Segala yang dikolong Matahari Pasti Berubah 
Dulu, semasa kanak-kanak, setiap Kamis pagi kampung kami yang terdapat di wilyah Kanagarian Magek - Bukittinggi selalu ramai. Ohya, Kanagarian adalah suatu bentuk pemerintahan di Minangkabau yang terdiri dari beberapa desa dan di pimpin oleh seorang Datuk Kepala. Kami memanggilnya Angku Palo. Nah dalam Nagari Magek ini ada desa Kasiak dan Sawah Ladang yang terkenal sebagai penghasil benih ikan mas dan paweh. Mungkin karena air dan keahlian yang telah terasah secara turun temurun, orang di sekitar Bukittinggi beranggapan jika hendak membeli benih ikan, tempat terbaik cuma di Magek. Maka tiap pekan ramai lah orang berkunjung,  membeli  anakan ikan untuk di lepas di kolam maupun Ganangan (Genangan) mereka.

Ganangan merupakan sawah biasa. Sebelum masuk musim tanam berikutnya, sambil melapukan sisa akar padi sebelumnya dan tanah semakin kaya humus, sawah dijadikan kolam untuk membesarkan ikan. Setelah tiga bulan, setelah anak-anak ikan sebesar ibu jari, ganangan di keringkan dan bibit ikan ini siap di jual kepada pembeli berikutnya.

Rumah kami terletak di tepi jalan menuju Kasiak dan Sawah Ladang. Dari jendela rumah aku biasa melihat bapak-bapak berkopiah sebo atau melilitkan sarung di tubuh untuk menahan dingin yang menusuk berjalan pelan atau bersepeda onthel. Mereka datang dari arah jalan berkabut dan mereka menghilang juga di jalan berkabut. Setelah agak siang mereka kembali lewat jalan yang sama tapi sekarang dengan tentengan Upih di tangan. Upih adalah semacam kontainer tempat anak ikan yang terbuat dari pelepah pinang.

Begitu terkenalnya Nagari Magek sebagai produsen anak ikan ketika itu hingga lahir olokan terkenal bahwa Orang Magek penjual anak.  Kalau kita berkenalan dengan orang luar dan kita menyebutkan Nagari asal pasti mereka tertawa, "Oh urang magek panjua anak yo!" ( Orang Magek penjual anak ya).

Namun kini masa kejayaan itu telah lewat. Nagari Magek sekarang tidak lagi cocok dicirikan berpenduduk sebagai penjual anak. Tidak ada lagi bapak-bapak bersebo yang lewat di depan rumah kami tiap Kamis pagi. Kalaupun masih ada ciri, cuma berupa peninggalan berupa patung-patung ikan Mas kecil di beberapa tempat. Aku sempat mendatangi salah satu kolam  bekas pembibitan di Sawah Ladang, namun sisanyapun tak ada. Di tempat itu sekarang berdiri rumah permanen.

Mungkin perlu dibuat kajian mendalam mengapa industri pembenihan ikan di Magek lenyap begitu saja. Namun dari analisaku sekilas itu pasti berkaitan penggunaan pestisida, pupuk urea dan jenis padi bibit unggul yang dikenalkan pemerintah. Tanah yang telah disemprot pestisida mestinya tak memberi harapan hidup bagi bayi-bayi ikan. Pupuk urea membuat petani tak perlu menunggu terlalu lama sehingga tanahnya siap di tanam kembali. Disamping itu musim panenpun semakin pendek. Kalaulah berkiblat pada sudut pandang ekonomi, sekarang jauh lebih menguntungkan panen padi empat kali dalam setahun ketimbang membuat Ganangan untuk membesarkan benih ikan hingga sebesar ibu jari.

Magek bangkit sebagai Nagari produsen ikan karena hukum ekonomi. Dan sekarang lenyap dari panggung kejayaan juga karena hukum yang sama. Benar kata Om Ralph Waldo Emerson bahwa For everything you have missed, you have gained something else, and for everything you gain, you lose something else.

Penulis : Evi Indrawanto
Blog     : http://eviindrawanto.com/

26 comments:

tunsa said... 10 February 2012 at 00:24

mengawali komen :D
itu sekitar tahun berapa bu? saat kejayaan kota magek?

Evi said... 10 February 2012 at 00:47

Tahun 70-an Magek masih berjaya kok Mas

tunsa said... 10 February 2012 at 00:48

walah.. saya blum lahir tuh.. :D

Dadan Darmawan said... 10 February 2012 at 01:39

sama, saya juga masih dalam tahap rencana... :D

Evi said... 10 February 2012 at 01:56

Jadi dari segi umur, mas tunsa dan mas dadan generasi anak2ku yah..Hayyyahhhh..lari lihat kaca..

tunsa said... 10 February 2012 at 01:58

hihi..iyah... #larimenujucermin juga

nique said... 10 February 2012 at 02:12

ini napa pada ngurusin kaca semua? *ngelirik kaca juga*

Indra Kusuma said... 10 February 2012 at 02:55

Waduh pada kabur gara-gara kaca. Cabut juga ah !

dmilano said... 10 February 2012 at 03:14

Saleum,
Achh... pecah deh kacanya, pada rebutan sih....
awak suko pai ka padang, juo acok naik bendi di paiaman.

WaroengBlogger said... 10 February 2012 at 03:17

eit... di sini gak jualan kaca lho ya? sana pada pulang, haha

WaroengBlogger said... 10 February 2012 at 03:18

haha... bundanya sudah pulang, mengamankan kacanya.. :D ini bahasa roaming tak ada terjemahnya :(

nique said... 10 February 2012 at 04:18

hahaha ... penjaga warung bingung ga ngerti omongan tamunya hahahaha

Abdul Cholik said... 10 February 2012 at 12:27

Di kampung saya panen padi tidak bisa 3x-4x setahun, tetapi hanya 2x. Mengapa ? Tanam padi hanya 2x karena katanya untuk memberikan kesempatan tanah bernafas. Namun ada selingan sekali untuk menanam semangka, cabe, melon atau palawija lainnya.

Emak biasanya tidak menanam tanaman selingan dan sawah emak disewa oleh tetangga yang ingin menanam semangka.

Terima kasih informasinya jeng. Biarkan saja anak-anak diatas bermain dan bercemin karena memang usia mereka masih sedang dalam masa "mencari bentuk", terutama si Nique cantik itu.

Salam hangat dari Surabaya

Niar Ci Luk Baa said... 10 February 2012 at 15:01

lho niar belum ngaca...hwahahaha...... :p

WaroengBlogger said... 10 February 2012 at 15:38

niar gak usah ngaca, udah cantik, kalo niar ni generasi cucunya bunda evi :D

WaroengBlogger said... 10 February 2012 at 15:39

:( berapa banyak sih bahasa di Indonesia, mudah2an ada orang yg mau bikin translator seluruh bahasa di Indonesia

WaroengBlogger said... 10 February 2012 at 15:40

saya sudah berbentuk lho dhe.. :D
di kampung saya juga 2 kali panen saja, yg sekali ditanami kacangijo biasanya

Niar Ci Luk Baa said... 10 February 2012 at 18:21

heheheh.......makasih , ndak ada permen *klu muji di kasih permen* :D
iyaa tuh tahun70 niar masih jadi apaan yaa.....
mikir dulu yaaa.......

Evi said... 10 February 2012 at 21:14

Niar tahun 70-an, papa-mamanya masih lirik-lirikan di TK kali ya..Atau mereka belum lahir kali yah..

Lidya - Mama Pascal said... 10 February 2012 at 22:43

kacanya masih ada gak ya disini?:)

kang riez said... 11 February 2012 at 01:27

Itulah yg tidak sukai dari perkembangan Jaman

Abi Sabila said... 11 February 2012 at 05:56

Sama, di Kebumen juga begitu, hanya 2 kali panen padi, diselingi kacang hijau atau kedelai.

Evi said... 12 February 2012 at 16:59

Iya nih, aku juga heran dengan pola tanam di kampung sekarang. Selain ganangan, dulu pasi juga diseling dengan palawija seperti ubi, cabe atau bawang. Kemarin sempat bertanya, kok sekarang orang tak berparak (berkebun) di sawah seperti dulu? Menurut ibu, kalau sawah di jadikan kebun, nanti pengolahannya untuk padi akan sulit, karena tanah mesti dilembekin dulu...Dan itu makan waktu lebih lama..Yang mana sawah tak bisa memproduksi padi 3-4 kali setahun...

Evi said... 12 February 2012 at 16:59

Sudah pulang, balik kampung Mb Lid :)

Evi said... 12 February 2012 at 17:01

Iyah, ada hal2 yg kita sukai dari perkembangan jaman dan ada pula yg tidak. Tapi seperti bayar pajak, suka atau tidak kita akan melaluinya :)

Evi said... 12 February 2012 at 17:03

Saleum,
Padang merupakan kota transit. Dan bendi sekarang di padang dan bukittinggi cuma tersedia sebagai transportasi wisatawan :)

 
Top