Saya Adalah Penikmat (Iklan) Rokok. Suka nonton iklan? Saya bukan termasuk orang yang sengaja nonton iklan sebetulnya. Tapi, kalau ditanya iklan apa yang saya suka, maka jawabannya adalah iklan-iklan rokok. Postingan ini bukan untuk menyatakan apakah saya pro atau kontra dengan rokok, ya. Saya hanya membicarakan iklannya.

Kenapa saya suka dengan iklan rokok? Alasan pertama adalah keren. Gak perlu saya sebutin merk, ya (nanti disangka promosi hihihi). Tapi, iklan rokok memang keren. Berpetualang di alam bebas baik di dalam maupun luar negeri, dengan pemandangan yang sangat indah. Hingga iklan rokok yang lucu.

Alasan kedua adalah kreatif. Rasanya saya belum melihat (atau jarang sekali) iklan rokok menampilkan orang yang sedang merokok. Bahkan seringkali iklan rokok tidak berhubungan dengan kegiatan merokok itu sendiri. Sementara kebanyakan iklan justru dari awal sampai akhir durasi terus menampilkan produknya. Bahkan ada iklan yang Cuma mengucapkan 1-2 kalimat yang sama tapi diulang-ulang hingga 3-4 kali. Hadeuuuhhh….

Bujet, kalau menurut pendapat beberapa orang kenapa iklan rokok selalu terlihat keren. Hmm… mungkin ada benarnya. Perusahaan rokok itu modalnya besar. Apa, sih, yang gak bisa kita lakukan dengan uang yang banyak? Tapi, menurut pendapat saya yang awam sama urusan kreatifitas di dunia periklanan, rasanya gak melulu tentang bujet kali, ya. Bukankah kreativitas berhubungan dengan otak? Dengan cara kita berpikir? Ya, walopun saat eksekusinya kadang harus bersentuhan dengan bujet juga. Tapi, seharusnya bujet kecil sekalipun bisa menghasilkan sesuatu yang kreatif, kan?

Kreativitas lainnya adalah saya belum pernah melihat iklan rokok yang menjatuhkan sesama kompetitor. “Pake ini aja, yang lain lewaaattt….” Rasanya gak ada kalimat seperti itu atau sejenisnya di iklan rokok. Masing-masing mempunyai ciri khas yang kuat tanpa harus menjatuhkan produk lawannya yang sejenis.

Itulah beberapa alasan kenapa saya suka dengan iklan rokok. Mereka mampu mengemasnya dengan sangat baik. Membuat saya betah menontonnya dari awal hingga akhir. Malah adang saya suka cari iklannya di youtube kalau lagi suka. Tapi, gak lantas membuat saya jadi seorang perokok, lho. Saya hanyalah seorang penikmat iklan rokok.

Seandainya semua iklan sebagus itu kemasannya. Mungkin kita gak akan jenuh kalau suatu acara harus diselingi dengan iklan. Dalam hidup pun kita sebetulnya bisa belajar dari iklan rokok. Yang saya pelajari adalah tentang bagaimana kita menyampaikan sesuatu tanpa harus menjelekkan pihak lain. Sampaikanlah dengan cara yang menarik.

Rokok yang kita semua tau efeknya seperti apa, mampu berkomunikasi melalui iklannya tanpa harus menimbulkan kontra untuk iklannya. Malah banyak yang bilang bagus. Sementara di sisi lain, banyak hal yang baik tapi sangat disayangkan cara menyampaikannya membuat orang menjadi tidak simpatik. Jadi, pesannya bukannya sampai, malah bikin orang yang menerimanya kesal. Kita bisa belajar darimanapun, kan?


Kontributor:

Myra Anastasia
@Ke2nai

7 comments:

yandhi ramadhana said... 3 March 2014 at 23:55

cuma iklan rokok dimana produsen ga munculin produknya, kenapa ga di munculin?
mana ada orang jual racun bilangnya racun, yang ada jual racun bilangnya jual vitamin

mawi wijna said... 6 March 2014 at 02:00

Iklan rokok jadi seperti itu karena mereka tidak menampilkan produknya. Seakan mereka mengiklankan sesuatu yang "tidak nyata". Bayangkan, ada iklan sabun cuci tanpa mengiklankan sabun cucinya itu sendiri. Itulah yang terjadi pada iklan rokok, jadinya mereka memainkan kreativitas untuk menarik perhatian pemirsanya.

Manap Gan Teng said... 8 March 2014 at 16:04

karena dengan merokok, kita bisa lebih menikmati hidup gan.
dia ga saling menjatuhkan karena semua peroko bersaudara gan.

coba aja ada peroko yang gapunya korek, minjem korek ke peroko lain. apakah ada yang ga ngasih?

kita semua saling menghargai aja. yang meroko dan ga meroko :)

insan ank said... 11 March 2014 at 01:45

Menarik gan postingan nya,haha
pantesan saya baru ngeh sama iklan rokok.ternyata gitu yah maksud dari semua iklan rokok.

Suzzana Jasmine said... 22 April 2014 at 07:24

Iklan rokok diatur dalam undang-undang Penyiaran No 33/1999 dan UU Pers No 40/1999. dua Undang-undang (UU) ini masih membolehkan ada iklan tentang rokok asalkan dalam iklan itu tidak ada wujud rokok. - See more at: http://tcsc-indonesia.org/pengaturan-iklan-rokok-terganjal-uu-penyiaran/#sthash.QtUCDG2W.dpuf

makanya kudu kreatif dan atraktif sekaligus branding alam bawah sadar dengan gaya top minded coba deh itung berapa kali dalam sehari iklan rokok muncul dalam satu televisi. akan lebih sering daripada ikan shampo sabun dan produk lainnya. apalagi pabrikan rokok yang besar :)

inarashi said... 9 June 2014 at 05:21

Iya tuh, saya juga suka nonton iklan rokok, kalau tengah malam kan iklan di tv selalu saja iklan rokok. Iklannya juga menarik.

Kalau menurut saya ya, iklan rokok itu selalu menunjukan segi manly-nya seorang laki-laki (dewasa bukan anak-anak). Dan juga menunjukan kalau rokok itu untuk laki-laki bukan perempuan apalagi anak-anak.
Dan juga selalu memakai latar tempat yang bagus, alam, pegunungan, sungai, jadi gak bosan lihatnya. Selalu ada cerita tersendiri.

Oyong Ilham said... 8 April 2016 at 14:43

iklN ROKOK adalah iklan yang paling mahal menurut saya

 
Top