Saya tergerak akibat ribuan komentar yang mengular dari artikel-artikel yang di-posting lewat sosial media, baik link maupun keseluruhan isinya. Dari berita paling gres hingga sekedar 'numpang lewat' yang tidak dibaca pun tidak apa-apa.

Seperti saat ponsel pertama kali berjaya, awal kebangkitan media sosial juga memunculkan beragam 'kubu'. Ada yang menyambutnya sebagai ajang rekreasi di dunia maya (terutama kala jenuh dengan dunia nyata. Ya, asal jangan sampai jadi merasa bosan hidup saja, ya?) Ada yang menjadikannya pendukung jurnalisme warga / citizen journalism. (Terutama akibat kekhawatiran akan media resmi yang 'disusupi' pihak-pihak berkepentingan tertentu.) Ada yang memanfaatkannya untuk promosi (mulai dari jualan barang, bakat, karya seni, tulisan, hingga mempromosikan ideologi. Syukur-syukur dapat pembeli, dikontrak produser musik dan film, hingga didapuk penerbit. Toh, sudah banyak contohnya.) 

Yang sekedar gaya-gayaan, asal terlihat 'gaul', hingga pamer foto-foto diri hingga barang-barang mewah? Pencinta travel dan kuliner? Banyak. Ada juga yang memanfaatkannya untuk menemukan kenalan lama, mempererat hubungan keluarga (terutama yang tinggal berjauhan) dan persahabatan. Mencari jodoh apalagi. Pokoknya, semua bisa. Ada juga yang memilih tidak memiliki akun media sosial mana pun.

Ada yang merasa media sosial tidak begitu bermanfaat, malah buang-buang waktu saja. (Toh, sebelumnya mereka juga baik-baik saja, alias masih hidup!) Ada yang khawatir privasinya bakal terganggu. Ada juga yang merasa bahwa media sosial lebih banyak menimbulkan 'drama' dan 'huru-hara'. Bisa jadi sebelumnya mereka pernah memiliki akun media sosial, hingga akhirnya lelah dan muak dengan semua yang mereka baca dan lihat di dunia maya (yang ternyata refleksi dunia nyata).

Beberapa selebriti -seperti Jennifer Love-Hewitt- menutup akun mereka. Ada yang memilih tidak mau punya sama sekali, meski akun palsu atas nama mereka bertebaran di dunia maya. Membaca komentar-komentar terkait berita kematian Paul Walker, misalnya, sempat membuat saya terperangah. Mau dari pengguna lokal hingga internasional, sama saja. Ada yang menulis ucapan belasungkawa, ekspresi kesedihan, hingga...sempat-sempatnya bercanda: "Wah, kebawa-bawa perannya di 'Fast and Furious', ya?" (HAH?!) 

Ada fans mendiang yang marah besar dan langsung membela: "Lelucon buruk sekali. Pernah kepikiran nggak, kalo dia juga seorang manusia biasa - punya keluarga yang bisa sakit hati membaca komentar Anda?". 

Dulu sempat ada pihak tertentu yang mengharamkan media sosial, sementara -setidaknya menurut saya, sih- semua kembali pada penggunanya. Mau apa dengan akun media sosial Anda? Apa tujuan Anda menulis atau mem-posting sesuatu?

Banyak cerita seputar posting dan komentar di media sosial yang berbuntut perkara, mulai dari tuntutan hukum hingga ditantang berkelahi di ring tinju. (Nah, lho!) Belum lagi tak terhitung hubungan keluarga dan persahabatan yang terganggu -atau rusak total- gara-gara update status atau komentar yang berpotensi bikin mata dan hati 'panas'. Tak sekedar unshare, mute, unfriend, unfollow hingga block di dunia nyata pun mereka memutuskan untuk tidak saling berurusan lagi. 

Jessica Huwae, seorang novelis, pernah menulis begini di akun Twitter-nya: "Twit-war is not a real war. It's hanging your dirty laundry for everyone to see." Ada juga seorang teman yang mendebat begini: "Itu 'kan masalah hak asasi."

Memang. Semua berhak beropini. Mengeluh itu manusiawi. Marah-marah apalagi. Namanya juga kebebasan berekspresi. Kalau mau bicara hak asasi, saya rasa hal serupa berlaku pada semua pengguna media sosial. Seperti reaksi negatif dari pengguna lain atas posting-an Anda, hingga resiko di-unfollow dan lainnya yang sudah disebut di atas.

Anda mungkin beralasan hanya ingin menjadi diri sendiri atau sekedar jujur dan Anda bukan satu-satunya. Apa pun dilema mengenai media sosial, selalu ada pilihan. Mau memanfaatkannya demi kebaikan bersama atau sekedar suka-suka? Mau membalas komentar negatif tentang Anda atau seseorang yang Anda kagumi di media sosial atau memilih mengalokasikan energi dan waktu Anda untuk sesuatu yang jauh lebih berguna? 

Tidak mau punya akun sama sekali? Boleh. Tak ada yang melarang maupun mewajibkan. Apa pun itu, semoga Anda siap dengan segala konsekuensinya!

Penulis Artikel Media Sosial: Antara Pilihan Atau Dilema.
 http://ruangbenakruby.blogspot.com/ 
@rubyastari

3 comments:

yandhi ramdhana said... 26 December 2013 at 17:40

apapun yang berlebihan pasti ga baik, sama kaya pengunaan sosial media yang berlebihan

Muttaqin said... 27 December 2013 at 12:35

Kembali lagi pada setiap orangnya mungkin mas,, bisa d ambil sisi positifnya atau sebaliknya..

5ask said... 31 December 2013 at 23:02

Yang jelas kalau mau dilihat sisi positifnya, Media Sosial banyak banget ngasi keuntungan untuk aktivitas kita sehari" yang mungkin beragam tiap individu.. x-)

 
Top