Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ketika kita memutuskan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tentunya itu akan membuat kita termotivasi untuk selalu berada dalam lingkaran sesuatu yang membawa manfaat dan mendukung proses kita agar mencapai seperti yang kita inginkan.


Alhamdulillah, aku pun memutuskan untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik dalam setiap pergantian hari dan  setiap waktu yang terjalani,namun begitu ia terlewati dengan sia-sia apa mau di kata? Haruskah penyesalan berlarut-larut yang ku jalani lagi hari berikutnya? Tentu saja tidak! Aku tak ingin melewati lagi setiap kesempatan untuk memperbaiki diri, yang selalu di berikan olehNYA.

Usiaku sudah memasuki tahap dewasa muda, itu berarti tak ada alasan lagi untuk tak menjalankan perintahNYA, salah satunya yakni “Hijab”.

Menurutku hijab adalah pembatas untuk berinteraksi dengan lawan jenis, hijab menjaga kehormatan seorang muslimah dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya, menutupi auratnya dan melindunginya dari fitnah.

Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33: 59).

Jika kita mengenakan hijab, kita akan lebih mudah untuk di kenali, karena hijab merupakan identitas kita sebagai seorang muslimah.

Begitu juga aku yang sangat mudah sekali mengenali saudari-saudariku yang mengenakan hijab sebagai identitasnya.

Aku tinggal di kalangan keluarga yang sangat menjunjung tinggi keagamaan, sejak duduk di bangku sekolah dasar aku sudah menggunakan kerudung, namun untuk sehari-hari aku belum mengenakan sepenuhnya. Beranjak memasuki Madrasah Tsanawiyah yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama, kami siswi –siswi memang di wajibkan mengenakan seragam lengkap dengan menggunakan kerudung, lagi-lagi dalam keseharian aku juga tak menggunakannya, hanya di waktu-waktu tertentu saja .

Aku memang belum mengerti sepenuhnya tentang hijab waktu itu,  tak seperti saat ini begitu di gaungkan dimana-mana tentang berhijab dan wajibnya menutup aurat.

Aku dulu sempat heran mengapa remaja-remaja muslimah itu menggunakan jilbab yang teramat besar dan lebar? Selalu timbul tanya, apa mereka golongan aliran keras? Apa mereka ??? Akhh banyak timbul tanya dalam hatiku tentang remaja atau muslimah yang saat ini lebih aku kenal dengan sapaan akhwat termasuk “ukhti” panggilan sayang mereka saat ini terhadap ku.

Madrasah Aliyah yang setara dengan Sekolah Menengah Atas atau SMA tempat ku meneruskan sekolah sangat memberikan kenangan yang luar biasa, saat-saat dimana aku pun berada diantara mereka para akhwat berjilbab lebar yang selalu mengisi kegiatan halaqah atau liqo’ di sekolah kami setiap satu minggu sekali. Aku pun mulai mengulurkan dan melonggarkan  sedikit demi sedikit jilbab seragam yang aku kenakan, yang niatnya juga karena aku ternyata mulai menyukai cara mereka menggunakan hijab. Teman-teman yang satu kelompok halaqah dengan ku juga banyak yang mengulurkan jilbabnya menutupi dada mereka, namun ada juga yang seperti biasanya tanpa ada perubahan apapun.

Masa-masa SMA adalah masa dimana seorang remaja sedang mencari jati dirinya, termasuk aku. Mencoba segala hal yang tentunya belum tentu baik, dan sudah tentu di ketahui membawa keburukan tapi tetap saja di laksanakan. Astagfirullah, begitu mengingat kenangan masa SMA seakan membuat ku ngeri untuk membayangkan kembali memori itu lagi. Muda-mudi sibuk pacaran, ketika tak ada jam pelajaran, ketika guru menjelaskan malah smsan. Tak bisa ku bayangkan masa kelam beberapa tahun silam.

Mengikuti ajang pemilihan DJ SMA di salah satu Stasiun Radio Swasta di Kota ku saat itu sempat membuat ku kecewa, berawal dari lulus seleksi tahap awal yang mengharuskan aku tuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya, hanya saja hari itu konsentrasi ku benar-benar terbagi karena seleksi itu bertepatan dengan MaBiT ( Malam Bina Iman dan Takwa) yang di selenggarakan oleh organisasi yang aku ikuti bersama dengan sahabat ku waktu itu. Pada akhirnya aku pun tidak lulus dalam seleksi tersebut, aku sangat kecewa..!

Aku menyalahkan diri ku sendiri kenapa mesti bertepatan dengan MaBiT waktu itu, padahal saat MaBiT aku benar-benar mendapatkan pencerahan tentanng pentingnya berhijab. Namun sepertinya itu hanya angin lalu buat remaja seusia ku walaupun sempat mengena dan sempat terlaksana tapi aku tak punya pendirian untuk melaksanaknnya secara keseluruhan, hijab yang aku gunakan terkesan seperti ikut-ikutan, yang bisa di bilang hijab bongkar pasang!

Ahh betapa mirisnya, bila aku kembali harus mengingat masa di bangku kuliah menempuh studi bidang keperawatan, yang saat itu juga impian ku menjadi seorang penyiar tercapai.

Seragam yang kami kenakan juga wajib menggunakan jilbab untuk yang muslimah, kecuali yang non muslim. Akademi tempat kami menempuh studi juga mengharuskan kerudung yang tebal dan tidak transparan namun mahasiswi banyak yang melanggar, mereka dan aku pun sempat menggunakan kerudung yang agak transparan untuk seragam, tapi aku tak pernah menggunakan kerudung ala kadarnya seperti yang di gunakan teman-temanku dengan alasan  mereka, agar kerudung tak menghalangi aktivitas dalam  kegiatan praktik yang biasa di laksanakan kampus kami setiap semester genap.

Memulai karir sebagai seorang penyiar sekaligus mahasiswi akademi keperawatan tidaklah mudah, bayanganku dulu tak sesuai dengan kenyataan yang ku hadapi saat ini. Aku benar-benar melepaskan jilbab ku setelah aku memulai karir ku, menggunakan jilbab hanya sebatas waktu jam perkuliahan saja. Lantas apa tanggapan kedua orang tua ku? Ibuku selalu menegur, mana jilbabnya? Aku hanya menjawab dengan gelengan atau menggunakan taktik langsung nyelonong pergi.

Masa suram yang benar-benar ku jadikan bahan pembelajaran, hingga akhirnya IA memberi Hidayah dengan mengetuk lembut hati ku agar kembali kepadaNya, aku pun menyambut dengan membuka hati, mulai memperbaiki diri, mengumpulkan sisa-sisa keimanan yang masih melekat erat dalam diri yang baru ku menyadari  inilah pencarian diri sejati, saat aku mulai mengenal Tuhan ku, akupun mengenal siapa diri ku.

Aku mulai berubah, tepat di saat aku memasuki semester akhir di masa perkuliahan. Aku memilih berhenti dan meninggalkan dunia penyiaran yang sempat membuatku lemah dalam iman. Aku sangat bersyukur saat itu, karena IA masih memberi harapan tuk menatap jauh ke depan namun tak lupa sesekali menoleh ke masa silam agat tak terulang di hari kemudian. Dan aku begitu menyukai kata pepatah “Pengalaman adalah guru yang sangat berharga”

Memulai dari melaksanakan shalat tepat waktu, karena shalat tepat waktu dapat melatih kedisiplinan kita.

Dan aku juga pernah baca, batasan kufurnya seorang hamba terhadap Tuhannya adalah bagaimana shalatnya, mungkin itu juga salah satu yang membuat ku sempat jauh dariNYA, karena dulu akupun sempat bolong-bolong dalam shalat.

Mulai mengoleksi buku-buku islami yang aku jadikan bacaan di waktu senggang, sangat memberikan menfaat yang begitu besar, dan yang lebih penting lagi aku sudah mulai mengenakan identitasku sebagai seorang Muslimah..!

Dan ketika aku menuliskan kalimat itu, aku terharu, karena aku tak bisa menggambarkan  betapa bangganya aku mengenakan Identitas ku sebagai seorang Muslimah yang sudah sempat aku lepaskan.

Hijab..

Ya,  hijab yang membuat ku berubah untuk selalu menjadi lebih baik, mengantarkan ku pada indahnya menggunakan pakaian takwa tentunya dengan niat menjalankan kewajibanku sebagai seorang Muslimah yang aku sendiri mengetahui itu tidaklah mudah, apalagi dalam hal istiqomah!.

Keseharian dengan berhijab tentunya membuat orang tua ku sempat bertanya-tanya, namun tanpa ada jawaban yang jelas ku berikan dengan perubahan yang ada pada diriku sekarang. Sempat juga ada protes kecil dari keluarga ku di karenakan aku menggunakan hijab yang tidak sewajarnya di kenakan di kalangan keluargaku.

Halaqah waktu itu adalah awal kemarahan kedua orang tuaku dan sempat melarangku untuk mengikuti kegiatan itu lagi, hanya karena alasan mereka belum sepenuhnya mengetahui halaqah itu seperti apa? Apa saja yang di lakukan ketika halaqah? Mereka menganggap halaqah adalah pengajian tak jelas yang aku ikuti, bahkan yang lebih parahnya lagi orang tua ku sendiri mengatakan aku mengikuti aliran sesat yang tidak-tidak, dikarenakan mendapat cerita dari orang lain yang tak bertanggung jawab, tentu saja hal itu membuat aku menangis!

Betapa mirisnya, ketika hendak menjalankan suatu kewajiban yang jelas-jelas mendapatkan dosa jika tak dilaksanakan malah mendapat larangan, hanya karena tak ada pemahaman.

Di tentang dengan keras oleh orang tua mu hanya karena mencoba menjadi muslimah sejati dengan hijab yang sesuai syari’at agama, pernahkah kamu menghadapinya?

Aku tetap berbaik sangka kepadaNYA, karena IA selalu bersamaku. Bukankah dengan berbaik sangka kepadaNYA, maka akan baik pula sangkaanNYA terhadap kita? Aku sudah mendapatkan buktinya, ketika kita hanya bisa merencanakan dan IA yang berhak menentukan dan IA pun selalu mempunyai rahasia yang sangat indah di setiap episode kehidupan kita.

Alhamdulillah, ketika orang tua ku pun akhirnya mengizinkan kegiatan halaqah yang sempat mendapat larangan karena penjelasan nenek ku yang ternyata sudah lebih dulu menjelaskan kepada orang tuaku sebelum aku menjelaskan seperti rencana ku sebelumnya.

Setiap ada kesulitan, akan selalu ada kemudahan, dan setiap masalah akan selalu ada jalan keluarnya. Memang benar adanya ketika kita berjalan menujuNYA maka IA akan berlari menghampiri kita. Subhanallah.

Perjalanan hijab ku tak semulus yang aku duga, kembali iman ku di guncang oleh komentar dan tanggapan-tanggapan yang menghujani dari berbagai sisi.

Acara Perpisahan di Kampus kami sudah terjadwal dengan serentetan acara, dan aku adalah salah satu yang di tunjuk sebagai salah seorang pembawa acara atau MC pada acara hiburan nanti. Aku tak bisa menolak, karena itu sudah keputusan yang tak bisa lagi di ganggu gugat. Berbagai pikiran memenuhi otak ku, aku mulai membayangkan bagaiman aku diatas panggung nanti, di sorot ratusan pasang mata yang tak hanya wanita saja tapi juga pria, astagfirullah…

Dan aku harus memandu acara dengan sebaik mungkin sedangkan yang aku tahu suara seorang wanita  adalah aurat! Lantas apakah pantas seorang muslimah yang berhijab harus menggunakan berbagai macam cara, tingkah polah dan suara yang merupakan auratnya untuk dinikmati oleh ratusan pasang mata? Dan tujuannya juga untuk menghibur, berlenggak-lenggok diatas panggung sana demi tercipta hidupnya suasana acara? Akhh aku tak bisa dan tak mau lagi membayangkannya, sebelum semua pertanyaan itu terjawab aku pun segera bersiap menuju kampus sore itu.

Acara perpisahan yang di selenggarakan Kampus kami memang terbilang meriah, bayangkan saja di susunan acara tertera serentetan acara, yang dimulai dari ba’da isya sampai menjelang subuh. Ketika Baru memasuki  gerbang utama terlihat teman-teman sudah ramai, ketika aku mulai memasuki tempat perhelatan satu, dua, dan akhirnya entah tak terhitung jumlah pasang mata yang memandang dari ujung sepatu sampai ujung jilbab yang ku kenakan. Penasaran kan dengan tanggapan mereka? Mau pengajian dimana Bu Ustadzah celetuk teman ku, ku jawab ia hanya dengan senyum, ada lagi ucapan yang entah aku tak tahu apa maknanya, mengejek kah? Atau ada maksud lainnya, Ibu Hajjah kapan pulangnya? Lagi-lagi aku hanya melemparkan senyum. Begitu memandang ke sekelilingku mungkin hanya akulah satu-satunya yang menggunakan pakaian seperti ini, berhijab yang insyaallah sesuai syari’atNYA.

Bayangkan diantara ratusan pasang mata, hanya akulah satu-satunya yang berbeda, Hijab ku yang membedakan aku dengan yang lainnya, rasa malu sempat menghampiri lalu kemudian ku tepis dengan statemen “Beda Membuat ku Lebih Istimewa”.

Para MC sudah berkumpul di belakang panggung, aku datang paling telat yang tentunya kedatangan ku kembali mengundang perhatian semua yang ada di sana, dan sudah ku duga hijab ku adalah penyebabnya. Salah satu pengisi acara pun  ku pun diam-diam melihat penampilan ku dan seperti membandingkan hijab yang ku kenakan dengan pakaian para MC yang lainnya dan pandangannya pun seperti memandang dengan sebelah mata yang entah sulit sekali tuk di terjemahkan yang jelas saat ini pun belum bisa ku lupakan! Tak ada komentar apapun, namun pandangan-pandangan mereka sudah mewakilkan beribu anggapan tentang hijab yang aku kenakan. Ingin sekali akau mengatakan, bolehkah aku di gantikan sebagai MC oleh yang lainnya? Namun lisan ku seperti terkunci rapat, mengingat jika aku juga harus memberikan alasan yang belum tentu di terima . Aku memberanikan diri untuk pergi sebentar, saat aku membalikkan tubuhku dengan segala perasaan yang berkecamuk di dada membuat airmata turun dari singgasana nya, airmata itu mengalir saat mengingat betapa pandangan mata itu cukup membuat ku seolah seperti menjadi seorang tersangka yang siap di jatuhi  hukuman.

Ya Allah, jangan permalukan aku dengan hijab ku, Engkau tahu yang terbaik untukku saat ini ucap ku lirih.

Alhamdulillah, selang 15 menit aku di bebas tugaskan menjadi MC di karenakan suatu hal, subhanallah betapa bahagianya aku dan sangat bersyukur padaNYA. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaNYA.

Aku menganggap semua komentar yang mereka berikan adalah motivasi dan do’a agar menjadi lebih baik, mulai dari Ibu Ustadzah sampai Ibu Hajjah! Aamiin.. semoga di Ijababah.

Perjalanan hijab ku pun masih di warnai oleh para komentator-komentator yang menjadi kompor siap meledakkan siapa saja. Gladi Wisuda waktu itu adalah sejarah aku menerima penghargaan yang tak pernah aku inginkan dan aku pun tak memandangnya sebagai do’a seperti komentar-komentar yang lainnya.

Hijab ku kembali menjadi sorotan teman, dosen bahkan para panitia acara wisuda yang akan di gelar esok harinya, aku sudah mulai terbiasa dengan pandangan-pandangan mereka. Aku berjalan melintasi mereka dengan menunduk, yang perlu di ingat bukan karena malu, tapi karena seorang Muslimah haruslah menundukkan pandangannya di hadapan orang yang bukan mahramnya!

Ketika Gladi dimulai kami pun maju satu persatu, disaat itulah tampak jelas sekali sorot mata tajam mereka di sertai bisikan –bisikan kecil di belakang ku yang tak pernah ku hiraukan, yang ku anggap angin lalu yang hanya singgah sebentar untuk memberikan kesejukan lalu kemudian pergi meninggalkan tanpa pesan.

Lamunan ku tersentak saat seorang teman dengan jelasnya mengatakan sejak kapan berubah? Kok sekarang kayak “TERORIS”??? Astagfirullah,, aku langsung mengucap istighfar . Ya Allah kali ini aku tidak akan mengamini ucapan hambaMU itu, ia memalingkan wajahnya dan aku terdiam lalu tertunduk, pertikaian terjadi lagi dalam hatiku antara kaget, malu, bercampur sedih seperti membekukan hati dan menghentikan jantung memompa darah ke seluruh tubuh ku, aliran darah pun seperti berhenti mengalir aku pun lemas! Batin ku menangis, aku menatap nanar ke langit-langit aula agar airmata ku tak jatuh lagi,  ku genggam tangan ku seraya berkata “Ya Allah kuatkan!” Tak seharusnya aku malu terhadap perkataan hambaMU, seharusnya aku malu jika tak menjalankan kewajibanku sebagai seorang Muslimah!

Istiqomah…! Itu kuncinya, jikalau istiqomah sudah terpatri dalam diri, Insyaallah seperti apapun  aral yang merintangi akan bisa terlalui.

Jangan katakan belum siap untuk berhijab karena belum siapnya hati, berhijab dulu baru hati akan mengikuti.

Jangan pula katakana tingkah lakumu masih semrawutan sehingga kamu pun belum pantas untuk berhijab! Tapi berhijablah, karena hijab itu sendiri yang akan melindungimu dari sikap kesemrawutan. Gak percaya? Silahkan mencoba dan buktikan khasiatnya!

Mulailah saat ini, bersama kita menggapai Ridho Ilahi, agar dapat berkumpul di JannahNYA Amiin.

Keep Syar’i and Keep Istiqomah.

Artikel ini ditulis oleh @Dini_Hafsari. Berkunjung juga ke blog Great Muslimah punya Dini.

1 comments:

Oyong Ilham said... 8 April 2016 at 14:40

untuk memulai sesautu perubahan .. memang dibutuhkan kesababran

 
Top