Macet lagi, macet lagi!

Bagi sahabat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, macet adalah hal yang biasa. Bahkan di beberapa lokasi, kemacetan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. 

Sayangnya, kemacetan seperti di Jakarta juga sering terjadi di Tangerang. Jika dulu hanya melihat dari tayangan berita di televisi, kini aku sering mengalami sendiri. Seperti tadi pagi, sudah tiga kali dalam minggu ini aku terjebak dalam kemacetan. Entah apa yang terjadi di depan sana, lebih dari lima belas menit motorku nyaris tak bergerak. Maju tak bisa, mundur atau berputar arahpun sama saja.

“Ini pasti ulah sopir-sopir angkot lagi!” 

Seorang pengendara sepeda motor di sampingku mendengus kesal. Aku menduga ia sudah terlambat masuk kerja. 

Aku bergeming, tak berkomentar. Apa yang ia katakan bisa jadi benar, tapi bisa juga salah. Kemacetan semacam ini kadang memang disebabkan oleh ulah beberapa supir angkutan kota yang tidak bertanggung jawab. Berhenti, mangkal, dan berputar arah di sembarang tempat. Tapi itu bukan satu-satunya penyebab kemacetan, masih ada kemungkinan lain seperti para pengendara motor yang tidak disiplin. Memaksa menyelusup di sela-sela angkot atau mobil, juga bisa jadi penyebab dan memperparah kemacetan.

Apapun dan siapapun yang menjadi penyebab kemacetan, yang jelas banyak pihak yang kemudian dirugikan. Karenanya, berbagai upayapun terus dilakukan untuk mengurai dan mengurangi tingkat kemacetan. Diantaranya dengan membuka jalur baru, pemberlakuan sistem buka tutup hingga menambah jumlah petugas dari kepolisian di titik-titik yang rawan kemacetan. Tapi dari berbagai upaya yang telah dilakukan, kemacetan masih saja sering terjadi. Selain jumlah kendaraan yang terus meningkat, mental para pengguna jalan yang tidak disiplin, tidak patuh pada aturan menyebabkan kemacetan selalu sulit diatasi.

Kesabaran dan kesadaran berlalu lintas sangat diperlukan demi kelancaran, kenyamanan dan keselamatan di jalan.

Kemacetan bisa diatasi atau setidaknya dikurangi apabila setiap pengguna jalan sama-sama sabar dan sadar. Sabar mengantri, menunggu giliran dan rela mengalah demi kelancaran bersama. Sadar bahwa jalan yang kita lewati adalah milik umum, maka menghormati sesama pengguna jalan adalah sebuah kewajiban.

Setiap pengguna jalan ingin segera sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Tapi tidak setiap pengguna jalan mau mengantri, rela mengalah demi kelancaran, kenyamanan dan keselamatan bersama. Seolah tak ada yang lebih penting melebihi kepentingannya. Tak ada yang pantas didahulukan selain dirinya. 

Jalan yang kita lewati memang bukan milik nenek moyang mereka, tapi bukan pula milik kakek moyang kita. Karenanya kita harus sadar bahwa setiap pengguna jalan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Juga sadar bahwa peraturan lalu lintas dibuat untuk kelancaran, keselamatan, keamanan dan kenyamanan bersama, bukan sekedar hiasan, bukan pula untuk dilanggar. 

Jika berbagai upaya telah pemerintah lakukan untuk mengatasi kemacetan namun belum menunjukan hasil yang memuaskan,mari kita budayakan sabar dan sadar berlalu lintas agar terwujud kelancaran, kenyamanan dan keselamatan di jalan. 

Dan diumpamakan perjalanan, hidup ini juga kadang tersendat, terhenti sesaat oleh datangnya sebuah ujian atau cobaan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, namun intinya sama bahwa kita harus bisa melewatinya, mengatasinya. Dan agar hidup ini tetap berjalan dengan lancar, aman dan selamat, sabar dan sadar sangatlah diperlukan. Sabar atas ujian yang datang, dan sadar bahwa semua itu terjadi atas ijin dan kehendak Allah, dengan satu tujuan. Allah tak memberikan ujian diluar batas kemampuan. Sabar dalam berikhtiar dan sadar bahwa yang kita lakukan adalah sudah benar dan sesuai yang Allah perintahkan. 

Jadi, mari kita upayakan untuk selalu sabar dan sadar dalam mengatasi berbagai persoalan. 

Salam hangat untuk seluruh pengunjung Waroeng Blogger's

39 comments:

Cerita Tugu said... 17 March 2012 at 12:22

kedissipilinan berkendara di jalan raya memang harus dimliki bagi semua pengendara kendaraan gara aman, nyaman dan lancar

choirul huda said... 17 March 2012 at 15:21

kalo nyelonong pake sepeda motor tuh kadang iya juga sih, soalnya kalau dibelakang angkot rasanya benci banget

Ari said... 17 March 2012 at 16:02

biasanya kita tak sabar dan berebut jalan duluan saat lampu hijau dah menyala, padahal kendaraan di depannya masih start jalan... itu yang paling saya benci, nggak sabaran.. yah, meskipun ada kesibukan yang harus dikejar..
salam

Dadan Darmawan said... 17 March 2012 at 16:38

Sabar dan sadar, memang dua hal yang diperlukan untuk mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas...

kakaakin said... 17 March 2012 at 17:12

Kemacetan sudah menjadi langganan di beberapa ruas jalan di kota manapun.
Kendaraan semakin banyak sih :(

HA Peduli said... 17 March 2012 at 17:16

postingan yang sangat menarik :)
sangat bermanfaat.. ^_^
keep posting yaa..

ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)

Asep Saepurohman said... 17 March 2012 at 19:48

Untung di tempat saya jarang ada macet :D

Ananda Mutiara said... 17 March 2012 at 20:53

Macet lagi, macet lagi apalagi di kota Surabaya. Tiada hari tanpa kemacetan. Semoga kita termasuk orang-orang yang punya kesadaran tinggi sebagai pengguna jalan yang baik. Ma kasih banyak Abi, tulisannya menginspirasiku.

Evi said... 17 March 2012 at 22:27

Menurut saya, jumlah kendaraan di Jakarta dan Tangerang sdh sangat berlebihan. Coba perhatikan laporan perusahaan otomotif, tiap tahun penjualan mereka meningkat. Sebagian besar kendaraan2 tersebut masuk ke Jakarta dan kota2 satelitnya. Sementara kendaraan bertambah, infratruktur jumlahnya tetap. Yah pasti macetlah..Dan solusi paling ampuh menurut saya sih, bukan dengan memperlebar jalan, tapi memberdayakan kendaraan umum agar nyaman di naiki, termasuk keamanannya. Kalau kendaraan umum sdh teratur, sopirnya juga gak ugal2an, orang pasti lebih suka naik kendaraan umum ketimbang bawa kendaraan sendiri..

Cara lain, bisa menaikan BBM..Tapi dampaknya berbahaya terhadap kesehatan ekonomi bangsa. Mending menata ulang kebijakan angkutan umum saja deh Mas :)

waroeng coffee said... 17 March 2012 at 23:38

macet n kesemerawutan sepertinya sudah menjadi hal yg biasa bagi penduduk kota besar :) shg kebiasaan itulah yg kdg menjadi penghambat kesadaran apalagi kesabaran pengguna tuk lebih baik :)

Lidya - Mama Pascal said... 18 March 2012 at 00:15

macet sudah makanan sehari-hari sejak sekolah hingga kerja, tapi sekarang sudah bebas macet :)
dulu bapak saya bilang kalau macet gak perlu ngedumel, mau marah kaya apa juga gak akan menyelesaikan masalah jadi nikmati saja. kalau naik bis malah enak macet bisa istirahat asal dapat tempat duduk :)

waroeng coffee said... 18 March 2012 at 00:24

kemacetan dan kesemerawutan sudah menjadi hal yang biasa bagi warga kota, nah kebiasaan ini yg kadang menjadi penghalang tuk merubah suatu sistem menjadi lebih baik :)

mimi RaDiAl said... 18 March 2012 at 03:48

beruntungnya di kampung mimi ga ada macet2an, lancar jaya...kecuali bertandang ke kota jambi, udah terperangah aja liat macetnya pdhl kota kecil, jd bisa dibygkan jika dikota sebesar jkt ya bi

Nurmayanti Zain said... 18 March 2012 at 06:27

hem... sejujurnya saya juga sering nyalahin sopir angkot kalo pada macet :( sering ugal-ugalan sih..

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:37

terkadang saya pun melakukannya tapi dengan perhitungan, bukan asal nyelonong yang kemudian membuat kemacetan semakin sulit diuraikan.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:38

Ya, setiap orang punya kepentingan yang tentunya kita tidak tahu tingkatannya, tapi berusahalah untuk menghargai kepentingan masing-masing, sebab bukan tidak mungkin kepentingan mereka jauh lebih penting dari kepentingan kita.

Salam hangat kembali untuk mas Ari dan keluarga.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:39

insya Allah, Mas.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:40

semakin banyaknya jumlah kendaraan yang tidak diimbangi banyaknya para pengguna jalan yang sabar dan sadar akan hak dan kewajibannya.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:40

Insya Allah.....

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:42

Alhamdulillah...
Meski bukan ibukota dan belum termasuk kota metropolitan,tapi tempat tinggal saya di Tangerang adalah kawasan industri sehigga kepadatan penduduknya cukup tinggi, terlebih pada jam-jam pulang/berangkat kerja, kemacetan seringkali terjadi dan sulit dihindari.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:44

Ow, kemacetan juga jadi suguhan sehari-hari di jalanan Surabaya? Belum pernah kesana soalnya.
Terima kasih kembali mbak Ananda, semmoga kita bisa menjadi bagian dari pengguna jalan yang sabar dan sadar bahwa selain mempunyai hak kita juga berkewajiban untuk menjaga kelancaran, keamanan dan kenyamanan berkendara.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:48

Ya, menata ulang kebijakan angkutan umum sepertinya juga perlu dilakukan mengingat dari beberapa kasus yang terjadi ( khususnya yang saya alami sendiri ) sebagian besar adalah ulah para pengemudi angkot yang 'semaunya sendiri' contohnya mereka sengaja mangkal di depan pabrik yang karyawannya baru bubar dan tetap bertahan sebelum mobilnya penuh meskipun kemacetan yang ditimbulkan sudah semakin parah.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:51

sepakat dan sependapat dengan Bapaknya Mbak Lidya. Contoh kasus pada pengendara sepeda motor yang ngedumel, membunyikan klakson dan melipat wajahnya, tetap saja ia diam ditempat dan terlepas dari kemacetan bareng dengan saya yang meski hati agak mengkal tapi tak berselera untuk ngomel apalagi membuat orkestra jalanan dengan klakson yang cenderung menambah pusing saja.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:51

kebiasaan buruk yang 'terpelihara' :(

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:54

betul, Mi. Kemacetan di Jakarta dan Tangerang yang sering saya alami sendiri sulit diprediksi seberapa panjang dan seberapa lama akan terjadi, karenanya berangkat lebih awal adalah solusi bijak untuk bisa sampai tepat waktu di tujuan.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 12:56

Mereka adalah salah satu penyebabnya, tapi bukan satu-satunya karena sebagai pengendara motor terkadang saya melihat dengan mata kepala sendiri mereka sering tidak sabaran, memaksa masuk di celah-celah kemacetan yang justru memperparah keadaan.

NURA said... 18 March 2012 at 14:05

asalamualaikum
memang kalau mau lancar ya harus sabar tahan emosi jangan suka nyerobot di jalan.

Abi Sabila said... 18 March 2012 at 18:12

Waalaikumsalam,
betul...betul...betul!

kang riez said... 18 March 2012 at 18:31

Tahun 2015 mungkin jalanan jakarta macetnya makin parah karena kendaraan makin banyak dijalanan

Sang Cerpenis bercerita said... 19 March 2012 at 02:23

kadang sadar tapi gak sabar.itu yg sulit ya.

Niar Sri Sadono Ningrum said... 19 March 2012 at 15:24

sabar itu subur yaa abi.. huuaah senin2 gini jalanan penuh banget sesak, ndak sabar jadi na jalan, ndak bisa banget tapi harus sadar diri saling menghormati pengguna jalaan :D

Stupid monkey said... 20 March 2012 at 03:20

sabar .. sabar ... saya belajar sabar ah ... ;p

Baby Dija said... 20 March 2012 at 17:33

Dija disiplin kok...

meskipun jadi penumpang
hehhee

Baby Dija said... 20 March 2012 at 17:33

Untung Dija tinggal di desa ya Tante...
jadi gak ada macet

Baby Dija said... 20 March 2012 at 17:34

Dija juga mau belajar sabar Om...

Tiesa said... 20 March 2012 at 20:05

kalau semua pengguna jalan sabar dan disiplin ngga akan ada kemacetan mengular yang bikin hati panas, mulut nyinyir dan nambahin dosa

Indra Kusuma said... 29 March 2012 at 11:40

Sebuah etika sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Dan tidak menutup kemungkinan juga dalam etika dijalan dalam mengendarai kendaraan. Karena sebauh etika merupakan cermin dari jati diri perilaku orang tersebut.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

awalmandiri said... 17 April 2013 at 14:57

kemacetan ya.. kuncinya sabar + sadar = lancar ya.. hmm, sepertinya dapat dimaknai dalam arti yg lebih luas. alhamdulillah, pencerahan di pagi hari :)

 
Top