#5TahunWB #5TahunWB: Photo Quotes Contest #7TahunWB #HappyBlogging #Menu7uhWBLebihBaik #MubesWB 4 Tahun Ultah WB 7 Tahun Warung Blogger 79 Tahun Sinar Mas untuk Indonesia 90an Access Trade Advertorial Afiliasi ANDA SEORANG INTERNET TROLL? Anniversary aplikasi musik artikel WB Bangkit dari Kehilangan Orang Tua Bedah Buku belanja online Bintang 14 Hari blibli Blog competition Blogging Budaya Cara Bergabung Catatan Ringan Cerpen Charity Cheria Halal Holiday competition Copy Paste Crowdo Digital Millennium Copyright Act DMCA EBI Emak Gaoel Vlog Competition Ensiklopedia Eva Sri Rahayu Event WB EYD Facebook WB Fakta dan Mitos Fashion & Beauty Festival Prestasi Indonesia UKP-PIP Pancasila Inspirasi Maju Filosofi Gadget Generasi 90an Gerakan PKK Google Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis di Blog Hiburan Hikmah Hobi hotel murah di Bali Indonesiaku Info info lomba InfoWB Inspirasi Involve Asia Kangen Band Karya Kata Depan di ke Kelas Bahasa Keluarga Kesehatan Kiat Menulis Postingan Blog Kompetisi Blog 5 Tahun Warung Blogger Kompetisi Blog 6 Tahun Warung Blogger kompetisi blog langit musik Kompetisi Blog LangitMusik Konsistensi Kontes WB Kopdar Mini Suka-suka Kopdar WB KOPI SUSU WB Kuliner Langit Musik Blog Competition #MusiknyaHidupKamu Langit Musik: Musiknya Hidup Kamu Lifestyle Logo Logo Baru Lokasi Lomba Lomba Blog Menu7uh Warung Blogger Lomba Menulis Manfaat Olahraga yang Menakjubkan Media Menulis Motivasi Musik & Film new langit musik Novel Novel Indonesia Oase Olahraga Olahraga & Kesehatan Parade Para Monster Parenting Pendidikan pengumuman pemenang Permainan Rakyat Pojok Pojok WB POJOK WB IDOL Positif Self Talk Ramadan Reportase Resensi Buku Retweet Review review produk saleduck Sastra Sastra & Seni SEO Shell Shell Eco-Marathon Sosial & Budaya Subjektif Teknologi Tidur Tips Belanja Hemat Ala Blogger Tips Blog Tips dan Trik Tips Media Sosial Tomyam kelapa Saung Ibu Trade Expo Indonesia 2017 Travelio Travelling Tutorial Blog Twitter Twitter WB Ultah WB Ultah WB ke-6 urun artikel Utees.me Vlog Competition Warga WB Warna Warung Blogger Wisata Writing Writing Competition Zaman Sekarang Telat Untuk Jadi Blogger

Penulis : Ibrahim Sukman

Blog: My Little Daddy dan Rumah Sunyi

Twitter: @ibrahim_sukman


Aku menyanjung hujan

Sesekali mengutuknya

Seperti sore ini, ia merayu sunyi

Memaksaku menziarahi kembali

Sepotong wajah bening berpayung jingga

bermata sayu seperti mengajakku,

dan basah setelah hujan rebah di pinggir kota,

tujuh tahun yang renta.

Barangkali hanya kepada senja aku bercerita

Tentang mukadimmah di selembar kertas putih,

dan hanyut ketika kau menanamnya di kedalaman sungai

sebelum lidahmu sampai pada juz berikutnya.

Juga tentang waktu yang lebat beruban,

musim yang tak kenal zaman, dan

tentang sunyi yang singgah di atara engkau dan aku.

Sore itu.

Khilafku Nda, senja tak lagi menyimak cerita kita.

Sebab, hujan sore ini kembali membasahi jenazah kisah,

dan sebujur perjalanan yang telah lama aku makamkan

Sekali lagi, Nda, ini hanya sebuah fragmen

Tentang sepotong wajah beningmu,

dan payung berwarna jingga yang ku pinjam dari tetangga.

Meski hanya hitungan jari,

namun angin pernah mengabarkan kerinduan mu,

pada episode yang singkat, sebelum terang memisahkan kita

sore itu.

II

Kemudian aku mendendam

pada pilu yang menikam

Nyaris serupa pilu yang kau rahasiakan kepada mendung,

dan tumpah seketika saat ku payungi wajahmu.

Waktu pernah menyamakan kita, Nda?

senasib dan serupa; penderitaan

Khilafku, Nda, sungguh tak mengira

meski kita sama-sama punya derita, namun,

sekiranya deritamu adalah deritaku, niscaya aku tak bakal mampu menanggungnya.

(ah, aku megutuk hujan telah menyertakan bagian ini dalam ziarahku sekali ini).

Tetesan hujan yang saru ku usap lenyap di pipimu.

Lalu kau mengutuknya di sepanjang jalan

Sedang aku berterimakasih dan memujinya.

Sore itu

III

Sejenak kita membisu

Melempar mata ke selebat hujan, lalu bertubrukan pandang

Sesekali diakhiri dengan senyuman.

Sayang setelah hujan berhenti,

kita saling berpamit diri

dan sejak itu, kita tak pernah berjumpa lagi.

Sore itu.

IV

Kemudian kau mati.

Kata Izrail, Tuhan kelewat cemburu padaku

Sejak itu pula, aku selalu saja membaca

Pada setiap nisan

Pada sisa malam yang menyiksa,

pada matahari yang tak tau diri,

atau pada Tuhan yang iri

dan pada apapun, sekiranya aku dapat melafal namamu

untuk kali peghabisan

Namun, tak satu pun batu mengukir namamu.

Lantas aku berputus asa,

dan mulai mengakrabi lupa,

hingga sepotong wajah bening dan payung berwarna jingga,

benar-benar sirna.

Ah, Nda? Siapa nyana, hujan sore ini, menyiar kabar lewat seorang teman sekamarmu. Berupa kata ya, yang kau tahan di bibirmu untuk menguji kesabaranku. Ternyata, diammu adalah jawaban yang aku pahami kemudian, sebagai rasa sayangmu kepadaku.

Ah, Tuhan, aku benar-benar mengutuk hujan.

Sore itu

Kepada ER; semoga kau berbahagia di sisi Tuhan  

Purwokerto, Januari 2013

Label:

Post a Comment

  1. hujan selalu membawa kenangan...
    smoga dia tenang disana

    ReplyDelete
  2. Dalam sekali artinya, diksinya juga keren. Semoga yang dimaksud mendapat tempat terindah di sisi-Nya... amin.

    ReplyDelete


Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.