Jika belum rejeki, jangankan baru dihidangkan, nasi yang sudah di tanganpun belum tentu dapat dimakan dan ditelan. Kesadaran ini kembali aku dapatkan dari kisah Ihsan, Firman, Iqbal  dan Irwan.

Tidak aneh dan tidak pula ada yang heran bila tahun ini Ihsan akan mendapatkan promosi jabatan. Ia salah satu dari beberapa karyawan unggulan. Hampir semua karyawan tahu dan mengakui prestasi Ihsan. 

Tapi belakangan, ketika agenda promosi tinggal menghitung hari, sebuah kabar tersiar, mengejutkan seluruh karyawan, tak terkecuali Ihsan. Tahun ini, dengan beberapa pertimbangan, pihak manajemen perusahaan mengeluarkan satu kebijakan, tidak ada promosi jabatan. Promosi jabatan ini akan ditunda hingga setahun kedepan.

Jika beberapa karyawan protes dengan keputusan manajemen, Ihsan justru tidak terlalu kagaet dengan kabar ini. Ia telah mempersiapkan separuh hatinya untuk kemungkinan yang kini benar-benar terjadi.

Ini sudah menjadi keputusan final manajemen perusahaan, karenanya kita harus menerimanya. Dan insya Allah, aku ikhlas. Kalau tidak kusiapkan separuh hatiku untuk kemungkinan ini, mungkin aku akan sangat kecewa. Jujur, separuh hatiku memang mengharapkan, tapi separuh lainnya telah kusiapkan untuk sebaliknya. Kita harus realistis. Boleh jadi akau termasuk salah satu karyawan yang dinominasikan mendapatkan promosi, tapi tentu saja bukan satu-satunya. Apalagi ternyata aku bukan tidak terpilih, tapi memang tidak ada promosi jabatan tahun ini.” Ihsan mencoba menenangkan kegundahan rekan-rekan dekatnya.

“Apa rencanamu selanjutnya?” salah satu rekan bertanya.

“Rencana?” Ihsan balik bertanya. “Tidak ada rencana baru kecuali bekerja sebagaimana biasa. Meski tak ada promosi, aku kan tetap bekerja di sini, dan tentu saja masih mendapatkan gaji. Iya, tho?” jawab Firman tertawa ringan. 

Lain Ihsan lain lagi si Firman. Firman memang tidak termasuk karyawan unggulan. Namanya tidak tercantum di daftar pengajuan promosi karyawan. Tapi atasannya menilai Firman layak untuk dipertahankan. Jumlah penjualan yang tidak mencapai target memaksa manajemen perusahaan melakukan pengurangan karyawan. Dan secara nilai, Firman berada di posisi yang aman. Karenanya, atasan Firman menyuruhnya membuat tools box khusus untuk menyimpan peralatan kerja miliknya.

Butuh waktu satu minggu untuk Firman membuat tools box nya sendiri. Jika tugas utamanya selesai ia kerjakan, Firman kembali menyelesaikan proyek tools boxnya. Dan ia melakukannya dengan semangat. Tapi jangankan tahun depan, apa yang terjadi esok haripun tak ada manusia yang bisa memastikan. Begitupun Firman. Tak disangka sebelumnya, di keputusan final manajemen nama Firman justru muncul diantara karyawan yang tidak bisa dipertahankan. 

“Semestinya hari ini Firman mulai menggunakan tools box nya,” ucap atasan Firman prihatin. Ia telah mencoba bernegosiasi ulang, tapi keputusan manajeman tetap tak bisa dirubah atau dibatalkan.

Setahun lalu, satu pelajaran juga kudapatkan dari Lukman. Prestasi kerjanya tak lagi diragukan. 90% promosi jabatan sudah mengarah kepadanya. Bahkan Iqbal ditunjuk sebagai salah satu anggota tim yang mempersiapkan beberapa karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan. Tapi manusia hanya bisa berencana dan berusaha, sedang hasil akhirnya Allah lah yang berkuasa menentukannya. Di hari-hari terakhir menjelang promosi, satu kabar sangat mengejutkan beredar dari mulut ke mulut. Dengan alasan yang tak dijelaskan, pihak manajemen membatalkan promosi Iqbal dan tetap memberikan promosi kepada beberapa karyawan lainnya.

Masih ada satu lagi, beberapa minggu yang lalu, satu kejadian juga menggugah kesadaranku. Menjelang batas akhir penyerahan SPT tahun 2011 yaitu tanggal 31 Maret2012, pihak manajemen membagikan bukti pemotongan PPh pasal 21 untuk diserahkan ke kantor pajak terdekat baik secara perorangan maupun kolektif, tapi yang jelas pihak manajemen tidak memfasilitasi penyerahan SPT ini secara kolektif. Dengan berbagai pertimbangan, beberapa karyawan termasuk aku akhirnya meminta bantuan Irwan untuk menyerahkan SPT ke kantor pajak secara kolektif, dengan kesepakatan akan memberikan sejumlah uang sebagai pengganti ongkos dan sekedar uang lelah tentunya. 

SPT sudah dikumpulkan, termasuk sejumlah uang yang telah disepakati. Tapi tanpa tahu apa sebab pastinya, pihak manajemen menarik kembali bukti pemotongan PPh pasal 21 yang sudah dibagikan, termasuk milik kami yang sudah dibawa Irwan. Merasa belum melakukan apa-apa, Irwan mengembalikan uang yang telah masuk ke dompetnya. “Belum rejeki saya,” ucapnya sambil tertawa.
 
Demikianlah, seringkali kenyataan berbeda dari apa yang kita rencanakan, harapkan. Tak jarang kita meyakini bahwa keberuntungan, rejeki akan menjadi milik kita, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Begitulah Allah menetapkan, dengan satu tujuan, yang tentu saja adalah ketetapan yang terbaik untuk hamba Nya. 

Kalau memang rejeki kita, walau di seberang lautan, selalu ada jalan, ada alasan. Entah kita yang akan menjemputnya, atau justru dia yang akan mendatangi kita. Begitupun sebaliknya seperti yang disebutkan di awal tulisan, jangankan baru dihidangkan, yang sudah ditangan saja belum tentu dimakan dan ditelan. 

Kita, manusia, hanya wajib berdoa dan berusaha, tapi tidak wajib menentukan hasilnya. Setelah meluruskan niat, berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan dibarengi dengan doa yang tiada putus, serahkanlah hasil akhirnya pada Allah swt. Apapun hasil akhirnya, kita harus ikhlas menerimanya, karena keputusan Allah adalah yang terbaik untuk kita.



*nama-nama dalam tulisan ini bukan nama sebenarnya.

**Terima kasih kepada Mbak Pramita untuk gambarnya. 

Salam,
Abi Sabila

32 comments:

Evi said... 2 April 2012 at 13:40

Rejeki emang hanya milik Allah, kita hanya berusaha mendapatkan. Tapi kerja di perusahaan yg plin-plan kayak gitu betul-betul tak menimbulkan rasa aman ya...Semoga yg gak jadi dapat promosi atau terpaksa tertendang dari daftar gaji perusahaan, mendapat ganti, rejeki yang lebih baik. Amin

Tebak Ini Siapa said... 2 April 2012 at 13:54

Hihihi, nice share mas...
Meski udah ada berita mau naik promosi, eh ternyata ga jadi. Semua emang harus diserahkan kepada Allah hihi~ :|

nicamperenique said... 2 April 2012 at 14:24

hehehe ... nasi udah mau disuappun bisa batal masuk mulult, tiba2 ada bola nyasar ... tung! eh pas mendarat di tangan yang mau menyuap hahaha

tfs ya Bi

Bung Penho said... 2 April 2012 at 14:46

Kata-kata bijak yang patut dibaca semua orang! mantapz gan!

Fajar said... 2 April 2012 at 15:58

manusia hanya bisa berusaha.. segala hasil semua adalah hak prerogatif.. Allah SWT..

Si Belo said... 2 April 2012 at 16:40

makasiih abiii udah mengingatkan ^_^

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:09

Amin, insya Allah.

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:11

Betul, Mbak Una. Kita, manusia, hanya bisa berusaha dan berdoa, Allah lah yang menentukan hasil akhirnya.

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:13

Itu salah satunya, Mbak Ni. Banyak alasan mengapa nasi batal masuk ke dalam mulut, bahkan yang sudah dikunyahpun bisa saja dikeluarkan, tercampur kerikil misalnya. Dan intinya, ini belum rejeki kita.

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:14

terima kasih, Bung Penho :)

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:14

Betul sekali, Mas Fajar.

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 18:15

Sama-sama, Mbak Belo...

I'am Sadah said... 2 April 2012 at 18:25

Mengetahui hahikat rejeki, inti dari sikap tawakkal..

NF said... 2 April 2012 at 19:39

kalau belum rejeki sekeras apapun kita berusaha tetap saja ngga dapet ya, tapi kalau udah diatur memang rejeki kita rasanya jalannya dipermudah, tapi yang penting ikhtiar :)

Suwargo said... 2 April 2012 at 20:40

Memang rejeki datang dari Tuhan tapi rejeki itu bisa kita cari dengan berbagai cara, tapi kalo bisa dengan yang cara halal

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 22:50

betul, doa dan usaha haruslah dimaksimalkan, sedang hasilnya kita pasrahkan pada Allah swt, karena Allah lah yang tahu yang terbaik untuk kita.

Abi Sabila said... 2 April 2012 at 22:52

bukan kalau bisa, tapi harus dengan cara yang halal agar hasil yang didapatkan juga halal dan barokah.

Lidya - Mama Cal-Vin said... 3 April 2012 at 06:30

semua tergantung Allah ya bi, rezeki itu diberikan pada kita atau bukan

ysalma said... 3 April 2012 at 16:24

rejeki memang hanya Allah yang menentukan, tetapi tetap dengan pilihan kita harus mengusahakan dengan sebaik-baiknya ya.

Tiesa said... 3 April 2012 at 17:20

yang penting sudah berusaha mas, rezeki ngga akan salah alamat kok :)
nice share :)

Samaranji said... 3 April 2012 at 17:29

Dalam hal ini, saya biasa diajarakan untuk selalu berorientasi pada kerja, bukan semata berorientasi pd hasilnya. Istiqomah khoiru min alfi karomah, konsistensi dalam hal apapun lebih baik dari seribu keajaiban.

Makasih sharenya, Kang Abi ;)

Dadan Darmawan said... 3 April 2012 at 20:31

Allah tidak menyuruh manusia untuk berhasil, tapi Allah menyuruh manusia untuk berusaha...

aieza said... 3 April 2012 at 22:36

assalamu'alaikum
bertamu + follow

Abi Sabila said... 4 April 2012 at 02:13

betul, Mbak Lidya. Yang terpenting kita berusaha secara maksimal, hasilnya kita pasrahkan pada Allah swt.

Abi Sabila said... 4 April 2012 at 02:14

betul sekali, Mbak. Bagaimanapun, ikhtiar adalah kewajiban kita.

Abi Sabila said... 4 April 2012 at 02:14

Betul!rejeki tak akan tertukar.

Abi Sabila said... 4 April 2012 at 02:16

sepakat dan sependapat.

blog penghasil uang said... 9 April 2012 at 02:29

ada 3 hal yang perlu anda ingat, sebelum manusia dilahirkan ke bumi, 3 hal itu sudah ditentukan yaitu mati, jodoh, rezeki. bagaimana pun itu kita diwajibkan berusaha dan serahkan semua kepada allah akan hasilnya.

vera said... 17 May 2013 at 21:28

Duh mimin, itu tulisannya dibesarkan sedikit donk... untuk ceritanya sih sudah bagus... makasih sudah berbagi ^^

Reksadana said... 20 July 2014 at 19:39

Cerita yang inspiratif. terima kasih sudah berbagi. Soal rezeki, dan investasi, memang ada sebagian karya manusia dan sebagian karya Tuhan, makanya tidak hanya bekerja tapi perlu juga berdoa.

 
Top