Articles by "Lifestyle"

#5TahunWB #5TahunWB: Photo Quotes Contest #7TahunWB #8TahunWB #HappyBlogging #Menu7uhWBLebihBaik #MubesWB 4 Tahun Ultah WB 7 Tahun Warung Blogger 79 Tahun Sinar Mas untuk Indonesia 90an Access Trade Advertorial Afiliasi Anak ANDA SEORANG INTERNET TROLL? Anniversary aplikasi musik artikel WB Ayah Bahasa Bangkit dari Kehilangan Orang Tua Bedah Buku belanja online Bermain Kata Kunci Bintang 14 Hari blibli Blog competition Bloger di Masa Depan Blogging Budaya Buku Cara Bergabung Catatan Ringan Cerpen Charity Cheria Halal Holiday competition Copy Paste Crowdo Digital Millennium Copyright Act DMCA EBI Emak Gaoel Vlog Competition Ensiklopedia Eva Sri Rahayu Event WB EYD Facebook WB Fakta dan Mitos Fashion & Beauty Festival Prestasi Indonesia UKP-PIP Pancasila Inspirasi Maju Filosofi finansial Gadget Generasi 90an Gerakan PKK Google Google Question Hub Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis di Blog Hari Bloger Nasional Hari Blogger Nasional Hiburan Hikmah Hobi hotel murah di Bali hubungan Imbuhan Indonesiaku Info info lomba InfoWB Inspirasi Involve Asia istri Jakarta Kangen Band Karya Kata Depan di KBBI ke Kelas Bahasa Keluarga Kesehatan keuangan Kiat Menulis Postingan Blog Kompetisi Blog 5 Tahun Warung Blogger Kompetisi Blog 6 Tahun Warung Blogger kompetisi blog langit musik Kompetisi Blog LangitMusik Konsistensi Kontes WB Kopdar Mini Suka-suka Kopdar WB KOPI SUSU WB Kuliner Langit Musik Blog Competition #MusiknyaHidupKamu Langit Musik: Musiknya Hidup Kamu Liburan life Lifestyle Logo Logo Baru Lokasi Lomba Lomba Blog Menu7uh Warung Blogger Lomba Menulis Manfaat Olahraga yang Menakjubkan Media Menulis Motivasi Musik & Film new langit musik Novel Novel Indonesia Oase Olahraga Olahraga & Kesehatan Parade Para Monster Parenting Peduli Kata Kunci Pendidikan pengumuman pemenang Permainan Rakyat Pojok Pojok WB POJOK WB IDOL Positif Self Talk Ramadan relationship Reportase Resensi Buku Resolusi Retweet Review review produk rumah tangga saleduck Sastra Sastra & Seni self help SEO Shell Shell Eco-Marathon Sosial & Budaya suami Subjektif tahun baru Teknologi teman Tidur Tips Belanja Hemat Ala Blogger Tips Blog Tips dan Trik Tips Media Sosial Tomyam kelapa Saung Ibu Trade Expo Indonesia 2017 Travelio Travelling tulisan pilihan Tutorial Blog Twitter Twitter WB Ultah WB Ultah WB ke-6 urun artikel Utees.me Vlog Competition Warga WB Warna Warung Blogger Wisata Writing Writing Competition Zaman Sekarang Telat Untuk Jadi Blogger
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts


            Dalam sebuah hubungan di kehidupan ada rasa suka, benci, sayang, ataupun cinta, begitulah cara kita untuk menjalani hidup untuk meluapkan emosi dan perasaan yang ada. Pernahkah kalian merasa jika teman kalian itu yang sangat menggangu? mungkin sebagian orang pasti pernah berada pada posisi ini, aku juga mengalaminya bahkan hal ini terlalu sering terjadi hingga membuat aku terbiasa. Terbiasa untuk menerima semua hal itu, karena inti dari sebuah pertemanan bukan sebab “aku nyaman bersamamu” tetapi “kita bisa nyaman bersama dan saling mengerti”.

            Pertemanan yang indah itu akan tercipta disaat waktu bersama yang kita habiskan sudah tidak terasa lagi, disaat aku membutuhkan kamu selalu ada, disaat aku gundah dan resah kamu hadir untuk membuat hati ini kuat lagi. Akan tetapi, semua itu hanya harapan dan tidak semua hal itu sesuai dengan bayanganku, aku dan kamu itu berbeda. Hidup kita memiliki  batasan, dimana aku memiliki kesibukan sendiri dan kamu juga sama. Walaupun kesibukan tidak menjadi masalah besar tapi ada jarak dimana aku sadar kamu adalah teman yang sangat menyebalkan. 

            Teman ialah sebutan kecil yang hampir aku sendiri tidak bisa mendefinisikannya, bagaimana menjadi seorang teman yang baik atau menjadi seorang teman yang jahat? Semua kembali dengan anggapan serta pendapat cara kita memberikan sudut pandang seorang teman. Sudut pandang aku terhadap orang sekitar juga berbeda, banyak jenis teman yang sering aku temui seperti ini:


  • Teman sejak kecil: orang yang selalu hadir pada kehidupan kalian, dari dulu hingga sekarang meskipun hanya tegur sapa misal sebagai tetangga, mungkin dia adalah orang yang paling tahu kamu.
  • Teman berjangka: sangat sering dijumpai,contohnya pertemanan yang berawal dan berakhir saat kelulusan sekolah. Ketika memilih sekolah dengan tujuan yang berbeda maka kalian akan berpisah dan mencari teman baru 
  • Teman curhat: jika aku mendifinisikan hal ini, dialah sahabat yang bisa kita percaya. Semua isi hati bisa kita curahkan untuk meluapkan emosi disaat hati ini lemah. Hadirnya sahabat itu mungkin akan jarang ditemui karena untuk menjadi seorang sahabat tidak mudah guys! Waktu untuk menemukan seorang sahabat juga tidak sebentar, aku sendiri menyadari bahwa temanku itu sebagai sahabat setelah 7 tahun lamanya berteman.
  • Teman tak biasa: sampai ke point dimana tujuan aku bercerita hal diatas, untuk menunjukkan bahwa teman tak biasa itu ada. Ingat! bukan teman yang tak kasat mata atau berada pada dunia lain. Jika kalian berpikir hal demikian maka aku gagal membuat kalian terbawa suasana.
Dokumen Pribadi

 Akan tetapi, aku punya pengalaman yang memang tidak biasa atau tidak wajar. Aku memiliki teman khayalan sejak kecil yang sangat terasa nyata untukku. Bahkan  keluargaku sudah menganggap 'biasa' bila secara kebetulan melihat aku berbicara sendiri atau bertingkah aneh sendirian. Hal ini terjadi karena sudah tebiasa, kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya disaat aku mulai remaja, meskipun ada hal yang tidak bisa aku ceritakan mengenai teman tak kasat mata ini tapi aku memiliki opini bahwa mereka itu ada, dan kita hidup berdampingan untuk saling menghargai.

Teman tak biasa itu akan datang disaat kamu merasa kehilangan akan sesuatu hal yang paling berharga dan memberikan nilai positive untuk selalu mendukung demi kebaikan kita. Tidak semua hal ini benar terkadang, ada saat dimana aku merasa terganggu. Bukan karena tidak suka, tapi aku merasa bosan dengan siklus pertemanan, menyadari bahwa ada pertemuan akan ada perpisahan. Aku ingin dimana sebuah pertemanan itu nyata dan tidak akan pernah berhenti meskipun waktu telah habis pada masanya.

Bolehkah aku merasa rindu dengan pertemanan ya murni? “Jangan rindu, berat. Kamu enggak akan kuat, biar Eny saja” seperti kata Dilan 1990. *eh

Tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang, tapi jangan pernah berikan senyuman manismu itu dengan orang lain selain aku^^

Tabik,

---------------

Catatan:
Artikel ini ditulis oleh Eny Kadinda Aprilya seorang bloger asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang pernah bercita-cita sebagai arsitek. Sekarang ini Eny, begitu ia biasa disapa, sering menulis tentang make-up dan fashion di blog Enychan.com. Tahun ini, bersama teman-teman female bloger Banjarmasin, Eny menerbitkan antologi tentang pengalaman ngeblog yang berjudul Banjar Female Blogger Series. Kamu bisa menyapa Eny di twitternya @Enyaprilya atau melihat aktivitasnya di akun instagram @Enyadinda.
 


Seorang teman, katakanlah saja begitu, menulis sesuatu yang tidak biasa. Jika di semua waktu senggangnya ia biasa menulis konten-konten yang menggelitik, di waktu tersebut ia menulis tentang sebuah hubungan. Hal yang sebenarnya tidak ia kuasai betul.

Katanya,

Makin tua, makin sadar bahwa relationship itu bukan saling menerima kekurangan tapi saling menerima kebahagiaan masing-masing. 
Bahagia, walau positif, tetap sebuah ego. Saya membayangkan nanti, saya yang bahagianya ini kalau banyak jalan-jalan, akan berjodoh dengan dia yang bahagianya berdiam diri di rumah saja bahkan di hari libur. 
Atau saya yang ngopi indocafe sachet airnya kebanyakan saja sudah cukup bahagia, harus tinggal satu atap dengan dia yang standar bahagia ngopinya kalau nyeduh kopi harus digiling, diroasting, diaduk 18 kali dengan sendok 45 derajat menghadap timur laut, dituang pelan-pelan dan gak pakai gula sama sekali. 
Menerima kekurangan adalah keniscayaan tidak ada tempat baginya selain penerimaan. Tetapi menerima kebahagiaan masing-masing supaya menjadi kebahagiaan bersama tanpa harus mengubah saya menjadi dirinya atau mengubah dirinya menjadi dia yang kesaya-sayaan adalah sebuah anugerah tak terperi
 Feb, 2019 Yosfiqar Iqbal. 

Kamu boleh mengabaikan tulisannya yang lain dan cukup fokus pada kalimat yang saya tandai tebal. Entah berapa banyak kopi yang ia minum, entah berapa kilometer perjalanan yang ia tempuh, entah berapa sakit yang ia rasakan sebelumnya untuk menulis dua-tiga paragraf itu. Satu yang pasti: saya tidak bisa tidak setuju.

Saya tersentil. Apa saya sudah bisa melakukannya?

Di usia yang semakin menua, kita tidak bisa terus-terusan terlena dengan omong kosong ‘aku siap menerima kekuranganmu apa adanya’. Itu hanya kalimat abege sok tahu yang ingin dianggap bijak di depan pasangannya. Karena, bagaimanapun kekurangan, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, adalah sebuah asesoris pelengkap yang mau tidak mau kita terima ketika kita memilih seseorang untuk berkomitmen hidup bersama sampai usia yang entah. Saat kamu berpikiran dewasa, kamu tidak bisa memilihnya dengan syarat ia harus meninggalkan semua kekurangan yang kamu tidak suka. Jika kamu melakukannya, sederhana: kamu tidak mencintainya dan tidak pernah benar-benar siap memilihnya. Karena cinta dan sayang adalah satu kesatuan kuat antara kelebihan dan kekurangan. Cukup bijaksana, kan? Tapi ‘aku siap menerima semua bahagiamu tanpa harus memaksamu masuk ke bahagiaku’ berada satu tingkat di atas itu semua.

Sumber gambar: Heartlyhouse.org

Kita garis bawahi dulu sebentar. Hal yang kita anggap sebagai kekurangan dari pasangan kita, boleh jadi adalah hal yang membuatnya bahagia. Atau sebaliknya, hal yang ia anggap menjadi suatu kekurangan dari kita boleh jadi itulah yang membuat kita bahagia. Misalnya, saya ketika bersepeda motor merasa harus untuk selalu kebut-kebutan. Dan, iya, saya cukup bahagia melakukannya. Paling tidak, di waktu yang sebentar saya merasa sebagai penguasa jalanan. Tapi, untuknya, itu hal yang menyebalkan. Ia menganggap ‘kebut-kebutan’ adalah kekurangan yang harus segera ia musnahkan. Ya, konstelasi kekurangan-kebahagiaan seperti itulah yang kita garisbawahi yang, sayangnya, bukan yang akan kita bahas.

Masing-masing dari kita, untuk segala hal yang positif, memiliki cara yang berbeda untuk berbahagia. Kembali saya tandai tebal satu frasa: cara yang berbeda. Hal inilah yang kemudian akan menentukan selapang apa kita bisa saling menerima rasa bahagia masing-masing persona di sebuah ikatan hubungan. Hal yang kemudian akan menjaga kualitas dari sebuah hubungan.

Kita buat sedikit contoh. Baik saya atau dia memiliki satu keinginan yang sama: makan nasi pecel. Kami bersepakat makan nasi pecel romantis sambil menonton Teletubbies di siang hari yang gerimis. Tentu saja jika keingingan itu terwujud akan ada kepuasan batin yang, tentu saja, membuat kami bahagia. Yang berbeda, nasi pecel yang saya inginkan adalah nasi pecel dari hasil masakannya sendiri. Sedangkan, ia menginginkan saya untuk keluar sebentar membeli nasi pecel di depan gerbang komplek. Kenapa nasi pecel? Karena, ya, bahagia kami sederhana.

Lalu, bagaimana berikutnya? Bagaimana seharusnya? Mudah. Mengalah saja salah satu. Toh, sama-sama nasi pecel, kan? 

Tapi di dalam sebuah hubungan tidak pernah sesederhana itu. Ketika salah satu mengalah, berarti ada satu yang berkorban untuk merelakan bahagianya. Ketika salah satu mengalah, berarti ada satu yang merasa harus untuk meraih bahagiannya. Dan, tentu saja hal itu dapat mengkhianati sumpah ‘aku siap menerima semua bahagiamu tanpa harus memaksamu masuk ke bahagiaku’.

Bagaimana saya mengatasinya? Ada, tentu saja. Tapi ingat, masing-masing kita memiliki cara yang berbeda untuk berbahagia. Untuk kasus di atas, cara saya menuju bahagia mungkin berbeda dengan yang mungkin akan kamu lakukan. Jadi, ya silakan pikirkan sendiri bagaimana caranya.

Nasi pecel adalah salah satu contoh kecil yang mungkin terjadi di hubungan kehidupan yang semakin menua. Contoh lain? Kita sama-sama suka menonton film, membaca buku atau mendengar musik, tapi selera kita tidak sama. Kita sama-sama suka berwisata tapi tujuan dan tempat favorit kita berbeda. Yang paling mengerikan dan mungkin menyebalkan, kita sama-sama memiliki keyakinan yang kuat kepada Tuhan tapi Tuhan kita tidak sama.

Sumber gambar: beinglol.com

Saya atau kamu bisa saja menuliskan contoh-contoh yang lain. Tapi, tulisan ini akan setebal lapisan bumi jika harus dituliskan semuanya. Maka sebaiknya kita sepakati satu hal: perkara saling merima bahagia tidaklah pernah menjadi perkara yang mudah. Dan bukan perkara yang bisa dipaksa untuk dianggap mudah.

Apa saya sudah bisa melakukannya? Entahlah. Boleh jadi, ya. Boleh jadi, tidak.

Kamu boleh cemburu ketika saya mengatakan: “Saya amat sangat bahagia bisa hidup dan membersamainya”. Tapi apakah saya bahagia di setiap semua bahagianya? Apakah ia bahagia di setiap semua bahagia saya?

Kalimat ‘aku bahagia melihat kamu bahagia’ bisa menyelesaikan semua itu. Tapi, sekali lagi, dalam sebuah hubungan tidak pernah sesederhana itu. Maka, bisa menerima kebahagiaan masing-masing supaya menjadi kebahagiaan bersama tanpa harus mengubah saya menjadi dirinya atau mengubah dirinya menjadi dia yang kesaya-sayaan adalah sebuah anugerah tak terperi.

Bagaimana caranya? Saya tidak tahu.

Rezeki itu Tidak Hanya Sekadar Uang Saja
Teman uang Baik Pun Rezeki dari Tuhan
Teman-teman pasti pernah mendengar quotes diatas, baik itu dalam sebuah meme atau mendengarnya langsung dari teman dan sahabat kita. Bagi aku pribadi, ya, aku percaya pada quotes tersebut. Karena mempunyai teman yang baik adalah sebuah rezeki yang tidak ternilai, dan tidak semua orang bisa mendapatkan hal tersebut.


Memang ciri-ciri teman yang baik itu seperti apa sih ??

Ciri-ciri Teman yang Baik : 

1. Bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan kita
2. Selalu berbicara jujur meskipun pahit
3. Memberikan semangat agar kita selalu lebih maju
4. Tidak meninggalkan kita di saat-saat sulit
5. Tidak membatasi aktivitas kita
6. Mengenal pribadi kita dengan baik
7. Bahagia saat kita bersuka dan sedih saat kita berduka

Saat kita mempunyai teman dengan ciri-ciri tersebut maka beruntunglah, berarti kita punya teman sejati.

Berbicara mengenai pertemanan, kita bisa mendapatkan teman di mana saja, baik itu di lingkungan rumah, di sekolah, di kampus dan juga di lingkungan kerja. Lalu saat profesi kita sebagai blogger yang tidak mempunyai tempat khusus sebagai tempat bekerja, apa mungkin kita bisa mendapatkan teman terlebih teman sejati?

Jawabannya "BISA", sangat bisa. Aku sendiri mulai memasuki dunia blogging karena tertarik dengan apa yang dikerjakan teman SMP-ku. Dia sering berbagi tulisannya di media sosial, dan juga beberapa pencapaiannya di dunia blogging. Aku penasaran seperti apa sih rasanya jadi blogger? karna satu-satunya hal yang aku tahu tentang blog adalah tugas kuliah saat semester 1, dan aku gak paham sama sekali, tahu beres dikerjakan teman satu kelompok.

Dan saat aku mulai masuk didalamnya, i think its so funny, banyak sekali kejutan didalamnya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk terjun lebih dalam di dunia blogging. Dengan Join beberapa komunitas blogger mulailah aku berkenalan dengan beberapa teman blogger, dan pastinya itu di dunia maya ya, banyak yang dari luar jakarta juga, tapi kami tetap bisa terhubung melalui internet.

Setelah berkenalan dengan teman di dunia maya, aku pun mulai mencoba untuk daftar ikut acara-acara offline, seperti workshop dan seminar tentang blogging. Dan dari situlah aku pun mendapatkan lebih banyak lagi teman-teman baru.

Suka banyak yang nanya sih, "kamu kenal sama si A dimana?" "kok kenal sih sama si B, teman dari mana ?" Nah buat yang penasaran gimana sih cara mendapatkan teman baru di dunia blogging, aku sedikit cerita ya cara-cara aku kenalan sama teman blogger lainnya.

Cara Mendapatkan Pertemanan Sehat di Dunia Blogger

1. Join Komunitas
Seperti yang aku jelaskan diatas bergabung dengan komunitas sehoby itu sangat banyak manfaatnya,
selain bisa dapat sharing ilmu, juga bisa membuat kita mendapatkan teman-teman baru.

2. Blogwalking
Judulnya kan Blogger, pastinya punya blog dong ya. Kita bisa memanfaatkan blogwalking sebagai salah satu cara mendapatkan teman baru, sekaligus belajar bagaimana menulis yang baik dari tulisan teman-teman yang lain.

3. Interaksi Sosial Media
Jangan ragu untuk tanya akun sosial media teman satu komunitas, dengan follow kemudian saling interaksi dikolom komentar bisa jadi ajang silaturahmi juga lhoh dengan teman satu komunitas, yang mungkin belum pernah bertemu karna jarak yang jauh.

4. Kopdar
Apabila menungkinkan, agendakan bertemu dengan teman satu komunitas, agar lebih ikrib pastinya.

5. Interaksi Saat Event Blogger
Saat ini banyak acara-acara yang mengundang blogger seperti media atau wartawan. Nah jangan sia-siakan momen tersebut, kenalan dong sama teman-teman yang datang, perkenalkan kamu siapa, jangan nunggu disamperin duluan, singkirkan rasa malu, dan mulai tebarkan senyum salam sapa.

6. Jaga Attitude
Dari semua cara yang kita lakukan yang paling penting adalah menjaga attitude, tetap sopan dan santun pada siapapun itu. Jangan pernah mengangap remeh siapapun, bertemanlah dengan tulus dan ikhlas.

Jadi Apa Manfaat Pertemanan Sehat di Dunia Blogger ??

Mempunyai banyak teman gak ada ruginya lhoh, banyak banget manfaatnya malah. Aku sendiri merasakan banyak manfaat setelah berkenalan dengan banyak teman dari berbagai latar belakang yang berbeda. Manfaat yang aku rasakan diantaranya : 
1. Saling berbagi ilmu
2. Mendapatkan ide tulisan
3. Mendapatkan info job
4. Mendapatkan info lomba blog
5. Saat jalan-jalan ke luar kota bisa dapat tour guide gratis
6. Bisa bertukar produk khas daerah masing-masing 
7. Bisa saling mengingatkan saat kita melenceng dari tujuan awal


Tidak sulit kok mendapatkan teman baru, tapi memang tidak semua orang bisa cocok dengan kita pun sebaliknya. Maka jika ada diantara perkenalan tersebut dan kemudian menjadi teman baik, maka sayangilah teman-teman itu, karena rezeki yang kita dapat tidak harus selalu berupa uang kan? teman yang baikpun adalah rezeki dari tuhan.

Nah jadi jangan ragu ya untuk berkenalan dengan teman baru, dan siapa tahu diantara teman baru itu adalah jodoh masa depan kamu.. ihhiiyy. Salam Pertemanan Sehat yaaa ..

January 28, 2019 26 , ,

Tahun baru pasti identik dengan yang namanya resolusi. Sebelum membicarakan resolusi tahun ini, gimana kabarnya resolusi tahun kemarin? Apakah semuanya terwujud atau hanya sebuah tulisan belaka saja?

Berhubung sekarang masih bulan Januari di tahun 2019, belum kadaluwarsa jika kita membicarakan resolusi. Gimana resolusi tahun ini? Apakah sama seperti kemarin atau belum membuat resolusi sama sekali?

Buat kalian yang masih bingung ingin membuat resolusi seperti apa di tahun ini, berikut adalah resolusi wajib yang kalian tulis dan lakukan di tahun 2019. Kenapa wajib? Karena ini bisa menentukan masa depan kalian gimana nantinya.

Lebih Produktif dan Konsisten

Di tahun 2019 ini kita harus semakin lebih produktif karena saingan kita di luar sana banyak yang produktif. Mungkin acap kali di tahun kemarin kita masih menyia-nyiakan waktu luang seperti bermain game atau scroll socmed mantan dan gebetan, kita ubah tahun ini menjadi lebih produktif seperti membaca buku atau menulis.

Produktif saja tidak cukup, kita juga musti konsisten supaya semakin hari kita semakin berkembang. Ada perubahan yang signifikan bila kita melakukan sesuatu secara konsisten. Misalnya seperti menulis blog, pasti akan terlihat berbeda jika seseorang yang menulis secara konsisten dan menulis jika ada mood saja. Akan lebih enak dibaca kalau kita rajin menulis walaupun sedang tidak mood.
Jadi, di tahun ini harus lebih produktif dan konsisten, ya, Warga WB!

Olahraga

Sehat itu mahal dan sehat adalah aset berharga kita untuk masa depan. Salah satu hal yang mudah kita lakukan agar tubuh kita tetap sehat dengan rajin berolahraga. Resolusi ini harus banget kalian laksanakan supaya kalian semakin fit dan buat kalian yang memiliki berat badan berlebih, olahraga itu wajib.

Tidak melulu harus di tempat olahraga, seperti gym atau gelanggang olahraga. Kalian bisa olahraga di dalam rumah seperti senam dengan instruktur yang bisa kalian tonton dari youtube atau lari keliling daerah rumah. Yang penting tubuh kalian bergerak dan berkeringat. Pastinya nanti kalian akan sehat. Yuk, olahraga! Sehat itu mahal.

Menabung

Dari tahun ke tahun umur kita semakin bertambah, kebutuhan dan keinginan kita pun semakin banyak. Oleh karena itu kita harus bisa mendapatkan uang yang sesuai dengan kebutuhan kita kalau bisa sekalian yang sesuai dengan keinginan kita. Makanya kita harus bisa menabung dari sekarang sebelum kita menyesal di kemudian hari.

Seiring perkembangan zaman, banyak sekali cara menabung, tidak hanya menggunakan celengan ayam. Kalian bisa menabung sembari investasi, seperti menabung saham, reksadana atau emas, yang setiap tahunnya bila situasi sedang baik mengalami kenaikan harga. Untuk kalian yang tidak bisa menabung atau sulit menyisihkan uang, bisa bekerja sama dengan bank agar langsung memotong saldo dari rekening kalian setiap bulannya.

Tidak ada alasan lagi kan untuk menabung? Resolusi ini wajib kalian lakukan walaupun nanti nabungnya sedikit, tak apa karena sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

***

Resolusi hanya menjadi resolusi jika kita tidak mau mengubah diri. So, yuk, Warga WB, lakukan resolusi-resolusi wajib di atas supaya kita bisa menjadi pribadi lebih baik di tahun ini. Jika sulit melakukan ketiganya, lakukan dulu salah satunya. Semangat, Warga WB! Kalau bukan kita yang berubah, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Ngomong-ngomong, ada enggak, sih, resolusi wajib kamu selain resolusi di atas?

pic source: unspslash

Musim liburan akhirnya tiba juga.  Kota-kota yang biasa menjadi tujuan wisata tentunya sudah mulai dipadati oleh wisatawan yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan rencana liburannya. Tapi tak sedikit juga yang memilih untuk menghabiskan akhir tahun dengan liburan di rumah saja.

Liburan di rumah saja enggak asik? Duh, kata siapa itu. Bagi sebagian orang daripada harus bermacet-macetan menuju destinasi liburan atau mau foto di tempat wisata saja penuh sesak, liburan di rumah dirasa lebih menyenangkan. Apalagi kalau liburan di rumahnya memang direncanakan agar bikin betah dan nyaman.

5 Cara Menikmati Liburan di Rumah yang Seru

Biar liburan di rumah terasa menyenangkan berikut ini ada 5 ide yang mungkin bisa kalian terapkan di liburan akhir tahun ini:

1. Mengatur ulang tata letak furniture

Mumpung menyambut tahun baru, enggak ada salahnya mengatur ulang tatak letak furniture untuk memberikan suasana baru. Dekorasi rumah juga juga bisa diubah. Tak perlu membeli barang-barang baru kok. Coba daur ulang barang-barang yang ada. Ajak anggota rumah untuk menyumbangkan idenya.

Selain mengatur ulang tata letak furniture, sekalian saja bersih-bersih rumah. Kalau ramai-ramai dengan anggota keluarga kan tentunya tidak secapek saat bersih-bersih sendiri.

2.Baca buku

Suka numpukin buku baru dan merasa enggak sempat membacanya? Nah, liburan di rumah menjadi kesempatan untuk mulai mencicil menyelesaikan buku-buku yang belum sempat dibaca itu.

Selain menikmati bacaan, membaca buku juga menambah ilmu baru loh. Agar kemampuan menulis blog terus terasah dengan baik sempatkan juga membaca buku belajar nge-blog.

3. Bikin permainan keluarga

Lupakan sejenak dengan gadget, libur di rumah adalah waktu terbaik untuk membangun quality time dengan keluarga. Bikin permainan-permainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Monopoly, Ludo, Ular Tangga, adalah sedikit contoh yang bisa dilakukan bersama. Atau tak ada salahnya menciptakan permaian baru.

Bisa jadi permainan baru yang diciptakan menjadi sebuah tradisi baru di keluarga, dan menjadi kenangan tersendiri saat anak-anak sudah besar nanti.

4. Masak bareng-bareng

Liburan di rumah jadi terasa seru ketika mengajak anggota keluarga untuk masak bareng-bareng. Tentunya secara enggak langsung kita jadi sekaligus mengajarkan anak kemampuan memasak. Coba cari resep baru lewat internet, kenalkan bumbu-bumbu dapur pada anak.

5. Undang teman dan kelaurga ke rumah

Jalin silaturahmi dengan mengundang teman, tetangga, dan keluarga ke rumah.Main game, nonton bareng, ngobrol, atau curhat bisa dilakukan untuk menjalin keakraban. Bikin acara barbeque di rumah, untuk bahan makanannya bisa patungan agar meringankan.

Nah itu tadi 5 hal yang bisa kalian lakukan untuk menikmati liburan di rumah. Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang bisa kita explore. Bila berdiam diri di rumah terasa membosankan, tak ada salahnya untuk pergi ke tempat yang tak jauh dari rumah, seperti taman terdekat. Atau bila kalian tinggal di Jakarta, kalian bisa melakukan hal-hal berikut ini untuk liburan di Jakarta.

Beberapa orang teman, dan yang kebetulan pernah berkunjung ke blog pribadi saya, mungkin tahu kalau saat ini saya bekerja di salah satu media online sebagai reporter. Atau meminjam bahasa kekinian, sebagai seorang content writer.

Minggu kemarin, di grup whatsapp Warung Blogger, saya membuat sebuah kesalahan dan karenanya saya mendapatkan hukuman menulis. Tema yang diberikan saat itu adalah tema yang berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai reporter media online. Lebih spesifik, saya diminta untuk membuat sebuah artikel mengenai perbedaan menulis di media –sebagai reporter dan di blog –sebagai blogger. Adakah perbedaannya? Tentu saja, beberapa amat signifikan malah. Dan apa aja, sih, bedanya? 

Sumber gambar: Pixabay

Menulis di media
Ketika menulis di media, kami harus berpegang teguh pada etika jurnalistik. Setiap kami menulis, kami harus mengingat kembali apa saja yang ada di etika-etika jurnalistik tersebut. Sederhananya, kami tidak boleh menuliskan sesuatu yang berpotensi menyinggung SARA, berisi konten pornografi, hoax, dan atau menulis artikel yang berisi penuh dengan opini dari si penulis. Tidak boleh.

Kebayang, dong, bagaimana hati-hatinya kami dalam membuat satu tulisan. Apalagi dalam satu hari, kami ditargetkan menulis sebelas tulisan hanya dalam waktu delapan jam saja. Untungnya, beberapa waktu yang lalu, target tulisan dikurangi menjadi hanya sepuluh tulisan setiap delapan jam kerja. Sebuah perubahan yang enggak signifikan memang.
 
Terlebih ketika membuat tulisan yang berhubungan dengan peritiwa humanis. Kami juga harus memikirkan dampak tulisan yang kami buat terhadap objek (atau subjek) yang kami tulis, tentang keluarganya dan juga lingkungan di sekitarnya. Jangan sampai tulisan tersebut mengekspos hal-hal sedemikian rupa yang tidak berkaitan yang membuat enggak nyaman si objek (atau subjek) yang ditulis. 

Ini rahasia. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat satu tulisan yang saya sendiri tidak menyangkan akan berdampak luar biasa besar buat kehidupan orang yang saya tulis. Tulisan tersebut menjadi viral, dibaca lebih dari seratus ribu kali. Padahal, menurut editor saya, biasanya standar tulisan bisa disebut viral jika telah dibaca lebih dari 20.000 kali. 

Tulisan apa? 

Ingat tentang anak SMA yang sempat menggegerkan dunia maya ketika menuliskan tentang isu kebinekaan di laman facebooknya? Yang sampai diundang oleh Bapak Presiden ke istana. Bukannya sombong atau bagaimana. Tapi –jika ingin tahu saya lah yang pertama kali menulis tentang anak tersebut di media online tempat saya bekerja. Dampaknya luar biasa besar. Kehidupan anak itu setelahnya benar-benar berubah. Yang semula bukan siapa-siapa menjadi tenar dan dikenal masyarakat luas. Banyak media yang mengundangnya untuk wawancara. Sampai akhirnya semakin ke sini, menjadi juga banyak musuh. Tak sedikit pula yang mem-bully anak tersebut.

Dalam hati, saya menyesal pernah menulis tentangnya di media. Karena setelah dia viral, ya tahu lah sendiri berikutnya bagaimana. Dan jika diperhatikan, meskipun sekadar melalui media sosial, dia itu cukup freak dan memang memang membutuhkan atensi yang banyak dari umat.

Dampak yang luar biasa. Dan saya pribadi enggak nyangka sampai segitunya tulisan saya bisa berpengaruh. Enggak percaya? Kamu boleh googling berita tentang dia. Yang muncul di laman pertama google, dari media tempat saya bekerja, adalah tulisan saya semua.

Begitulah. Menulis di media harus amat sangat berhati-hati sekali. Dan saya yang berhati-hati sekalipun, tulisan benar sesuai fakta, tidak melanggar etika jurnalistik tapi masih saja tersandung masalah karena ada subjek yang tidak terima untuk diberitakan.

Bahkan pernah sampai tiga hari saya ‘diteror’ oleh orang yang tidak terima saya beritakan. Dia meminta berita yang saya tulis untuk segera diturunkan. Untuk informasi, reporter/wartawan atau apa pun itu namanya tidak punya wewenang untuk menurunkan berita yang telah ditulis. Itu menjadi keputusan dan wewenang atasan kami di kantor. Dan pertimbangan berita bisa diturunkan, yang utama, jika dianggap bermasalah untuk perusahaan. Selama berita itu benar, sesuai fakta. Berita yang telah dimuat, boleh untuk tidak diturunkan meski pun ada yang merasa terganggu dengan berita tersebut. Sekali lagi, digarisbawahi. Selama berita itu benar.

Intinya. Hati-hati banget, deh, kalau menulis di media. Karena selain bawa nama pribadi, kita juga membawa nama perusahaan tempat kita bekerja. Tanggung jawab ganda. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kita harus meninggalkan segala opini dalam pemberitaan yang kita buat. Apalagi kalau yang ditulis adalah isu panas. Sama sekali enggak boleh ada opini pribadi. Bahaya. Sebagai orang yang bekerja di media, kami benar-benar harus netral dan sesuai fakta. Pastikan telah mengonfirmasi kebenaran berita sebelum berita itu dimuat.

Selain itu, yang menyebalkan, kami awak media tidak bisa menentukan tema apa yang ingin kami tulis. Di media, kami tidak menulis apa yang ingin kami tulis. Tapi, kami menulis apa yang dinginkan pembaca. Dan tentu saja, topiknya harus up to date dengan apa yang terjadi di dunia luar. Misalnya, penulis berita entertainment ingin menuliskan berita tentang putusnya Zayn Malik dengan Gigi Hadid, tapi editor, atas permintaan pasar, ingin membuat berita tentang hubungan Ayu Ting-ting dengan Raffi Ahmad. Jika sudah begitu, kami bisa apa?

Sumber gambar: Pixabay

Nulis di Blog
Sebaliknya, menulis di blog bisa sebebas apapun yang kita mau. Bebas dalam arti: bisa menulis apapun yang ada di benak untuk dituliskan di blog tanpa perlu memedulikan permintaan, tekanan dari pihak manapun. Misalnya, ketika galau atau sedih, saya akan mencurahkan semua isi hati di blog atau tumblr sampai saya puas sampai saya bosan. Tidak mungkin, kan, saya menulis perasaan hati di media tempat saya bekerja. Nantinya, bisa di-kill sama editor.

Apalagi, blog saya merupakan blog personal tanpa kategori khusus. Kamu bisa menemukan sisi lain dari Natalia Bulan Retno Palupi di blog Bulan The Iron Girl yang bebas yang benar-benar berbeda.

Meski begitu, dalam beberapa kasus, kita tetap harus berhati-hati dalam opini ketika memberikan sebuah tanggapan kepada instansi, seseorang atau apapun yang tidak menyangkut pribadi kita sendiri. Karena, bagaimanapun, kekuatan blog bisa sama kuatnya dengan media. Dalam arti, ketika kita bisa membuat sebuah karya tulis yang baik, bukan tidak mungkin blog kita akan menjadi viral dan meraup ribuan pembaca.

Meski untuk kasus saya pribadi, saya tidak pernah mengharapkan blog saya menjadi viral. Wong, tulisannya isinya cuma curhatan semua. Yang penting saya punya media untuk mencurahkan semua perasaan saya apa adanya. Menulis jujur untuk diri sendiri, untuk bisa membuang semua yang menggangu di benak dan otak saya. Melepaskan semua keresahan yang berkecamuk di kepala. Karena, untuk saya, menulis adalah terapi. Menulis itu adalah sebuh obat untuk seorang introvert seperti saya yang enggak bisa bercerita banyak ke orang-orang. Untuk orang terdekat sekalipun.

Untuk saya, blog adalah tempat kamu mengenal saya lebih dekat saat saya tidak bisa berkata-kata banyak sama kamu. Karena saya selalu lebh bisa jujur ketika bercerita melalui tulisan, bukan kata-kata langsung. Jadi, apa yang pernah kamu baca di blog saya, semuanya itu adalah pemikiran saya seutuhnya, sejujurnya, sesungguhnya saya.

Intinya, blog adalah media berekspresi bebas. Sedangkan media massa online adalah tempat saya bekerja berekspresi dalam rambu-rambu bernama etika. Kamu bisa menemukan sisi serius saya di tulisan-tulisan yang saya buat di media tempat saya bekerja. Dan kamu bisa menemukan sisi saya yang lain di blog.

Ehm, gimana, ya, penjelasan saya? Bisa dipahami enggak kira-kira? Atau malah makin suram? Hehehe.

Ya, lebih kurang seperti itulah yang bisa saya jelaskan tentang pengalaman menulis di media dengan pengalaman menulis di blog. Dan ini menurut saya. Kalau ada yang mau bertanya, berpendapat dan berdiskusi bisa melalui kolom komentar di bawah. Atau bisa mention saya di twitter: @nbuLan5 atau mau whatsapp-an? Sini, saya bisikin nomor hape saya. *modus*

Akhir kata. Terima kasih sudah membaca. Godbless ya all.

-----
Artikel ini merupakan artikel kiriman dari Natalia Bulan Retno Palupi Blogger x Journalist. | Ad Astra Per Aspera. | DS#22. Kamu bisa menyapa bulan melalui akun twitternya di @nbuLan5.


Sepagi ini, di tengah padatnya kemacetan ibukota, saya melihat satu buah video di beranda facebook, yang membuat saya bungkam. Ia memperlihatkan sekelompok pekerja di ibukota yang sedang menunggu angkutan di pinggir jalan. Mereka saling diam, dengan mata tertuju ke layar ponsel masing-masing. Sesekali, pandangannya berubah ke arah jauh, memastikan kedatangan angkutan yang sedang mereka tunggu. Keringat tampak mengucur deras dari mereka yang mulai bosan dan masih saling acuh. Pemandangan tersebut adalah hal yang lazim dewasa ini. Tak ada yang spesial. Sampai kata pamungkas itu muncul.

“Hompimpa alaium gambreng!”

Menurut demografi kelompok penduduk yang dibuat Don Tapscott, dalam bukunya Grown Up Digital, saya termasuk ke dalam kelompok Generasi Y: The Echo of the baby boom. Sebuah kelompok generasi yang unik, yang menikmati segala kemajuan dan kemudahan dunia digital namun memiliki kenangan dan pengalaman yang sama banyaknya tentang kehidupan yang menyenangkan di dunia analog. Dan video tadi membuktikannya. Melalui salah satu kemajuan teknologi, saya dipaksa untuk larut dalam kenangan di waktu itu.

***


“Hompimpa alaium gambreng!”

Sekelompok orang di dalam lingkaran mengucapkan mantra magis itu bersama-sama. Dengan senang. Warnamu berbeda dan kamu keluar sementara, menunggu sampai semuanya selesai bermantra. Yang terakhir, ditinggalkan sendirian dengan mata yang tertutup di tengah tiang untuk mengeja sejumlah angka yang disepakati. Sepuluh, dua puluh, entah. Bukan, ia bukan menghitung. Karena kecepatan eja tidak pernah sama. Satu sampai sepuluh ada yang selesai dalam satu tarikan nafas. Ada juga yang selesai ketika rindu sudah berbalas. Yang tidak menghitung berhamburan mencari tempat sembunyi untuk kemudian nanti dicari. Sedangkan para bedebah kecil melakukannya dengan cara lain, melarikan diri untuk sesuap nasi. Dan jika nanti di luar sana sudah sepi, bedebah kecil ini sungguh tidak peduli. Biar saja, katanya, besok bisa main lagi.

“Hompimpa alaium gambreng!”

Sekelompok orang di dalam lingkaran mengucapkan mantra magis itu bersama-sama. Dengan senang. Mencari warna berbeda dengan sama rata dan mereka terbagi dua kearah yang berbeda. Berjauhan. Dengan nafas yang panjang ditambah kaki telanjang mereka saling mengejar dan menghindar, mencari lawan untuk ditawan. Pihak lawan yang tertawan dibariskan sembarang dengan tangan meregang. Berteriak meminta bala bantuan. Sederhana sekali mereka bebas. Sekali saja kulit kawan bersentuhan, aih, tidak perlu kulit bersentuhan malah. Asal niat dan dekat dan tidak ada yang lihat mereka bisa kembali berlarian kesana kemari dan tertawa. Di samping mereka, dekat saja, satu dua disisakan menjaga tiang yang jadah untuk dijamah. Serupa tempat suci yang harus dijaga sampai mati. Atau paling tidak, tempat itu dijaga sampai dipanggil ibu untuk mandi.

“Hompimpa alaium gambreng!”

Masih bersenang-senang. Dan berlarian mereka bersembunyi. Meninggalkan satu orang yang sedang sibuk menumpuk batu berantakan akibat bola yang dilempar. Kadang berganti dengan plastik yang dibalut atau kain atau apapun serupa bola. Dan ia tinggalkan batu yang telah kembali rapi tersusun untuk mencari mereka yang sembunyi. Lengah! Dari balik semak yang rimbun tepat di belakang tubuhnya ada orang menampakkan diri dan berlari menuju batu. Si Penjaga batu ikut berlari sekuat tenaga demi mempertahankan batu untuk tetap berdiri tegap. Satu langkah dan ia tersungkur. Dengan satu hentakan dari kaki yang bebal, batu itu kembali poranda. Atau jika malas untuk bersembunyi, setelah batu rapi tersusun si penjaga akan menjaga tumpukan itu dengan cara yang lebih bijaksana. Melempar dengan bola sesiapa saja yang berani mendekat. Sekuat tenaga.

“Hompimpa alaium gambreng!”

Dua orang terakhir kembali menjadi tumbal. Berdiam diri merentang tali. Sedangkan yang lain, berbaris, bergerak bergantian melewati utas yang menyintas. Semula melangkah, melewati tali semata kaki, kemudian di lutut, lalu ke perut. Dan terus, semakin dilewati dan semakin tinggi sampai membutuhkan galah. Dan tak ada lagi barisan. Semua menunggu dengan rapi, dari jarak yang berlebihan. Pria-pria terkutuk meminta izin lebih dulu agar bisa diam di bawah tali. Menunggu lengah wanita-wanita dengan rok untuk kemudian mencari celah basah. Dasar bedebah.

***

“Ayo main di luar!” kata terakhir dan video itu pun selesai. Satu menit yang mengobok-obok kenangan.

Di era dunia digital, kita memang mendapatkan kesenangan luar biasa dengan berbagai kemudahan. Namun semua itu kita lakukan sendirian. Mengucilkan diri di dalam ruang. Sempit, menunduk, dihubungkan dengan siapa entah melalui jaringan maya yang tak teraba. Tidak ada tawa kolektif di satu tempat yang sama dengan fokus aktivitas dan tujuan yang juga sama: mencari senang.
Ponsel saya matikan. Masih dari tengah-tengah padatnya kemacetan ibukota, saya melihat sekeliling. Lalu pertanyaan itu muncul: Mungkinkah, sekarang kita bermain di luar?

Sumber gambar: lighthouse-indonesia.com

Catatan:
Dalam tulisan ini, sengaja saya tidak menyebutkan nama permainan di atas. Pertama, karena di setiap daerah nama permainan tersebut berbeda-beda. Kedua, agar narasi di atas dapat sedikit mengajak kita untuk membayangkan keseruan yang terjadi di waktu itu.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.