Seorang Nenek dengan Cucunya

Oleh : Evi Indrawanto

Sampai kelas 5 SD saya tinggal bersama nenek. Di desa hijau di bawah kaki Bukit Barisan. Disana kehidupan bergulir seperti aliran sungai. Tenang. Hingga detik ini cuma keindahan yang saya kenang dalam dusun itu. Bukan saja karena alamnya, masyarakatnya, tapi juga dinaungi oleh  wanita tua keras hati yang kasihnya auzubillah minzalik lembutnya. Saya pikir neneklah yang membentuk karakter saya jadi seperti sekarang ini. Saya ini lebay-lebay asyik lho..Salah satu cerita tentang nenek   ada disini


Karena nenek saya baik maka jadi peka terhadap dunia pernenek-an. Kalau melihat nenek dan cucunya kenangan langsung lari pada peristiawa bertahun lalu. Bagaimana si galak itu memarahi jika saya berbuat kesalahan. Duh kalimatnya pedas! Dan bagaimana pula dia menangis diam-diam saat melihat bibir saya pecah karena jatuh dari sepeda. Nenek juga berperan sebagai bodyguard. Dia sering mendatangi rumah orang tua Amilus karena anak lelaki itu sering mem bully saya.  Sebagai basa-basi tentu saja anak itu langsung dimarahi orang tuanya di depan nenek. Akibat dendam kesumat Amilus bertambah dengan menambah intensitas bully-nya. Itu  membuat saya sering takut jalan kesekolah sendirian.


Saya pernah bertanya pada seorang nenek, sayangan mana anak atau cucu?  Si nenek termangu menerima pertanyaan gak penting itu. Tapi demi memuaskan keinginan tahuan saya dia jawab, " Lebih sayang pada cucu dong Mbak Evi "

Melihat kelakuan beberapa nenek di lingkungan saya, pernyataan nenek yang saya tanyakan itu ada benarnya. Mereka lebih sayang cucu ketimbang anak sendiri. Dulu anak-anak mereka tak langsung mendapat apa yang diminta. Disuruh cuci piring dululah, menyapu halaman, atau membersihkan rumah. Yang paling nyebelin sebelum membelikan sesuatu seperti baju atau sepatu baru sering dimintai syarat dulu. Nilai raport harus bagus!

Lah coba lihat kelakukuan nenek sekarang. Apa saja yg diminta cucu sepanjang mereka punya pasti di kasih. Gak pakai syarat-syarat segala. Bahkan kalau mereka tak punya untuk diberi, demi kebahagiaan sang cucu, mereka rela  mem-bully orang tua si cucu agar mengabulkan permintaan cucunya. Gile kan?

Bagaimana dengan nenekmu kawan?

Salam,
--Evi

23 comments:

Tiesa said... 30 May 2012 at 20:40

hmm...aku udah lupa soal Nenek dr pihak Mama, karena memang sudah lama meninggal. tapi nenek dr Papa aku masih ingat kejadian waktu SD, dr kecil aku ga pernah dpt bekal uang jajan buEv, sepertinya Nenek aku kasihan liat cucunya ini ga pernah jajan. Jadi setiap kali nenek datang ke rumah, dipastikan aku kaya raya, karena selalu dikasih uang jajan hahahaha

Ari Blogspot said... 30 May 2012 at 20:49

hehe.. kata orang sih gitu..
masih baru nikah sayangnya ke suami-istri, setelah punya anak maka beralih ke anak, setelah ada cucu maka sayangnya lebih banyak ke cucunya :D
wahh.. saya masih jauh.. blm merasakan semua, hihi... sayang istri dulu kalee ya nanti bu.. :D
salam

Nchie HAnie said... 30 May 2012 at 21:27

memang bener Mba Evi kasih sayang Nenek ke cucunya selalu lebay, dibandinginin sama anaknya.
DAn aku pernah merasakan cucu kesayangannya, karena dari bayi aku di urus dan di asuh sama Beliau sampe umurku 6 tahun..
kasih sayangnya selalu ku ingat...

Pakde Cholik said... 30 May 2012 at 21:44

Tempat bersandar Bella ya neneknya, Ipung ha ha ha ha.
Nenek saya juga sayank sama cucu2nya sehingga para cucu sudah disiapkan tanah atau rumah lho.
Kalau saya membei uang nenek 10 ribu misalnya, maka uang itu dbelikan bata atau pasir....
Kalau bulan puasa nenek suka patroli, kontrol apakah anak cucunya puasa dengan benar.
Nenek juga yang selalu mengingatkan " Sholatmu sing jejeg ", artinya tegakkan sholat.

Sayangnya ketika nenek wafat saya tak sempat menghadiri pemakamannya. Nenek berangkat ke makam ketika saya berangkat ke India untuk mengikuti pendidikan.

Nenek memank ngetop.

Salam hangat dari Surabaya

idahceris said... 30 May 2012 at 23:47

Nenek. . .

nenek idah itu, supeer dan paling supeeeer. . . ;)
kalau pertamadatang kerumah,yang ditanyakan pertama kali itu cucunya. . .
exmpke: "idah dimana, ini tak bawakan candil sama klepon. "

waaaaaah, langsung deh datang dan menyambutnya. :lol:

Bung Penho said... 31 May 2012 at 02:27

wahh, kalo nenek gue udah lama ninggalin cucu2nya. beliau udah tenang banget di surga! btw, kasih nenek gak pernah terlupakan hehehee.. dulu kalo beliau berkunjung kerumah selalu bawa'in kue buat dibagi ke gue!

applausr said... 31 May 2012 at 06:23

ya begitulah nenek nenek... mungkin itu akibat ulah anaknya yang tidak memberikan perhatian kepada mereka gara gara sibuk kerja.. jadi cucunya yang tidak ada temannya di rumah lengket sama neneknya. dan neneknya kalau mau ditemenin sama cucunya harus baik baikin cucunya dong ya...

saya belum sempat merasakan kasih sayang nenek, hanya kakek seorang saja...

Tebak Ini Siapa said... 31 May 2012 at 11:05

Hahaha, iya ya. Nenek selalu begitu.
Agak agak lebay kadang hihihi~
Dulu waktu aku kecil pun nganggepnya harus lebih sayang sama nenek ketimbang sama ibu.
Kan nenek ibuknya ibu :D

uci cigrey said... 31 May 2012 at 14:17

nenek aku nyebutnya nyai, almarhum nyai sering bikinin makanan yg enak2 :D
lebih mihak cucunya, kalau perhatian hampir sama sih. Lebih ke arah banyak pembelaan aja ke cucu2nya

Ari Blogspot said... 31 May 2012 at 16:31

tapi idah nggak pernah ngasih aku klepon? ckckck

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 19:39

Hahha..Nenek pikir, mama-papamu pelit ya Miss, gak pernah kasih uang jajan ke anaknya. Syukurlah akhirnya dia memastikan dirimu akhirnya kaya raya..Hal2 yg beginian yg gak pernah terlupa tentang Nenek..

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 19:40

Cepatan cari istri Mas Ari..Biar ibunya cepat dapat cucu, untuk menumpahkan cinta lebay kenenek-annya :)

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 19:42

Gak tahu kenapa ya Cik, nenek kok selalu bisa melihat celah untuk mengungkap sayangnya pada cucu..Entah gimana kita nanti kalau punya cucu ya..

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 20:30

Waktu Pakde berangkat ke India sementara nenek di bawa ke kuburan, perasaannya campur aduk dong ya Pakde? Tapi beliau pasti senang melihat cucunya berangkat ke negeri orang menuntut ilmu..

Dan Bella pasti jadi anak bungsu Mbah Ipung dunk ya..Kebahagiaan seorang cucu jika masih memiliki nenek dan neneknya sayang pula ;)

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 20:53

Heheeh..Nenek dan oleh-oleh satu kesatuan ya Mbak Idah

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 20:55

Kalau nenek tak tinggal bersama, biasanya jarang dapat omelan Bung Penho..Jadi pasti kenangan sama nenek yg indah2 saja ya?

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 21:01

Jadi antara cucu-nenek ada timbal baliknya ya Mas Bro..Memberi lalu menerima :)

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 21:04

Jadi karena nenek lebih tua dari ibu dan karena ibunya ibu, sayang untuknya harus double ya Un?

Evi Indrawanto said... 31 May 2012 at 21:05

Nyai itu panggilan Nenek di Sunda ya Mbak Uci..Iya nenekku juga pintar masak..Gak tahu kenapa hampir semua nenek memihak cucu ya Mbak..Mesti dicari penjelasan lebih dalam kayaknya

Abi Sabila said... 1 June 2012 at 20:14

Saat kecil saya pernah merasa bahwa Bapak tidak adil, lebih sayang kepada keponakan ( cucu ) dibanding kepada saya, anaknya. Tapi setelah dewasa saya menyadari bahwa ternyata hal seperti ini tidak hanya saya yang mengalami, dan sekarang saya bisa memaklumi.

Cendekiawan IT said... 1 June 2012 at 20:49

jadi keinget nenek ku... T_T

Fitri ana dewi said... 31 May 2013 at 20:08

Aku dari lahir sampai usia 18 tahun tinggal sama nenek, tapi januari lalu nenek pulang ke rahmatulloh.. Sepi sekarang. :'(

Zikri Fd said... 3 June 2013 at 19:04

coba baca buku "saga oo bachan (kisah nenek dari saga)" gan. disitu juga terdapat kisah kasih dari nenek kepada cucu yang juga tak kalah mengharu biru :")

 
Top