Kalau anak sakit, orang yang paling gampang panik pastilah Ibunya. Menurutku sepanjang kepanikan itu dihubungkan dengan kewaspadaan justru banyak gunanya. Jadi bukan panik yang membuat 'mati gaya', tapi justru panik yang 'wajib' untuk membawa bahagia.


Seperti kejadian lebih dari seminggu yang lalu saat Sulungku demam, aku sempat dituduh 'panik', hanya gara-gara aku membawanya ke UGD sebuah RS. Lalu bagaimana aku tak panik, sebab demamnya tak turun dalam 3 hari, bahkan sudah masuk hari keempat. Jadi walaupun aku dokter, aku kan tak punya laboratorium sehingga tak bisa memeriksa kadar trombositnya. Sedangkan trombosit yang saat ini bisa kupercaya untuk memastikan apakah demam biasa atau DBD.
Masih jelas dalam ingatan, saat September 2011 lalu, anak sepupuku meninggal. Sebut saja namanya Putra. Benar memang sudah ajalnya. Tapi keterlambatan membawanya ke RS jadi sesalan yang tak semestinya terjadi. Ceritanya, Tanteku mau berangkat haji, kami sekeluarga datang ke rumahnya. Di sana ada cucunya (anak sepupuku) yang berumur 5 tahun sakit. Demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Lemah nian, sampai hanya mampu tiduran, tak ikut bermain dengan sepupu lainnya. Aku sarankan untuk cek trombosit. Tapi kata sepupuku sudah ditangani SpA, disebutnya nama dokter anak ternama itu. Dan oleh beliau diberi obat saja. Tak ada pesan untuk kontrol atau cek darah. Aku waspada, agak ngotot saat menyarankannya 'wajib' kontrol bila panasnya belum juga turun besok pagi. Sepupu dan Tanteku manggut.

Kelanjutan kisahnya bisa ditebak, besok harinya Putra turun panasnya, jadi tak dibawa kontrol.  Hanya lemasnya yang masih nyata. Obat masih diteruskan. Ternyata malamnya Putra mimisan. Langsung dilarikan ke RS masuk ICU. Hanya beberapa jam di ICU, Putra tak sadar, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Bertahan sesaat sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Terbayang aku pada iklan sebuah obat penurun panas, bahwa demam pada DBD sangatlah khas, seperti pelana kuda katanya, pada hari kelima akan turun seolah sembuh.

Kejadian ini sudah sering kita dengar. Dulu saat aku stase di bagian Anak, bulan Januari - Februari adalah saat wabah DBD yang begitu mencekam, kami sampai hafal, hingga sangat menghindari bulan itu untuk stase di Anak. Dulu memang 2 bulan tersebut adalah puncak musim hujan. Berbeda dengan sekarang, saat musim sudah tak lagi terbaca dengan baik. Aku adalah salah satu yang beruntung masuk stase Anak pada masa DBD sedang mewabah. Yang aku ingat ada satu peristiwa yang menambah kewaspadaanku pada si - DBD.

Ada seorang ibu datang ke RS tengah malam, anaknya 4,5 tahun demam tinggi sejak 2 hari yang lalu. Dokter yang menangani memberi obat dan menyarankannya untuk minum air putih lebih banyak lagi. Ibu tersebut ngotot minta cek darah, sebab ini masuk hari ke tiga dan di lingkungan rumahnya sudah banyak yang kena DBD. Dengan setengah bersungut dokter tersebut membuatkan blanko cek darah khas untuk curiga DBD. Hasilnya trombosit anak 283 ribu, atau sekitar itu. Mereka disarankan pulang. Karena bagian Anak kala itu sedang sangat padat. Sampai ke lorong-lorong.

Selang sehari berikutnya Ibu tersebut datang lagi, karena anaknya masih demam dan makin lemas. Hasil trombositnya 120 ribu, langsung dirawat inap. Nilai trombosit normal 200 ribu. Kejadian ini terekam betul dalam benakku yang masih mahasiswa saat itu, yang aku garis bawahi jadi Ibu memang harus proaktif. Waspada saat anak demam, jangan hanya pasrah menunggu panasnya turun dengan obat-obatan, Ibu harus siaga. Segera ambil tindakan bila demamnya tak turun dalam 3 hari walau tak ada perintah dari dokter. jangan takut dibilang panik, jangan malu disebut parno.

Maka sampai saat ini, aku selalu mengingatkan diriku bila anak demam, apalagi disertai lemas, hal yang 'wajib' kita lakukan adalah:

  1. Sebisanya periksa dengan termometer, pakai yang digital sekarang juga sudah banyak. Angkanya  bisa langsung dibaca. Mudah, praktis dan harganyapun terjangkau.

  2. Beri makan seperti biasa. Ini agak sulit, kita saja kalau sakit biasanya tak nafsu makan. Tapi harus tetap dibujuk. Ganti dengan makanan yang diinginkannya. Misal tak mau nasi boleh makan roti isi daging ayam, roti isi coklat atau bubur kacang hijau.

  3. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Air putih, teh atau susu. Boleh juga air syrup, tapi sebaiknya jangan yang rasanya asam.

  4. Bila panasnya dibawah 40 derajat sebenarnya belum butuh obat penurun panas tapi bila anak ada riwayat kejang demam atau Ibu memilih untuk diberikan silakan sesuai dengan dosis dan aturan dari dokter. Bila belum sempat ke dokter belilah Syrup Paracetamol yang sekarang banyak dijual bebas, baca aturan pakainya dan ikuti. Insya Allah efek sampingnya aman terkendali. Kompres di dahi. Bagian badan yang lain sebenarnya boleh saja, misalnya ketiak, leher atau kaki tapi biasanya anak menolak. Gunakan air biasa atau air hangat, tak perlu pakai air es. Pada anak-anakku, saat demam biasanya aku tetap mandikan dengan air hangat.

  5. Bila demam tidak turun setelah lebih dari 3 hari, segera lakukan pemeriksaan darah. Atau kontrol lagi ke dokter tempat awal anak dibawa berobat, ingatkan si dokter untuk cek darah, mungkin si dokter lupa.

  6.  Hasil trombosit yang meragukan misal, 198 ribu, lihat kondisi anak. Bila anak kuat dan mau banyak minum silakan rawat di rumah saja. Tapi pastikan kondisinya setiap saat. Bila anak makin lemas jangan menunggu pagi tiba, larikan ke RS.

  7. Bila positif DBD, apalagi trobosit sudah turun.

  8. Bila dilingkungan rumah kita banyak yang sudah kena DBD maka usulkan fogging ke Puskesmas terdekat atau bisa lewat RT

Waspada DBD akan menguntungkan buat kita, keluarga dan lingkungan. Biar saja terkesan panik daripada ada penyesalan dikemudian hari. Seperti yang kualami kemarin, tak apalah dibilang panik yang penting Sulungku mendapat kepastian bukan DBD, trombositnya masih > 200 ribu, maka akupun tenang. Perawatan selanjutnya lebih leluasa kulakukan di rumah. Apalagi selang sehari kemudian Sulungku membaik, keceriaan tampak mulai terpancar dari wajahnya yang masih pucat.

Jadi demam pada anak, janganlah dianggap sepele. Apalagi bila disertai pusing berat dan badan lemas. Sebab pada demam yang bukan DBD biasanya si-anak masih mau bermain dan energik, seperti tidak sedang sakit. Yang penting kita sudah berusaha dengan maksimal, hasilnya serahkan pada-Nya saja. Umur, jodoh dan rizky semuanya sudah diatur Sang Pemilik Hidup dan Mati, tapi sebagai makhluk termulia kita 'wajib' melakukan usaha terbaik.



16 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said... 14 June 2012 at 20:58

kalau punya balita termometer jadi andalan ya mbak. biasanya saya juga setelah 72 jam langsung bawa ke dokter dan cek darah. kalau anak-anak sedang demam dikasih roti bakar mau tuh mbak, nasi memang lebih susah. Karena tidak mau dikompres saya suruh berendam di air hangat sebentar , eh salah gak ya cara ini? :)
mbak, kok kalau aku menyarankan kompres dengan air hangat suka ditertawakan temanku ya? katanya kompres itu pakai air dingin.

Tiesa said... 14 June 2012 at 21:50

DBD penyakit yg bener2 kasih pelajaran berharga bgt di keluarga saya, thn 2004 adik bungsu saya demam ngga turun2, dokter ga menyarankan untuk tes darah juga, akhirnya di hari ke4 krn ga ada perubahan jg, dibawa lagi si bungsu ke dokter yg sama, langsung tes darah ternyata trombosit sudah drop hanya tinggal 5000, semua panik, dokter pun ikut panik, alhasil langsung masuk ICU selama 5hari. sejak itu setiap ada yg demam di keluarga saya, kalau 2hari ngga turun juga panasnya, pasti langsung cek darah, entah itu disuruh atau ngga sama dokternya
waspada selalu sama DBD, suka menipu penyakitnya

Blog Keperawatan said... 14 June 2012 at 22:15

Point pentingnya adalah jangan menganggap remeh sesuatu gejala dan tanda dari suatu penyakit karena hal tersebut bisa membuat penyakitnya tambah perah.

Apalagi kalau hal tersebut berkaitan dengan anak atau pun keluarga kita

Elsa said... 14 June 2012 at 22:42

bener bener....
demam yang tidak turun turun pasti ibunya panik luar biasa yaaa


adik sepupu saya meninggal karena DBD juga

Baby Dija said... 14 June 2012 at 22:42

semoga Dija gak kena DBD deh

diniehz said... 14 June 2012 at 23:30

belom pernah ngalamin anak demam karna belom punya anak, tapi pas suami lagi sakit demam, 'cuman' demam biasa aja rasanya khawatirrr..

applausr said... 14 June 2012 at 23:33

demam karena DBD sedikit menyeramkan... kadang kadang turun tp ternayat itu sebeanrnya masih sakit... akhirnya terlambat deh... saya dulu juga pernah dbd...

Bung Penho said... 15 June 2012 at 04:40

yg namanya penyaki pasti semua orang akan khawatir kawan!. yang jelas ketika ada gejala, langsung aza bawa ke ahlinya (dokter, perawat)! thank buat infonya kawan!

Mami Zidane said... 15 June 2012 at 16:02

sebagai ibu memang harus selalu sigap ya mbak, begitupun saat anak demam.

Demam yang sampai berhari-hari belum terun pastinya nggak bisa di anggap remeh ya mbak, terimakasih infonya mbak...

Yunda Hamasah said... 15 June 2012 at 17:06

Iya banyak orang yang masih suka heran kalau dibilang kompres dengan air hangat. Padahal air hangat itukan menimbulkan efek vasodilatasi, pori membesar, jadi diharapkan panas yang ada didalam bisa keluar.

Termometer sekarangkan banyak yang praktis dan murah ya :)

Yunda Hamasah said... 15 June 2012 at 17:09

Iya betul, semoga kita tak tertipu dengan DBD...

Trims sudah menambahkan cerita :)

Yunda Hamasah said... 15 June 2012 at 17:45

Aamiin semoga Dija sehat selalu ya...

Yunda Hamasah said... 15 June 2012 at 18:09

Ibunya dan Tantenya juga, seperti Tante Elsa pada Dija :)

Trica Jus said... 15 June 2012 at 21:46

berbagi kata2 gan,
Seorang pemenang yg sesungguhnya adalah ketika dia mampu melawan amarahnya dgn kesabarannya,dan memaafkan dgn ketulusan.
semoga dapat bermanfaat dan di terima ya, salam kenal :D

Seniman fotografi said... 16 June 2012 at 00:32

Nice share k,,
wah bertambah lagi ilmu ku di WEB ini........
ijin follow WEB nya #146, di tunggu follback nya k...^_^

 
Top