Alhamdulillah, kamu sudah ceria lagi.” Itu awal obrolanku dengan Fulan, kemarin siang.

“Iya, berkat nasihat ustadz Arif,” jawab Fulan. Raut mukanya bersemu merah.

“Kau curhat dengan beliau?”

“Maaf, bukan aku tak menganggap nasihatmu. Tapi hatiku baru sempurna terbuka setelah mendengar nasihat dari beliau.”

Aku mengangguk, maklum. Tentu saja, ustadz Arif adalah guru ngaji yang bijak. Maka meminta nasihat pada beliau adalah keputusan yang tepat.

“Kalau boleh aku tahu, apa nasihat beliau padamu?”

“Tidak banyak. Beliau hanya memberiku beberapa pertanyaan dan menyuruhku merenungkan jawabannya.” Fulan memperbaiki duduknya. “Dan kau boleh menjadikannya sebagai bahan tulisanmu” tambahnya.


“Hanya yang mengandung manfaat.” Aku tersenyum, menegaskan.

Fulan mengangguk, sepakat.

Apa pertanyaan dari beliau? Aku bertanya melalui tatapan mata.

Lima detik berikutnya, Fulan mulai bercerita. “Usdatz Arif memberiku pertanyaan yang sederhana, tak terpikir sebelumnya, namun sungguh telah menggugah kesadaranku. Beliau memintaku untuk merenungkan jawaban atas pertanyaan siapa orang yang bangun pertama kali di rumah? Siapa yang memasak, menyeduhkan kopi, menghidangkan sarapan pagi? Siapa yang menyiapkan pakaian kerjaku, juga seragam sekolah anak-anakku? Siapa yang membereskan bekas makanku, menyapu, mengepel, membenahi rumah dan mencuci pakaianku? Siapa yang menjaga harta dan keluarga saat aku tinggal bekerja? Siapa yang selalu siaga, merawat dan menjaga ketika anak-anak sakit?”

Sejenak Fulan menghentikan ceritanya, menelan ludah. Dan dengan takzim aku menyimak tanpa sekalipun menyela ceritanya.

“Beliau juga bertanya, siapa orang yang terakhir bergabung dengan kami di meja makan? Siapa yang terakhir menyendok nasi dan sayur di piring? Siapa yang rela berbagi dan memberikan lauknya, berhenti makan meski perutnya belum kenyang? Siapa yang dengan lembut memijit badanmu, mendengarkan keluh kesahmu? Siapa yang terakhir tidur di rumahmu? Bukankah seringnya kau lebih dulu tidur tanpa sempat berucap terima kasih padanya yang telah melayanimu dengan sepenuh cinta?” Fulan menambahkan

“Kau tahu kan semua jawabannya?” tanya Fulan padaku yang masih serius menyimak ceritanya.

“Ya!” Aku tergagap. Meski aku tak tinggal serumah dengan Fulan, tapi aku tahu siapa yang ustadz Arif maksudkan. Dan aku juga tahu, apa maksud dari semua pertanyaan itu.

Romantika berumah tangga, tak selamanya dihiasi canda dan tawa. Kadang diselingi pertengkaran yang dipicu oleh perbedaan pandangan. Hampir semua yang telah lama berumah tangga pernah mengalaminya, dengan penyebab berbeda, dan penyelesaian yang berbeda pula.

Pun dengan rumah tangga Fulan. Dua hari sebelumnya, wajah Fulan bagai terlipat. Dan itu bermula ketika pulang kerja, Fulan mendapati sang istri masih tertidur pulas di kamar, sementara kondisi rumah belum rapi dan anak-anak masih bermain di luar, belum mandi. Fulan yang memang seminggu terakhir sedang stress dengan pekerjaan di kantor, terpancing emosi. Tanpa merasa perlu bertanya, Fulan langsung memarahi istrinya. Percuma panjang lebar sang istri menjelaskan, ia agak  kurang enak badan, lelah seharian mengurusa anak, membenahi rumah yang selalu berantakan. Semua itu tak Fulan dengarkan, setan terlanjur mengendalikan hati Fulan. Astaghfirulloh!

Meski ustadz Arif memberikan pertanyaan-pertanyaan itu pada Fulan, sesungguhnya ini juga mengingatkan kita, para suami. Seringkali pertengkaran muncul akibat suami - istri kurang saling memahami. Salah satunya, seorang suami terkadang menuntut istrinya selalu sempurna, dalam hal pelayanan dan pengurusan keluarga, menganggap ringan tugas dan pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Hanya berkutat di sumur, dapur dan juga kasur. Padahal kenyataannya tidak sesederhana dan tak seringan yang dibayangkan. Tidak selalu mudah memang untuk memahami hal ini, kecuali bagi seorang yang bijak seperti ustadz Arif dalam cerita ini, atau seorang laki-laki yang karena satu hal menuntut ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Saling menghargai, saling memahami, bukan saling meremehkan, merasa diri lebih dan paling dalam setiap hal, lalu menuntut pasangannya selalu sempurna. Itu pelajaran yang kupetik dari nasihat ustadz Arif kepada Fulan. Betapapun pekerjaan seorang istri di mata suami sering terlihat ringan, sederhana, tapi sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Kita bisa merasakannya ketika istri sedang sakit atau karena satu hal penting memaksa kita mengurus rumah dan anak-anak seorang diri. Tak perlu menunggu ini terjadi, untuk bisa merasakan bagaimana tugas dan tanggung jawab seorang istri. Atau seperti sebuah pesan yang disematkan dalam sebuah guyonan yang pernah kudengar, tak perlu bertukar kelamin untuk seorang suami bisa merasakan tugas dan tanggung jawab seorang istri.

Kalau boleh aku menyimpulkan, baik suami maupun istri masing-masing mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam rumah tangga, karenanya saling menghargai, saling membantu dan mendukung adalah satu keharusan, demi terwujud keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Salam hangat untuk seluruh pengunjung Waroeng Blogger.


*gambar dipinjam dari http://baitijannahti.com

28 comments:

Tebak Ini Siapa said... 4 March 2012 at 04:04

Kasian istrinya :(
Tapi syukurlah si fulan dah sadar ^^

mimi RaDiAl said... 4 March 2012 at 05:42

tidak semua laki2 prinsipnya sama mas...:(

Fahrie Sadah said... 4 March 2012 at 08:43

Saling menghargai aja ..^^

Pemilik Restoran Suroboyo said... 4 March 2012 at 10:26

suami isteri harus sharing and caring
mantap artikelnya
salam hangat dari Surabaya

Sinna Saidah Az-Zahra said... 4 March 2012 at 14:09

ya . . . baca nie cerita jadi inagt novel cleopatra karya kang abik hehehehehe . . . tapi mantap k2 . . .

Hairun NisYa said... 4 March 2012 at 14:31

suami dan istri masing-masing mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam rumah tangga harus bisa saling menyeimbangi..hhehee **Pintar yach aku***

Stupid monkey said... 4 March 2012 at 22:06

okeh .. saya mengerti maksud Ustadz Arif :D

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:19

iya, dan kita bisa memetik pelajaran dari kejadian ini,agar tak terulang lagi seorang suami menganggap remeh pekerjaan seorang istri, juga sebaliknya.

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:20

betul! dan dari pengalaman fulan dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam rumah tangga, suami istri memiliki peranan dan tugas yang sama-sama penting.

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:21

betul, juga saling membantu, saling mendukung dan saling melengkapi.

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:23

sepakat dan sependapat, Pak Dhe. Saling berbagi tugas dan tanggung jawab, saling menjaga dan melindungi, semua demi terwujud satu tujuan,keluarga bahagia, dunia hingga akhirat.

Salam hangat untuk keluarga tercinta, semoga usaha restorannya semakin barokah, Pak Dhe. Amin.

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:25

Ya, saya juga pernah baca,tapi baru inget lagi sekarang. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam rumah tangga diperlukan saling pengertian.

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:25

Ya, betul...betul...betul!

Abi Sabila said... 5 March 2012 at 03:26

Alhamdulillah....

onesetia82 said... 5 March 2012 at 04:52

saya sangat setuju dengan cuplikan terakhir artikel ini ...
memang betul kalau sebuah keluarga antara suami dan istri selalu saling menghargai dan menyadari dengan ikhlas atas kekuarangan yang ada pada diri masing-masing Insya Allah akan keluarganya akan lebih baik ... :)
salam ...

Niar Sri Sadono Ningrum said... 5 March 2012 at 19:47

bagus abi.. :D

buat suami kelak ben bisa saling menghargai, membantu dan mendukung :D

Lidya - Mama Pascal said... 6 March 2012 at 04:50

Betul bi masing-masing mempunyai peranan yang sama penting. Suami juga tidak segan untuk membantu pekerjaan istri dirumah :)

Indra Kusuma said... 7 March 2012 at 12:07

Setiap manusia memilki peranan masing-masing beserta tanggung jawabnya.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Pakde Cholik said... 7 March 2012 at 19:13

Kalau meletakkan jangan sembarangan, entar tertukar lho

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:32

Tak ada makhluk yang sempurna, termasuk kita dan pasangan kita, karenanya saling menyadari, saling melengkapi dan mendukung untuk satu tujuan mulia, keluarga yang sakinah, mawadah,warohmah.

Salam hangat untuk keluarga tercinta.

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:34

insya Allah, jika ini bisa dijalankan maka keharmonisan rumah tangga lebih mudah dicapai dan dipertahankan.

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:36

Betul, Mbak. Tidak akan menurunkan derajat seorang suami di mata istri apabila ia mau melakukan pekerjaan rumah, bukankah Rosululloh juga tidak segan menjahit bajunya sendiri?

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:37

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini untuk mewujudkan keluarga yang selamat bahagia, dunia hingga akhirat. amin.

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:38

betul sekali Pak.
Salam hangat untuk keluarga tercinta.

Abi Sabila said... 8 March 2012 at 03:39

apanya, Pak Dhe? :)

Mas Huda said... 26 March 2013 at 21:35

semoga aku bisa memahami istriku kelak

Fannil Abror said... 7 January 2014 at 14:15

semoga gue juga :')

 
Top