Oleh: Evi Indrawanto 

Rumah Beratap Ijuk

Pohon aren (arenga pinnata) sama seperti kelapa, seluruh bagian dari batangnya bermanfaat secara ekonomi. Mulai dari batang untuk bahan bangunan dan seni, daun, buah, bunga (mayang), dan ijuk sudah lama digunakan nenek moyang kita sebagai penunjang  kehidupan. Pohon ini sangat berpotensi sebagai komoditi ekspor, bisa berperan sebagai penyuplai energi dan melestarikan lingkungan. Nah salah satu produk aren yang akan saya bahas disini adalah ijuk, serat alami yang menempel di ketiak batang.

Kalau ada yang merasa bahwa pohon aren itu seram, penyebabnya adalah serabut warna hitam ini. Tumbuh di Dikenal dengan berbagai nama : Ijuk, Injuk, Juk dan Duk. Apa lagi setelah pohon berumur lima tahun, ijuk yang tadinya rapi terlipat dibawah ketiak sekarang mulai terlihat berantakan. Terburai kesana-kemari yang membuat pemandangan jadi tak sedap. Belum lagi  ijuk kemudian jadi sarang cendawan, bakteri dan tumpangan tanaman liar seperti angrek dan suplir, lengkaplah syarat mengapa orang tak begitu suka aren tumbuh berdekatan dari rumah.

Seribu Kegunaan

Ijuk sendiri adalah serat alami berkarakter kuat, lentur dan tahan terhadap kelembaban dan air asin. Itu yang membuat ijuk bagus dijadikan tali untuk mengikat bagian-bagian tertentu dari badan kapal atau perahu. Sapu ijuk sudah terkenal. Serat ijuk yang tak terpakai untuk sapu dan tali (kakaban) dipakai untuk bangunan tanggul dan dinding tembok pengairan agar memegang bahan-bahan organik yang merembes bersama air. Semakin lama tumpukan bahan organik semakin banyak yang membuat perekatan antar batu semakin erat.

Dari artikel disini, saya lihat bahkan ijuk digunakan juga sebagai perisai reaksi nuklir.  Jadi kalau suatu saat pemerintah jadi juga membuat pembangkit listrik bertenaga nuklir, pasaran ijuk pasti meningkat :)

Ngakab-Menyisir Ijuk

Mengolah Ijuk

Memanfaatkan ijuk dimulai dari memanennya dari batang aren yang sudah berumur lima tahun. Dengan sebatang tangga bambu panjang yang diberi lubang-lubang, ijuk yang sudah di lepas lidi-lidinya mulai dicongkel dengan parang agar terlepas dari batang. Setelah itu di bawa ke tempat pengolahan untuk nanti di sisir menggunakan kawat baja runcing yang dipakukan pada sebatang kayu. Gunanya selain membersih, agar serat-serat tertata rapi dan bisa dipisahkan besar dan panjang serat. Kemudian di jemur dan setelah kering baru diikat seperti cemara (bahan sanggul) ibu-ibu jaman dulu. Orang Sunda menyebut pekerjaan ini sebagai Ngakab.

Potensi Ijuk sebagai Komoditi Ekspor

Setelah ijuk sortir dan diikat menurut panjang masing-masing sekarang bentuknya seperti batang tebu. Maka disebut tebuan. Mutunya ditandai secara abjad. Grade A untuk serat yang panjangnya 30-40 cm. Grade B : 40-50 cm. Grade C : 50-75 cm. Grade D : 75-90 cm. Grade E : 90-120 cm.

Di luar negeri serat pohon aren ini kurang lebih sama kegunaannya di dalam negeri yakni akan dipintal untuk membuat tali kapal.Seperti telah disebut diatas serat ijuk tahan terhadap daya rusak air garam. Ijuk juga digunakan untuk atap bangunan yang menampilkan unsur alami dan ramah lingkungan. Selain tentu juga di gunakan untuk memenuhi keperluan pertanian dan rumah tangga.

Salam,

-- Evi

34 comments:

Fajar said... 19 April 2012 at 15:39

atap ijuk bikin adem rumah... nyes...

Ririe Khayan said... 19 April 2012 at 15:53

Atap dari daun kelapa (blarak), bapak saya pernah bikin untuk di emperan rumah buat tempat nyimpan kayu bakar dulu..

Mama Olive said... 19 April 2012 at 16:06

ga bisa komen, kotak komennya ga muncul aja..
makanya nebeng komen di mari hhee..
*ikut ya mas fajar*..

Banyak kegunaannya nya Ijuk,..
Sapu ijuk, Ijuk buat filter air..

Tiesa said... 19 April 2012 at 16:10

saya cuma kenal ijuk yang dipakai untuk sapu sama penyaring air aja, penggunaannya di rumah saya cuma sebatas itu
terima kasih infonya Bu Evi :)

Urang Kampoeng said... 19 April 2012 at 19:19

Kalo sekarang jarang rumah yg pakai ijuk, kecuali rumah2 di desa yg masih patuh terhadap adat leluhur. Semisal di desa sebelah ada satu perkampungan adat yg bernama kampung adat Kuta, semua rumahnya menggunakan atap ijuk dan panggung.

Fahmi Setiawan said... 19 April 2012 at 21:09

Ternyata ijuk banyak manfaatnya ya. nice info deh

Niar Ci Luk Baa said... 19 April 2012 at 21:35

ijuk yang memiliki banyak manfaat yang terkadang di anggap remeh sebagian orang yaa bu :D

Bung Penho said... 19 April 2012 at 22:01

gue gak pernah kefikiran tentang ijuk ini sampai sedemikian besar kegunaannya. karna dikampung gue ijuk cuman buat nyapu doank!
mantap dah infonya

Evi said... 20 April 2012 at 04:27

Atap ijuk mengeluarkan gelombang alam, levelnya beta mungkin, makanya jadi adem Bro Fajar :)

Evi said... 20 April 2012 at 04:28

Kenapa gerangan Mbak Cik, kok gak bisa komen ya?

Evi said... 20 April 2012 at 04:29

Tinggal di desa bersentuhan erat dengan alam Mbak Rie, maka bahan-bahan untuk keperluan bangunan mudah di dapat :)

Evi said... 20 April 2012 at 04:32

Mengenai kegunaan ijuk ini, teori dan penelitian kemanfaatannya sdh banyak Miss. Cuma ya gitu deh, masih kurang di manfaatkan. Mungkin karena kita hidup di alam yang berkelimpahan kali ya, tak menggunakan serat ijuk, masih banyak serat lainnya :)

Evi said... 20 April 2012 at 04:32

Kata orang tua, tak kenal maka tak sayang. Tak kenal ijuk maka belum tahu manfaatnya :)

Evi said... 20 April 2012 at 04:33

Karena alam kia kaya Mbak Niar. Coba gak ada pohon lain yg bisa dimanfaatkan, pasti deh ijuk disayang dan dipuja-puja :)

Evi said... 20 April 2012 at 04:35

Penggunaan ijuk yang lebih maju, emang butuh sedikit pengetahuan yg juga maju Bung Penho. Dan di desa biasanya kurang pengetahuan tersebut, maka kemanfaatan ijuk baru sebatas sapu :)

Lidya - Mama Cal-Vin said... 20 April 2012 at 07:10

dulu mikir atap ijuk kalau kena hujan gimana ya. setelahmerasakansendiri ternyatakok bisa tidak basah

Niar Ci Luk Baa said... 20 April 2012 at 15:53

hahahaha ijuk ijuk, orang indonesia ituh doyan nya sama yang berbau2 modern, coba orang luar negeri lebih suka sama negeri kita yaa bu :D

Abi Sabila said... 21 April 2012 at 05:16

mbak Lidya pernah bernaung di bawah atap ijuk? dimana?

sapu ijuk asli kini sudah mulai tergeser dengan kehadiran sapu ijuk sintetic.

Hadi Kurniawan said... 24 April 2012 at 16:34

Saya juga nggak bisa komen :(

sanman said... 24 April 2012 at 23:07

mantap artikelnya..
ijuk juga bisa dipake kalo ada rumah yang punya taman dibelakang yang mau dibuatin gazeboo...daripada pasang seng/genteng, mending pake ijuk sbg alternatif...

Obat Kanker Payudara Tradisional said... 24 May 2012 at 17:04

atap ijuk memang bikin nyees nyess nyessss....

Anonymous said... 5 October 2012 at 20:19

ijuk itu kalo kepanasan terus menerus tahan berapa lama sih?? terus klo kehujanan/ terkena air terus menerus tahan berapa lama??

tempat wisata said... 21 February 2014 at 22:09

atap ijuk harus dilestarikan. alami keliatnya. hehehe

Ijuk Indonesia said... 6 February 2016 at 04:52

keren sekali artikelnya...
negara kita ini kadang kadang lupa akan potensi daerahnya... pemerintah kita terkadang cuek dengan kekayaan dan kesuburan wilayahnya...
sebagai contoh negara malayasia juga pernah kirimkan professor dan dan kaum intelektualnya untuk datan ke indonesa untuk meneliti ijuk... lah negara kita yang memiliki SDA hususnya ijuk yang berlimpah.. dan sangat di sukai oleh pasar ekspor malah kita cuek cuek aja...

Ijuk Indonesia said... 6 February 2016 at 04:53

keren sekali artikelnya...
negara kita ini kadang kadang lupa akan potensi daerahnya... pemerintah kita terkadang cuek dengan kekayaan dan kesuburan wilayahnya...
sebagai contoh negara malayasia juga pernah kirimkan professor dan dan kaum intelektualnya untuk datan ke indonesa untuk meneliti ijuk... lah negara kita yang memiliki SDA hususnya ijuk yang berlimpah.. dan sangat di sukai oleh pasar ekspor malah kita cuek cuek aja...

 
Top