menuju berkah berikut karena kegalauan yang dilewati berarti juga satu ujian telah dilewati, menuju kepada level cinta berikutnya. Aih, indahnya.

Galau luar biasa, begitulah rasanya ketika suami sakit. Apalagi jika sakitnya pada waktu libur lebaran, saat di mana tenaga-tenaga kesehatan lagi pada cuti. Kerabat yang berprofesi sebagai dokter sedang mudik sementara nomor ponsel seorang dokter – sahabat keluarga tak kami simpan. Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya kami mendapatkan nomor kontaknya.

Pukul sepuluh pagi adalah waktu yang disepakati untuk bertemu dokter. Hari itu adalah hari kerja pertama pasca libur lebaran. Sewaktu ditelepon, dokter menyarankan untuk membeli obat anti mual – Sotatic namanya. Suami saya muntah-muntah hebat semalaman. Bukan hanya bubur, air putih pun dimuntahkannya. Obat itu harus diminumkan secepat mungkin.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Apotek biasanya belum buka jam segini. Saya harus mencari apotek yang buka dua puluh empat jam. Saya berjalan kaki keluar rumah dengan perasaan setengah melayang, meninggalkan sang separuh jiwa yang sedang menahan sakit di atas pembaringan. Saya memanggil bentor (becak bermotor) yang sedang parkir. Pengemudinya menanyakan tujuan saya.

“Saya mau ke apotek di jalan Rusa. Tapi kalau apotek dekat sini sudah buka, kita ke situ saja,” saya menjelaskan. Jalan Rusa berjarak satu kilometer dari rumah. “Bila apotek dekat sini sudah buka, lumayan juga menghemat waktu dan rupiah,” walau galau, pikiran matematis ala iburumahtangga saya masih berfungsi.

Badan saya yang kurang sehat merasakan angin dingin menembusi pakaian. Mata saya yang setengah nanar karena kurang tidur mengamati deretan ruko yang kami lalui, ada apotek di antaranya. Saya tersenyum samar melihat pintu apotek itu terbuka lalu memberi aba-aba kepada pengemudi bentor supaya berhenti.

Saya turun dan menghampiri seorang wanita paruh baya berkulit kuning dan berwajah oriental yang sedang menyapu di depan ruko yang pintunya terbuka itu.

“Permisi Ci’, sudah buka?” tegur saya ramah. Sesungging senyum saya hadiahkan kepadanya.
“Mau beli apa?” wanita itu menatap saya tanpa balas tersenyum.
“Mau beli Sotatic,” jawab saya sopan.
“Apa itu?”
“Obat anti mual.”

Wanita paruh baya itu melengos, terlihat gurat sebal di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, ia menunjuk tegas ke arah ruko di sebelah kiri ruko yang pintunya terbuka itu. Pintu ruko yang ditunjuknya masih tertutup. Wanita itu balik badan, meninggalkan saya yang terlongo.

Seketika rasa galau berubah menjadi rasa blo’on luar biasa ketika saya membaca tulisan di atas ruko yang dimasuki wanita paruh baya itu: PERCETAKAN. Sementara papan yang terletak di atas ruko yang ditunjuknya bertuliskan: APOTEK. Olala pantas saja dia kelihatan sebal, mana ada percetakan yang menjual obat anti mual?

Kegalauan telah membawa saya ke ruko yang salah. Ruko yang hendak saya datangi itu masih selangkah di sebelah ruko wanita paruh baya itu. Saya memang pantas membuatnya sebal. Duh, ingin rasanya mencubiti diri sendiri.

Saya bergerak menuju bentor. Entah polos atau terlambat mencerna, pengemudi bentor bertanya mengenai obat yang saya cari, “Ada, Bu?”

“Tidak ada. Ayo kita ke apotek yang di jalan Rusa itu!” saya mengarahkan wajah bersemu malu saya lurus ke arah depan. Mudah-mudahan ia tak menyadari ketololan saya.

Dua hari kemudian, setelah kisah ini saya ceritakan kepada suami, kami berdua tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai sulit berhenti. Ah, cinta … memang rasanya gado-gado ya.

note :  Jangan lupa ikutan giveaway Istri Yang Baik di blog saya  hingga tanggal 2 Desember 2014, Infonya bisa dicek di sini

Selangkah Melepaskanmu
Sumber: vemale.com

Mengenalmu begitu memberi kesan berharga, seolah inilah moment hidup yang nggak akan pernah bisa dimusnahkan. Sepanjang hari selalu diselingi senyuman. Aku tersenyum dengan kata-kata lembut mu, Akhi. Aku menyukai perhatian dan guyonan kecilmu yang lucu.

Setiap sabtu malam minggu aku menunggu sms darimu, menanti penyemangat hidupku, seorang lelaki yang perlahan-lahan menanamkan benih cinta. Kamu datang bukan dengan seekor kuda putih seperti dongeng, melainkan datang dengan apa adanya dirimu. Berbekal iman, akhlak, dan keberanianmu. Kamu memberikan kebahagiaan seolah cinta kita tak pernah berakhir. Kita sama-sama dimabuk cinta, bermanja-manja melewati batas, melupakan waktu yang berharga.

Semakin hari, kau dan aku menginginkan hubungan ini berlanjut lebih serius lagi. Namun ternyata keinginan mulia ini disusul dengan pertengkaran kecil sepanjang malam. Permasalahan cemburu, dekat dengan orang lain, atau kesalahpahaman lainnya. Kau dan aku makin hambar… Kau dan aku makin merasakan kehilangan cinta. Satu per satu perasaan luntur. Tapi kita selalu mencoba belajar saling mencintai lagi. Lagi. Dan lagi…
Kau dan aku mencoba bertahan pada hubungan yang di ujung kehancuran. Entah karena apa… Tuhan menghadirkan kita dalam keadaan marah, emosi berlebihan hingga suatu hari kita memutuskan pergi sendiri-sendiri. Aku menangis, akhi. Aku tahu kau juga menangis. Aku mengerti dadamu merasakan sesak yang mendalam. Aku tahu engkau meneteskan air mata, meski berulangkali kau coba menghapusnya begitu aku melihat.
Akhi, maafkanlah emosiku.
Maafkanlah semua kekhilafan kita. Maafkanlah masa lalu kita, meskipun tidak akan merubah apapun di masa lalu. Setidaknya dengan maaf bisa menjadikan kita lebih kuat dari sebelumnya.
Akhi, aku salah ya, aku pikir mengenalmu tidak akan pernah musnah, menaruh hati padamu tidak akan pernah berakhir. Nyatanya, kita sekarang berpisah… :’( mungkin ini kesalahan kita… karena yang terlalu mencintai, akan saling menjauh. Mungkin Allah cemburu dengan kita, sehingga inilah hukuman yang pantas kita terima. Berpisah… berpisah, akhi!

Seandainya saja di sana kamu tahu, akhi. Aku nggak pernah sedetik pun membencimu. Sedikit pun tak pernah meletakkan benih dendam di hati. Aku sangat menghargaimu, akhi. Aku tidak mau melupakanmu meski sekarang keberadaanmu menghilang. Sungguh sulit menemukanmu dalam keadaan saling cinta. Kamu sudah pergi lama. Kamu seakan pergi berada di tempat yang jauh sejak kau berhenti mencintai aku.
Yang perlu aku lakukan hanyalah membiarkan hidup ini terus berjalan. Selangkah demi langkah melepaskanmu tanpa harus dipaksa, akhi. Dengan begini akan terasa mudah… dengan begini aku bisa lebih ikhlas. Dengan begini cintaku pada Rabbku tak mungkin terbagi.

Ya akhi, jangan khawatirkan keadaanku di sini ya… rinduku sangat besar untukmu, dan kusimpan rapat-rapat. Aku baik-baik saja, segenap hati ku luruskan niat untuk memperbaiki diri. Kalau kia berjodoh, aku mau dipertemukan kembali dalam keadaan sebaik-baiknya keadaan. Oleh karena itu akhi, perbaiki dirimu juga ya… Jangan selipkan cintamu padaku, sebelum pernikahan itu berlangsung. Aku takut cinta kita adalah tiupan setan.
***
Tulisan kiriman: Novelia Indri 
Twitter: @noveliaindris
Editor: Petrus Andre


Oleh: Mugniar

Awal mula ngeblog, saya tidak berpikir untuk menulis buku. Mulanya hanya untuk curhat dan mendokumentasikan kejadian sehari-hari. Malah ketika tahun 2006 – 2009, saya ngeblog hanya untuk diri sendiri. Yang membaca blog praktis hanya diri saya sendiri karena saya tidak bergabung dengan komunitas mana pun. Betapa girangnya saya kalau ada orang yang kesasar masuk ke dalam blog tersebut. Seperti saat seorang kawan mengatakan telah menemukan blog saya. Walau setelahnya, bisa dipastikan dia melupakan blog saya dan tidak pernah kembali lagi he he he.

Antara tahun 2009 – 2010, saya vakum dari kegiatan ngeblog. Sampai suami saya membuatkan blog baru yang mulai saya isi pada awal tahun 2011. Waktu itu saya mulai tertarik dengan menulis. Karena lomba yang saya ikuti mengharuskan pesertanya untuk memiliki akun facebook, saya pun membuat akun.

Sejak itu saya jadi kesengsem dengan dunia menulis dan blogging. Saya berteman dengan banyak penulis dan blogger, juga bergabung dengan banyak komunitas menulis/blogger. Akhirnya saya harus memilih beberapa komunitas karena sudah kewalahan dengan notifikasi yang masuk dan bingung hendak melakukan apa ketika membuka facebook.

Semakin ditekuni, ngeblog semakin menarik saja. Semakin sering posting tulisan, saya merasakan kemampuan menulis saya semakin terasah. Ini berguna sekali karena saya makin suka mengikuti berbagai kompetisi, baik lomba/giveaway blog maupun audisi untuk buku antologi.

Dan ternyata, semakin sering menulis membuat ide semakin deras mengalir, lho! Jadinya semakin banyak hal yang ingin saya tulis. Saya malah jadi kewalahan sendiri karena kesibukan di dunia nyata saya juga tak kalah banyaknya dengan ide yang bermunculan. Saya jadi berkhayal, andai saja ada aplikasi yang bisa menuangkan pikiran langsung menjadi tulisan di blog, saya mungkin bisa posting 50-an tulisan tiap bulan wkwkwk.

Hm, sepertinya ada yang bertanya, kesibukan saya apa ya? Saya ibu rumah tangga dengan 3 anak, tanpa asisten rumah tangga. Keseharian saya penuh dengan urusan rumah tangga dari membuka mata sampai menjelang tidur di malam hari. Saat ini saya kesibukan saya bertambah banyak karena saya juga menjadi kontributor di beberapa website, diamanahi tugas untuk “mengawal” sebuah komunitas lokal yang anggotanya perempuan semua, dan kirim-kirim tulisan ke media cetak. Lalu bagaimana dengan lomba-lomba? Tetaaaap doong diusahakan, hehehe.

Buat saya menulis dan ngeblog manfaatnya banyak sekali. Teman jadi semakin banyak, jaringan semakin luas, wawasan semakin luas, dan peluang rezeki semakin banyak. Saya kemudian membuktikan pendapat yang mengatakan bahwa menulis itu bukan bakat tapi kemauan. Kenapa? Karena saya bukanlah orang yang suka menulis sejak kecil. Saya menekuni dunia menulis dan ngeblog ketika usia saya sudah tidak muda lagi (menjelang angka 37).

Saya juga bisa membuktikan satu hal, bahwa ide tidak susah dicari, ide itu bertebaran di sekitar kita. Ide ada pada buku yang kita baca, tayangan televisi yang kita tonton, pengalaman ketika ke luar rumah, ada pada anggota keluarga, ada di dalam rumah, bahkan ada di dalam kamar tidur kita. Tidak sulit menemukan ide, yang penting mau benar-benar berusaha menemukannya dengan cara peka dalam menjaringnya.

Ah, ada yang bilang “masih sulit”. Saya kasih contoh deh. Begini, misalnya saja .. saat ini kan sedang ramai tuh stasiun televisi membicarakan tentang pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sampai-sampai ada yang menayangkannya berhari-hari seakan-akan Raffi dan Nagita ini putra dan putri mahkotanya Indonesia.

Nah, berkaitan dengan berita-berita ini, kamu kan pastinya punya perasaan atau pendapat sendiri, entah itu pro ataupun kontra. Tulislah perasaan atau pikiranmu itu. Tulis dengan santun, jangan asal marah-marah kalau tak setuju tapi kemukakan argumennya dengan baik.

Atau saat membaca sebuah buku, kamu memiliki pendapat tentang buku itu, tulis saja. Tidak sulit kan?

Yang penting, jadikan menulis dan ngeblog itu sebagai kegiatan yang menyenangkan. Jangan menjadikannya sebagai beban. Kalau merasakannya sebagai beban …. waaah, sepertinya kamu belum bisa jadi blogger deh


Makassar 18 Oktober 2014


NB:
Oya, sampai insya Allah tanggal 2 Desember 2014, sedang dilangsungkan giveaway di blog saya. Infonya bisa dicek di sini

3 Jenis Komen yang Membakar Semangat Saat Ngeblog

Sebagai seorang blogger, saya memang terbilang miskin pengalaman. Dari umur blog saya yang berusia sudah hampir 6 tahun, saya hanya mendapatkan kurang lebih 980-an komen di mana 260-annya adalah komen saya sendiri, hehe.

Tapi dari komen-komen itu, saya merasakan sendiri, bagaimana sebuah kata dari pembaca bisa sangat mempengaruhi mood saya saat ngeblog. Tak bisa dipungkiri, komen-komen bernada negatif (yang biasanya saya dapatkan dari konten sensitif seperti agama) bisa membuat semangat kita mendadak turun, tidak hanya untuk ngeblog, tapi juga untuk menjalani kehidupan sehari. Sebaliknya, dari komen-komen yang bernada positif (yang biasanya saya dapatkan dari konten ringan namun bermanfaat, seperti tips dan trik), bisa membuat semangat saya jadi bagus seharian.
 
Bahkan, pernah saya mendapatkan komen yang menurut saya sangat menyenangkan, dan itu membuat saya bersemangat tinggi, meskipun saat itu saya sedang mengalami ‘krisis tanggal tua’. Iya, itu semacam krisis di mana bisa makan nasi bungkus angkringan 3 kali sehari adalah sebuah kemewahan tersendiri.
Nah, karena itulah, saya di sini ingin berbagi pendapat mengenai 3 jenis komen yang membakar semangat saat ngeblog.  Harapan saya sih, dengan membaca pendapat saya ini, teman-teman bisa semakin arif dalam memberikan komen. :)
 
Oke, jadi inilah 3 jenis komen itu:

1. Ucapan terimakasih
Ya, mungkin terkesan sepele sih. Dulu waktu saya belum sering mendapat komen dan lebih sering memberi komen, saya merasa mengucapkan ucapan terimakasih adalah sesuatu yang biasa banget. Gak spesial.
Tapi, ketika saya merasakan sendiri, saat membuat postingan yang saya harap bermanfaat, lalu ada orang yang mengucapkan terimakasih, ternyata rasanya beda.
Bahkan, walaupun mungkin si penulis komen menulis kata “Terima kasih infonya, gan!” dengan pengucapan yang sebenarnya biasa aja, bagi saya, itu terbaca seolah dia berteriak, “TERIMA KASIH GAAAAAN!” Paham gak maksud saya? Hehe.
2. Ungkapan setuju
Pada dasarnya memang setiap manusia pasti ingin pendapatnya disetujui bukan? Karena itulah dia mengatakan pendapatnya. Dan saya tidak bisa lebih senang lagi, ketika saya mengutarakan pendapat saya, ide saya, dan kemudian ada teman pembaca (yang entah kenal atau tidak dengan saya) yang mengungkapkan kesetujuannya.
Anggap saya egois, tapi hal itu terasa menyenangkan sekali, saat ada orang yang sepemikiran dengan kita.
3. Pernyataan reaksi yang sesuai dengan tujuan tulisan kita
Maksudnya gimana nih? Iya, maaf, sepertinya tulisan saya agak mbulet. Maklum, disambi nulis skripsi soalnya, jadi bahasanya kadang kecampur dengan bahasa ilmiah. #Alesan
Jadi, maksudnya gini, saya sering  menulis postingan dengan maksud yang berbeda. Kadang saya menulis agar pembaca tertawa, kadang saya menulis agar pembaca bisa merasakan kesedihan dan (mungkin) sampai menangis. Saya kadang juga menulis agar pembaca ikut berpikir tentang suatu permasalahan.
 
Dan saya akan sangat merasa puas dan bersemangat, ketika di kolom komen, ada pembaca yang menunjukan reaksi seperti yang saya harapkan. Misal, saya menulis tulisan yang sedih, lalu ada komen, “Wah, brebes mili aku bro sama tulisanmu.” Atau, “Baca tulisanmu jadi inget Bapakku, Mas. T.T” dan begitu pula untuk tulisan-tulisan lucu yang mendapat komen, “HAHAHAHAHAHA.” :)
Ya, kurang lebih, menurut saya itulah 3 jenis komen yang membuat semangat nge-blog saya mendadak naik. Nah, kalau kamu gimana? Paling suka sama komen apa?

NB: Saya sengaja gak bahas tentang komen yang tidak disuka, karena saya rasa, kita semua sepakat menjadikan komen spam sebagai komen yang paling tidak disukai, bukan? :D

***
Tulisan kiriman: Agfian Muntaha 
Twitter: @ianfalezt
Editor: Petrus Andre

Atas Nama Kemenangan
Sumber Gambar: LINK

Apakah penting untuk selalu menang dalam setiap permainan – atau segala hal? Siapakah yang sebenarnya (paling?) pantas disebut pemenang?
Sudah tiga kali benak saya dihampiri dua pertanyaan itu. Yang pertama saat saya hanya punya 20 menit untuk menyelesaikan esai sebanyak 80 kata dalam bahasa Inggris, dalam rangka melamar kerja. Yang kedua saat saya dan murid-murid remaja saya tengah membahas mengenai kisah seorang gadis berusia 15 tahun yang jenius, karena sudah duduk di bangku kuliah – meski tak bisa bermain piano sebaik yang dia inginkan.
Yang ketiga cukup bodoh: emosi saya sempat ‘terpancing’ gara-gara update statuskonyol (setidaknya, menurut saya, nih!) yang akhirnya membuat saya memutuskan untukunfollow, remove, dan – sekalian! – memblokir akun orang tersebut. Mengapa? Saya jahat? Kenapa tidak? Itu hak saya, sama seperti hak Anda untuk setuju atau tidak dengan pendapat saya. (Kalau kita mau bicara hak asasi, ya!)

Saat menulis esai, dengan jujur saya menjawab bahwa...ya, pada dasarnya – semua orang selalu ingin menang. Percaya deh, nggak ada yang mau bercita-cita untuk kalah atau jadi pecundang. Aneh saja.
Karena itulah, banyak yang sampai menempuh segala cara untuk memenangkan sesuatu – atau paling tidak dianggap pemenang-lah. Mulai dari melanggar aturan hingga memanipulasi perasaan orang lain agar merasa bersalah dan membiarkan si perengek menang. Tak peduli curang atau sampai menumbalkan orang lain, pokoknya harus menang. Apalagi bila kemudian yang menang bisa berbuat suka-suka sama yang kalah. Siapa sih, yang tidak punya keinginan untuk (merasa) berkuasa, setidaknya sekali saja dalam hidupnya?
Tak heran, bullying akan selalu menguntungkan pelaku bullying. (Ya, iyalah! Apalagi orang bisa kaya hanya dengan menjadi preman dan mengancam serta memeras orang lain.) Meski terdengar amat menyedihkan, banyak sosok gila hormat di antara kita yang sama sekali tidak peduli perasaan orang lain, selama yang mereka lakukan dapat membuat mereka merasa superior. (Kasihan? Memuakkan mah, iya.)

Saat membahas gadis jenius berusia 15 tahun yang sudah duduk di bangku kuliah, saya bersyukur dengan respon cerdas, positif, dan dewasa murid-murid di kelas saya. Menurut mereka, ada alasan bagus kenapa gadis itu tidak diberkahi bakat bermain piano.
Ada alasan mengapa kita tidak selalu bisa melakukan segalanya sendiri, bahkan meski diberkahi otak jenius. Pertama, manusia super hanya ada di cerita fiksi. Dengan cara-Nya sendiri, Tuhan tidak pernah berhenti mengingatkan kita. Kita hanya manusia biasa. Alangkah berbahayanya bila kita terlalu bisa segalanya. Selain dapat menumbuhkan sifat angkuh atau sombong (karena merasa tidak butuh siapa-siapa lagi, berhubung toh, semuanya sudah bisa dikerjakan sendiri), kita akan cenderung memandang rendah orang lain dan berbuat semena-mena. Tidak sadar sudah terkena sindrom ‘primadonna complex’!
Jangankan yang bisa segalanya (kalau ada!), yang baru bisa seadanya saja juga bisa bersikap sombong sama orang lain.

Kadang ada kalah, ada menang dalam hidup. Terlalu sering kalah dapat menyebabkan rasa putus-asa. Terlalu sering menang juga berbuah jumawa. Karena itulah Tuhan Maha Adil. Kita diberi kemenangan (atau kelebihan) agar lebih menghargai diri kita. Kita juga diberi kekalahan (atau kelemahan) agar lebih menghargai orang lain yang (sebenarnya) kita butuhkan. Mudah dan sederhana sekali, bukan?
Suka tidak suka, media sosial sudah menjadi ‘sampah’ isi pemikiran pemakainya. Seperti biasa, saya tidak bisa berbuat atau berkata banyak. Semua orang bebas berekspresi. Sama seperti resikonya yang kemudian lazim mengikuti: orang lain bebas mengomentari, setuju atau tidak. Itulah yang akan selalu terjadi.

Dari situlah kita dapat menilai kualitas kepribadian seseorang, lalu memutuskan apa yang akan kita lakukan kemudian. Mau terus berteman dengan mereka atau sudahan? Terserah. Kita berhak bahagia dan merasa aman. Untuk apa memaksakan diri terus berteman dengan mereka yang tak lagi bikin kita merasa nyaman – apalagi hanya atas nama kesopanan belaka? Bukan berarti kita lantas total memusuhi mereka – atau bahkan sampai menyumpah-nyumpahi agar mereka tertimpa kemalangan. (Please, jangan samakan hidup Anda dengan sinetron Korea!)

Kita hanya menjaga diri kita agar tetap waras. Bahagia itu sederhana, bukan?
Sayangnya, masih banyak sosok (yang ‘katanya’) dewasa yang menganggap kemenangan adalah segalanya. Saking senangnya, mereka merasa makin seru saat – dalam peraturan permainan itu – yang menang berhak memperbudak yang kalah sesuka hati. Terdengar seperti bullying? Pasti. Itulah yang saya komentari.
Sayangnya juga, jawaban orang itu tak sedewasa dan secerdas yang saya harapkan. (Bodoh juga saya, yang kadang memang suka berharap terlalu banyak sama orang!) Katanya: “Itu ‘kan hak pemenang. Tak perlu lebay.”

Yah, barangkali menurut dia hanya pemenanglah yang berhak bersikap lebay dengan kemenangan mereka, yaitu dengan mem-bully yang kalah agar yang kalah makin merasa bagai pecundang. Karena saya bukan tipe orang yang tahan berteman dengan orang bermental bully,maka dengan senang hati saya blokir mereka dari kehidupan saya.

Sepertinya saya sudah menjawab pertanyaan pertama. Untuk yang kedua, sepertinya (akan selalu) sama seperti yang dulu pernah saya tulis di esai:
Semua orang bisa jadi pemenang. Hanya mereka yang bersikap sportif-lah yang patut disebut juara, meski tak selalu mendapatkan medali atau mencapai garis finish. Terdengar klise? Apakah saya tengah mencoba menghibur diri? Terserah anggapan Anda. Yang pasti, inilah yang saya pilih untuk percaya, demi kewarasan dan ketenangan batin semata. Lagipula, dunia ini sudah kelewat sesak oleh mereka yang gila kuasa, sampai rela menempuh berbagai cara yang – asli! – suka nggak kira-kira...

***
Tulisan kiriman: Ruby Astari
Editor: Petrus Andre


Jumat (17/10/14), di Mall Pejaten Village pukul 14.00 WIB, diramaikan dengan adanya Meet and Greet para pemain film drama Indonesia terbaru berjudul 'Remember When : Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta' yang diadaptasi dari novel karya Winna Effendi dengan judul yang sama. Acara yang diselenggarakan oleh Agromedia dan bekerjasama dengan Gramedia ini menarik banyak perhatian para pengunjung, terutama sejumlah remaja. Seorang perwakilan komunitas Warung Blogger pun berkesempatan datang menghadiri acara tersebut atas undangan dari penerbit Bukune.

Selain Stella Cornellia (Gia), Michelle Ziudith (Freya), dan Miqdad Addausy (Moses), Meet and Greet tersebut juga dihadiri oleh penulis sekenario Haqi Ahmad dan pengarang buku Remember When, Winna Effendi. Sayang, Maxime Bouttier yang berperan sebagai Adrian berhalangan hadir. Namun acara tetap berlangsung dan mereka saling sharing mengenai pengalaman, kendala, serta suka duka dalam pembuatan film Remember When, yang resmi tayang pada tanggal 16 Oktober, di seluruh bioskop di Indonesia.

"Ini pengalaman baru buatku, apalagi ini debut film, rasanya seru dan jadi banyak belajar," ucap Michelle dengan tersenyum saat ditanya tentang pengalamannya, ketika berperan sebagai Freya. "Bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis juga, asik banget," Stella menambahkan, dan semua peserta tertawa.

(Dari ki-ka) Miqdad Addausy, Michelle Ziudith, Stella Cornellia, dan Winna Effendi.

Pukul tiga, sesi tanya jawab dilakukan untuk para pemain, serta penulis cerita. Berbagai pertanyaan dilontarkan dan satu persatu pemain film menjawab dengan antusias yang sama. Selain sesi tanya jawab, MC pun mengajukan pertanyaan tentang siapa saja yang sudah menonton dan membaca film-nya, diharapkan naik ke atas panggung. Euforia untuk melihat sang idola lebih dekat begitu terasa ketika ramai-ramai peserta mengangkat tangan sambil memekik riang. Setelah terpilih, mereka dibolehkan bertanya, foto bersama, dan bersalaman dengan Haqi, Miqdad, Michelle, Stella, dan Winna Effendi.

Para pemain, penulis naskah, penulis novel, dan seorang pembaca novel Remember When yang terpilih untuk maju ke atas panggung.

Pukul 16:00 WIB acara Meet and Greet pun akhirnya ditutup dan dilanjutkan dengan menonton "Remember When" bersama para pemain di XXI Pejaten Village. Film "Remember When" bercerita tentang persahabatan di masa SMA yang tanpa direncanakan terjalin cinta segi empat. Film ini masih dapat Anda saksikan di bioskop kesayangan Anda. (Uni Dzalika)


Dok. milik @filmrwhen @febyeol @unidzalika

Memang kadang ada aja yang pengen diperhatiin banyak orang. Tetapi ada juga yang malu tersipu-sipu kalau diperhatiin banyak orang. Setiap orang beda-beda. Resiko caper (cari perhatian) itu kadang disorakin, kadang di bilang caper banget, kadang dikeluarin dari sekolah. Semua itu bisa teratasi kalau kita punya rasa percaya diri yang tinggi.

Cara Cari Perhatian di Depan Banyak Orang
Sumber gambar: : LINK
 Memang mantap kalo punya rasa percaya diri yang tinggi, tapi gua saranin mending jangan terlalu ke-pedean (percaya dirian) Karena resikonya hampir sama kayak kita kalo gagal caper didepan orang. Tapi beda resikonya sama kalo kita gagal cinta. Orang juga kalo lagi serius, lu mending jangan caper, karena pengalaman gua kayak gitu berakhir PAHIT. Tanpa basa basi langsung aja nih cara cara absurd cari perhatian di depan banyak orang :

1. Coba untuk ngelawak di depan.
Emang ngelawak itu susah, tapi kalau cara ini berhasil, pasti lu jadi pusat perhatian. Ngelawak kalo garing juga lu pasti ngerasain pahitnya hidup perlawakan. Sesungguhnya orang yang berusaha, pasti suatu hari dia akan merasakan indahnya kesuksesan.

2. Dengan cara memakai kostum yang unik.
Coba lu gunakan cara ini ketika disekolah. Disaat kelas lagi free class, lu cari atau bikin atau nyolong salah satu kostum unik. Kalo udah dapet, lu pake deh, kayak pake baju dari kardus atau cari kaos kaki temen terus dipake kemuka, dll. Gua yakin, pasti kalo kalian gak berhasil, paling cuma disorakin gak sampe dilempar meja. Semangat 45, bro!

3. Berpose atau nari-nari gak jelas.
Maksud berpose atau nari-nari gak jelas itu apa? Maksudnya kalo berpose itu kayak gaya ala lagi photoshoot gitu, dan kalo nari-nari gak jelas kita joget-joget absurd, contoh joget kepala pusing atau joget sapi kurus ataupun joget monyet ngamuk. Ati-ati kesinggung.

4. Pukul orang dengan sengaja.

Pukul orang emang membuat orang itu marah, maanya lu kalo mukul jangan keras-keras. Kalo abis dipukul lu bilang maaf gak sengaja, padahal lu dengan sengajanya mukul orang itu. Kenapa cara ini bisa untuk cari perhatian? Karena disaat suasananya sunyi, bunyi apapun itu terdengar, dan semua pasti akan melihat sumber suara itu. Tapi dicara ini, lu harus hati-hati, takutnya kalo yang lu pukul preman aja, gua gak tanggung.

Sekali lagi gua kasih tau sama kalian, kalo mau cari perhatian didepan banyak orang, harus siap mengambil resikonya. Jangan mau enaknya aja, kita juga harus ngerasain gimana malu kalo gagal curi perhatian orang, ya paling cuma tengsin.

Mungkin itu adalah salah 4 dari cara curi perhatian di depan umum. Gua kasih tau sama kalian semua, bahwa survey Cak Lontong mengatakan, 50% orang yang memakai cara absurd gua diatas adalah gagal, sedangkan 50% nya lagi baru hampir berhasil. Selamat mencoba.


***

Tulisan kiriman: Fahira Adindiah
Akun twitter: @fahiraadindiah
Editor: Petrus Andre

Tour! Apa yang ada dibenak kamu ketika mendengar kata tersebut? Tour ke museum, tempat sejarah, ke alam bebas seperti: Gunung, atau Pantai. Lain dengan tour umumnya, kali ini justru sebaliknya. Yaitu tour bersama teman-teman Blogger yang tinggal disekitar Jabodetabek dan Blogger dari beberapa komunitas. 

Suatu kebanggaan buat Admin Warung Blogger, yang dalam hal ini diwakilkan oleh #Sobat_Bercahaya, pada hari Sabtu 27 September 2014 bersama dengan beberapa warga Warung Blogger diberi kesempatan bergabung bersama mereka.

Semua orang tertarik akan kemakmuran dan berusaha bagaimana meningkatkan kemakmuran mereka. Banyak yang berusaha dengan mencari penghasilan tambahan, atau berusaha ekstra dan mengharapkan bonus atau kenaikan pangkat bahkan ada beberapa dari saudara kita yang mencoba “mengambil” yang bukan merupakan hak nya, agar lebih makmur. Memang secara logika kita, itu adalah hal hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kemakmuran kita, tapi sebenarnya ada satu hal yang terlupakan. Hal yang sebenarnya merupakan kunci untuk meningkatkan kemakmuran anda. melalui tulisan ini saya akan mencoba memberikan pemahaman yang benar tentang kemakmuran
Kaya Belum Tentu Makmur
Sumber: link


Sebelum saya memberikan kunci kemakmuran yang dapat membuat anda menjadi lebih makmur, saya harus memberikan pemahaman akan apa itu kemakmuran. Banyak orang yang mengira bahwa untuk makmur mereka harus menghasilkan banyak uang, atau untuk makmur mereka harus mengurangi pengeluaran dan mengencangkan ikat pinggang. Walaupun mereka melakukan itu, mereka tidak akan dapat makmur karena sebenarnya kemakmuran tidak sesederhana itu. Tanpa memahami kemakmuran yang benar, saya merasa akan percuma anda mengetahui kunci kemakmuran yang akan saya bagikan.

Guru saya pernah mengatakan “Seseorang yang makmur belum tentu kaya dan seseorang yang kaya belum tentu makmur”. Mungkin agak aneh di telinga anda, namun begitulah adanya. Perlu dipahami bahwa kemakmuran adalah pada saat kebutuhan dan hal yang kita perlukan datang pada saat dibutuhkan, dan biasanya datang tanpa usaha yang terlalu berat. Dibawah ini saya akan berikan contoh yang ekstrim antara mereka yang kaya dan mereka yang makmur.
Ada saudara kita yang sangat kaya, anggap saja namanya Wid. Wid menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan, namun dia memiliki masalah kemakmuran dan akhirnya tidak dapat dapat menikmati apa yang dapat dihasilkannya. Pada saat Wid memerlukan uang dalam jumlah tertentu untuk membeli sebidang tanah, dia tidak dapat melakukanya. Uang yang dihasilkannya tidak dapat liquid pada saat dibutuhkannya, atau ada gangguan gangguan yang menyebabkan dia tidak dapat membeli tanah itu. Pada kasus ini, saudara kita, Wid, adalah contoh mereka yang kaya namun pada saat itu tidak makmur. Pada saat itu Wid belum memahami apa itu kemakmuran, belum mempraktikan kunci kemakmuran dan belum makmur. 
Pada kasus lain, saudara kita, panggil saja Sani, adalah seorang dengan penghasilan yang tidak sebanyak Wid, namun dengan mudah dia mendapatkan banyak hal. Disaat Sani memerlukan modal dalam usahanya, muncul orang yang dengan suka rela meminjamkan uang, pada saat dia memerlukan tempat tinggal, muncul orang yang secara rela memberikan tempat tinggal. Dalam hal material, pernah juga ada orang yang datang dan dengan suka rela memberikan banyak materi, seperti sepatu dari luar negeri, tiket pesawat, bahkan uang. Tampaknya tidak masuk diakal, namun saya berani menulis ini karena saya melihat dengan mata saya sendiri semua itu terjadi.
Tampak perbedaan yang mencolok dari dua saudara kita itu, Wid yang merupakan orang kaya namun pada saat itu belum makmur, dan Sani yang tidak sekaya Wid namun semua kebutuhan datang pada saat diperlukan. Dari dua saudara kita itu kita dapat belajar bahwa kemakmuran adalah pada saat kebutuhan dan hal yang kita perlukan datang pada saat yang tepat, dan biasanya datang tanpa usaha yang terlalu berat
Jadi jangan berpikir yang penting adalah menjadi kaya, karena kaya belum tentu tercukupi. Mari kita memiliki mindset untuk menjadi makmur, semua kebutuhan terpenuhi dan berkelimpahan. Tentu saja jika semua kebutuhan terpenuhi, kita dapat menabung, berinvestasi dan akhirnya menjadi kaya tanpa meninggalkan kemakmuran kita.

***

Tulisan kiriman: Sarirastho Mahotama Seputra
Akun twitter: @deturastho
Editor: Petrus Andre

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.